
Sheina melotot pada Bara saat tahu Gabriel bangun karena ulah daddynya itu. Sementara Gabriel saat ini tengah menguap karena ia masih sangat mengantuk.
"Gab, langsung tidur ya. Udah malam." Bara bangun dari kasur dengan handuk yang terlilit di pinggangnya. Ia berjalan cepat menuju kamar mandi dan melarikan diri dari pertanyaan Gabriel.
"Mommy, kenapa mandi?" tanya Gabriel.
Sheina mengambil napas dalam lalu mendekati Gabriel yang masih sangat mengantuk.
"Mommy sama Daddy lagi gerah, Sayang. Jadinya mommy sama Daddy nggak bisa tidur kalau nggak mandi." Sheina mengusap rambut putranya yang lembut dan tidak terlalu tebal, persis seperti rambut Bara.
"Oh. Biel pikil Mommy sama Daddy habis lali-lali, ninggalin Biel sendilian," balas Gabriel.
"Nggak dong. Makanya Gabriel tidur. Kalau nggak mau tidur, nanti mommy tinggal di sini sama Daddy. Mommy mau tidur di kamar bawah aja." Sheina mengancam Gabriel supaya balita itu tidak lagi banyak bertanya.
"Jangan Mommy, Biel mau tidul kok, tapi peluk ya." Gabriel memanyunkan bibirnya, berharap Sheina mau menuruti permintaannya.
"Iya, tapi Gabriel tidur. Cepetan merem!"
Gabriel langsung memejamkan matanya. Ia sangat menurut dengan apa yang mommynya perintahkan. Sheina memeluk putranya dengan sayang. Ia sangat kagum dengan kecerdasan putranya yang belum genap empat tahun.
*
*
*
Sheina sudah selesai memasak, tapi Bara dan Gabriel belum juga bangun. Akhirnya, ibu satu anak itu menghampiri kamarnya di lantai dua. Saat masuk kamar, Sheina terperangah melihat pemandangan yang menakjubkan. Bara dan Gabriel tertidur dengan posisi yang sama. Mereka berdua seperti dua anak kembar yang berbeda postur.
"Bar, bangun sarapan yuk!"
"Gabriel, bangun yuk Sayang. Mommy masak nasi goreng kesukaan Gabriel loh. Ada udang sama sosisnya. Yuk bangun!"
Bara langsung membuka mata dan berkata, "Nasi goreng udang?"
"Iya, buruan bangun kalau nggak mau kehabisan."
"Morning kiss dulu dong!" Bara memanyunkan bibir, minta dicium.
Sheina kembali takjub, benar-benar persis seperti Gabriel. Apa karena waktu hamil dulu ia sangat membenci suaminya, makanya Gabriel sangat mirip dengan Bara.
Cup.
"Mommy, jangan cium daddy aja. Biel juga mau dikiss," protes Gabriel.
"Jangan mau Mommy, cium daddy aja!" Bara menarik lengan Sheina hingga terjatuh dalam pelukannya.
Gabriel tak terima, ia berusaha merebut perhatian mommynya. "Mommynya Biel, jangan dekat Daddy. Daddy jelek nomel selibu, Biel ganteng nomel satu, Mommy sama Biel aja."
"Bara, jangan jahil deh! Lepasin Bar," pinta Sheina yang kini masih dipeluk erat oleh Bara.
"Biarin, aku mau lihat dia sekuat apa. Aku pengen ajarin dia taekwondo," jawab Bara yang berbisik di telinga Sheina.
"Daddy jangan! Mommy Biel. Daddy lepasin!"
"Nggak mau."
"Daddy lepasin Mommy." Gabriel sudah berteriak sambil tangannya sekuat tenaga berusaha melepas pelukan Bara di tubuh Sheina.
"Daddy nakal!" Gabriel langsung menjambak rambut Bara yang membuat pria itu kesakitan dan akhirnya melepaskan tubuh Sheina.
"Aduh, sakit banget Gab. Udah ampun!"
"Gabriel, no! Nggak boleh kasar, Gab." Sheina menarik tangan Gabriel yang masih menjambak rambut Bara.
"Daddy nakal, Mommy." Gabriel akhirnya melepaskan tangannya dari rambut Bara. Ia langsung memeluk Mommynya dan menangis.
"Mommy nggak suka ya Gabriel kasar kayak gitu."
"Maaf Mommy," ucap Gabriel yang mulai terisak.
"Minta maaf sama Daddy, sekarang!" perintah Sheina yang nenyingkirkan tangan Gabriel dari perutnya.
"Maaf Daddy." Gabriel meminta maaf sambil menangis.
Bara tidak tega melihat Gabriel menangis karena dimarahi Sheina. Pria itu mengangkat tubuh Gabriel dan memeluknya. "Sayangnya daddy, jangan nangis dong."
"Kamu juga, Bar. Iseng banget sih gangguin Gabriel, bikin dia kesel aja." Sheina juga memarahi Bara yang membuat Gabriel marah dan melakukan hal yang menurut Sheina sudah termasuk kasar.
"Aku juga kena marah?"
☕☕☕