
Bara sudah bersiap untuk pergi ke Surabaya. Pertemuan bisnis kali ini sangat penting untuk perusahaan. Sehingga, papa tetap menyuruhnya pergi ke sana.
Bara sudah menghubungi Keyla, dan gadis itu berjanji datang sore nanti.
"Daddy, nanti Daddy pulang, 'kan? Keljanya nggak lama, 'kan?" tanya Gabriel khawatir. Ia takut jika daddynya pergi lama seperti saat sebelumnya. Karena yang Gabriel tahu, Bara dulu kerja jauh sebelum kembali menemui mereka.
"Besok daddy udah pulang kok, Gab. Di rumah jangan nakal ya, jagain Mommy sama dedek bayi juga." Bara menggendong Gabriel sebentar, mencium kedua pipi dan kening, lalu beradu kepalan tangan dan menurunkannya lagi.
Kini, saatnya Bara berpamitan dengan istrinya yang cemberut karena tidak diajak. Bukan karena Bara tidak mau, tapi Bara takut jika kandungan Sheina yang masih sangat muda itu kenapa-napa nantinya.
"Aku pergi dulu ya, Sayang. Jangan cemberut dong mukanya!" Bara menangkup wajah sang istri dengan kedua tangannya. Lalu, mencium bibir cemberut itu untuk beberapa detik.
"Ih, apa sih. Kamu nggak pamit sama dia." Sheina melirik ke bawah, lalu mengusap perutnya.
"Ya pamit dong." Bara menekuk lututnya, lalu mengusap perut Sheina yang masih datar. "Daddy pergi dulu, ya Sayang. Jangan rewel kasihan Mommy. Ada Kakak Biel juga di rumah. Daddy cuma sebentar kok, besok Daddy udah pulang. Kalau pengen apa-apa ditunda dulu ya, tunggu Daddy. Inget! Jangan nakal." Setelah mengatakan itu, Bara mencium perut Sheina cukup lama.
"Om Mondy." Suara Gabriel yang memanggil Mondy, membuat Bara mengalihkan pandangan untuk melihat rivalnya.
Laki-laki bernama Mondy itu sedang menuntun sepedanya yang kempes. Ia melongo saat melihat Bara dengan pakaian rapi sedang mencium perut Sheina. Apa mantan kekasihnya itu hamil?
"Biel. Nggak sekolah?" tanya Mondy yang kini berjalan mendekati rumah Bara.
"Nunggu Oma, Om. Daddy mau ke bandala. Jam segini sekolah Biel belum buka," jawab Gabriel.
Bara sudah memasang raut muka malas saat melihat wajah Mondy.
"Pulang sana! Bikin ibu hamil mual parfum kamu tuh!" tuduh Bara yang membuat Mondy shock.
"Ha-hamil? Ya ampun." Mondy menutup mulutnya seakan tidak percaya bahwa Sheina benar-benar hamil.
"Heh, kenapa kamu kaget sih, dia hamil ada suaminya. Kamu kaget karena nggak rela ya?" tuduh Bara lagi.
"Sayang. Udah! Aku nggak mual kok sama parfumnya Mondy. Aku malah suka, makanya aku nanya biar kamu beli juga." Sheina mengusap lengan Bara, membuat suaminya itu menoleh padanya dengan tatapan tidak percaya.
Kenapa sama parfum Mondy malah suka, sama parfum aku malah mual?
"Kamu beneran hamil? Ya ampun kalian berdua ugal-ugalan. Aku aja belum nikah, tega-teganya kalian." Mondy geleng-geleng kepala. Lagi-lagi ia kalah dari Bara.
"Apa sih?" Bara sinis menatap Mondy.
"Om Mondy, palfumnya apa? Kasihan Mommy aku mual-mual telus?" Gabriel ikut nimbrung.
"Oh, parfumnya Om Mondy itu mahal Biel. Import langsung dari Paris sana. Di sini nggak ada yang jual," jawab Mondy dengan gaya sombongnya.
"Halah, parfum kamu palingan juga minyak angin gambar keris," sahut Bara sinis.
"Enak aja kalau ngomong. Parfum asli ini. Nanti aku ambilin Shein. Tenang aja, kalau suami kamu nggak sanggup beli, aku masih punya stok kok di rumah."
☕☕Kembang sama Kopinya banyakin. Balik bab sebelumnya gaess, pastikan jempol kalian nempel di sana ya🌹🌹