
Jantung Sheina berdebar sangat kencang saat melihat papa mertua yang tiba-tiba sudah ada di belakangnya. Wanita itu sampai memegangi dadanya yang berdebar-debar saking terkejutnya.
"Papa kenapa sih, bikin kaget aja?" tanya Sheina, berusaha mengatur napas supaya bisa tenang.
"Kamu ngapain ke kolam? Mau cari apa? Tolong ya, jangan ngidam ikan papa ya." Papa sangat menyayangi ikannya, ikan-ikan itu sudah seperti anak-anak kandung papa sendiri. Jadi, memasak mereka adalah hal yang paling menyakitkan untuk Papa.
"Pa, aku sukanya ikan yang ada di pasar atau swalayan aja, Pa. Nggak suka ikan hias. Jadi, kalau aku sendiri nggak kepikiran buat masak ikan Papa," jawab Sheina sembari tersenyum pada papa mertuanya.
Kakek satu cucu itu menghela napas lega. Apa yang ia khawatirkan selama ini, ternyata tidak akan terjadi.
"Tapi, kalau dedek bayinya. Suka ikan juga nggak, Mommy?" tanya Gabriel polos.
Papa kembali tegang, benar juga yang dikatakan Gabriel. Kalau Sheina mungkin tidak suka, tapi anaknya belum tentu, 'kan?
"Em, kalau itu, mommy nggak tau, Sayang. Ya semoga dedek bayinya sayang ikan juga kayak Gabriel sama Opa." Sheina mengulum senyum. Ia sendiri tidak sepenuhnya yakin.
"Semoga aja dia nggak ngidam pengen goreng ikan hias. Kamu pengen apa bilang Bara, suruh carikan. Jangan sampai cucu papa ileran, asal jangan ikan papa." Papa mengelus dada karena kali ini ikannya selamat.
"Iya, Pa."
Setelah mengatakannya, papa kembali ke ruang keluarga untuk menemui Bara dan pengacara keluarganya.
Sheina menemani Gabriel bermain di kolam belakang. Bocah lucu itu membawa makanan ikan yang akan diberikan untuk ikan-ikan koi opanya.
"Mommy, adik Biel kapan kelual dali pelut, Mommy?" tanya Gabriel yang tetap fokus pada ikan-ikan itu.
"Biel udah nggak sabal pengen gendong adiknya Biel." Gabriel tiba-tiba meletakkan makanan ikan itu di lantai, lalu menghambur dalam pelukan mommynya.
"Gabriel sayang sama dedek bayi?" tanya Sheina. Ia mengusap rambut Gabriel yang yang kecoklatan seperti rambut Bara.
"Sayang, Mommy. Biel pengen cepet ketemu. Mommy, Dedek bayinya nanti ganteng kayak Biel, apa cantik kayak Mommy?"
"Belum ketahuan, Sayang. Dedek bayinya masih kecil banget. Jadi, belum bisa dilihat. Nanti, kalau udah bisa dilihat, mommy ajak Kakak Biel periksa ke dokter ya. Biar Kakak Biel tau."
Senyum semringah tergambar jelas di wajah tampan Gabriel yang menggemaskan. Bocah itu rupanya sangat menyayangi adiknya. Rasa kesepian dan tidak punya teman bermain membuat Gabriel sangat merindukan sosok adiknya untuk segera lahir.
๐ธ๐ธ๐ธ
Sheina mengajak Gabriel untuk masuk, meninggalkan ikan-ikan yang memang dipelihara di kolam belakang rumah. Gabriel bernyanyi dengan lirih saat masuk ke rumah untuk bergabung dengan daddy dan oma opanya.
Raut wajah Bara nampak sangat bahagia saat menandatangani berkas-berkas yang diberikan oleh pengacara. Sheina yang penasaran pun langsung bergabung dan duduk di samping mama mertuanya.
"Ada apa, Ma?" tanya Sheina dengan suara berbisik. Ia merasa aneh karena Bara berkali-kali menatapnya sambil senyam-senyum.
"Itu loh. Papa kasih perusahaan dan beberapa aset milik kami buat Bara," jawab Mama Viona sambil menggenggam dan mengusap tangan Sheina.
Sheina mengerutkan kening. Apa ini berarti suaminya sudah menjadi orang kaya yang sebenarnya? Entah kenapa, ia malah merasa cemas mendengar itu. Ia tahu, mertuanya memiliki banyak harta, dan laki-laki yang dilimpahi harta itu, bukankah akan menjadi magnet yang bisa menarik wanita mana pun yang diinginkan?
โโโKembang Kopi banyakin. Sama yang masih punya vote, bagi ke aku dong ๐๐น๐น๐น