Terjerat Gairah Musuh

Terjerat Gairah Musuh
TGM Bab 53


Setelah bercerita panjang lebar tentang buaya dan kancil, Gabriel tertawa bahagia karena akhir ceritanya Kancil berhasil mengalahkan Buaya. Sementara itu, Bara merengut kesal karena Gabriel tak kunjung tidur.


"Udah sekarang Gabriel tidur, ya." Sheina mengecup kening Gabriel yang tersenyum puas.


"Daddy mau juga dong dicium, Mom." Bara mendekatkan pipinya, minta dicium Sheina.


Ibu satu anak itu menghela napas berat, lalu dengan terpaksa mencium pipi Bara. Bara dengan cepat membalas ciuman Sheina.


"Jangan tidur dulu," bisik Bara yang membuat Sheina berdebar. Secara fisik mungkin dia sudah siap melayani Bara, tapi secara mental sepertinya dia belum siap.


Bara kembali ke posisinya, sedangkan Sheina memeluk Gabriel sambil memejamkan mata. Debaran jantungnya semakin tidak teratur saat Bara ikut memeluknya. Tangan Bara mulai mengelus punggung Sheina.


Sheina berusaha memejamkan mata, tapi saat tangan Bara menelusup ke dalam bajunya, Sheina jadi membuka mata lagi. Bara melirik Gabriel yang mulai tenang, dalam hatinya sangat bahagia karena Gabriel tidak mendrama dan membuat malam indah yang sangat ditunggunya itu gagal.


Bara mulai berpindah posisi. Sheina semakin berdebar saat Bara bergerak mendekatinya.


"Kamu udah siap, 'kan? Aku nggak tahan soalnya." Bara berbisik di telinga Sheina, membuat bulu kuduk di kulit putih itu berdiri tegak.


"Gabriel belum tidur, Bar." Sheina berusaha menolak, tapi Bara tidak kehilangan akal.


Laki-laki itu menyibakkan rambut Sheina, sehingga kulit lehernya terlihat dengan jelas. "Biarin aja, kamu nikmati aja. Aku juga nikmati pelan-pelan, aku nggak akan buru-buru kayak pas bikin Gabriel dulu," bisik Bara yang tangannya semakin berani menjelajahi lekuk tubuh Sheina.


Sheina ingin menolak, tapi jika dia berisik, maka Gabriel akan bangun. Tubuhnya mulai menikmati setiap sentuhan yang Bara berikan, sampai akhirnya, Bara mencium bibirnya dengan lembut.


Puas mencicipi bibir Sheina, ciuman Bara turun ke leher, sedangkan tangannya mulai melepas kaitan b*ra Sheina yang masih terbalut baju tidur. Setelah berhasil, Bara mengangkat cup yang membungkus keindahan tubuh istrinya. Bara sudah tidak sabar sebenarnya ingin mencicipi langsung benda kenyal yang menggoda itu. Akan tetapi, ia juga masih ingin menikmati leher Sheina yang ada di depan mata.


Sheina mengerang saat Bara mengisap kuat lehernya sampai meninggalkan bekas merah kebiruan. Tepat pada saat itulah, Gabriel terbangun dan langsung membuka mata.


"Daddy makan Mommy?" teriak Gabriel yang membuat Bara dan Sheina terkejut.


Sheina sibuk membenarkan pakaiannya yang sudah sangat berantakan, apalagi br*nya sudah terlepas kaitnya.


"Gabriel kok belum tidur? Bukannya tadi udah tidur ya?" tanya Bara yang seperti dijatuhkan dari langit ke tujuh. Sakit dan pusing melandanya.


"Biel mimpi Mommy dimakan buaya, telnyata Daddy yang makan Mommy." Gabriel tiba-tiba menangis kencang.


Sheina selesai memasang pengait br*anya. Lalu, ia memangku Gabriel yang menangis.


"Mommy nggak apa-apa kok, Sayang." Sheina mengusap rambut Gabriel untuk menenangkan putranya itu.


"Biel lihat Daddy mau makan Mommy, sini Biel lihat." Gabriel langsung memeriksa leher Sheina yang terlihat jelas bekas tanda cinta Bara. "Tuh, kan, Mommy beldalah. Daddy jahat banget sih. Daddy buaya." Gabriel semakin histeris membuat Bara cengo.


"Mommy nggak apa-apa, Sayang. Tadi Daddy niupin leher Mommy yang digigit nyamuk." Sheiba berusaha menenangkan putranya dengan kebohongan.


🥀🥀🥀