Terjerat Gairah Musuh

Terjerat Gairah Musuh
TGM2 Bab 20


Parfum seharga dua ribu dolar atau setara dengan 28 juta lebih itu akhirnya resmi menjadi milik Sheina. Ibu hamil itu terlihat bahagia saat menyemprotkan parfum mahal yang dibeli dari mantannya itu ke tubuh suaminya. Ia kini memeluk Bara yang akan berangkat ke Surabaya diantarkan sopir papa.


"Mama dulu hamil manja gini nggak sih, Ma?" tanya Bara yang masih menikmati pelukan Sheina. Memang, semenjak hamil, tingkah manja Sheina sangat berbanding terbalik dengan sikapnya yang biasa.


Sebenarnya niat Bara bertanya hanya ingin pamer pada Mondy bahwa ia memiliki istri yang sangat menyayanginya, dan istrinya itu adalah mantan pacar Mondy.


"Nggak, mama dulu malah nggak mau deket-deket Papa. Benci banget kalau lihat Papa kamu," jawab Mama sembari melirik suaminya.


Bara tersenyum bangga. "Berarti aku lebih beruntung dari Papa dong. Sheina nempel terus kayak gini bikin makin cinta," balas Bara. Ekor matanya melirik Mondy yang mencebik kesal.


"Tapi, pas hamil Gabriel dulu, aku juga benci banget sama kamu," sahut Sheina yang membuat suasana hening seketika.


Semua orang tahu, bagaimana hubungan Bara dan Sheina karena adanya Gabriel. Mondy menjadi orang pertama yang tertawa mengejek Bara.


"Nggak bisa bayangin kalau waktu itu kamu udah tinggal di sini. Pasti hidupku bahagia banget lihat kamu dibenci Sheina. Pasti dia jijik lihat muka kamu," ejek Mondy yang membuat Bara mendengus kesal.


Bara ingin sekali membalas Mondy, tapi Papa keburu menepuk pundaknya. "Udahlah. Berangkat sana keburu telat nanti pesawatnya. Pokoknya kalau kali ini goal, papa akan kasih apresiasi buat kamu," kata papa yang masih menepuk pundak putranya dengan bangga.


Pria yang baru saja terkuras isi rekeningnya itu hanya bisa mengangguk patuh. Ia berharap papanya akan mengganti dengan bonus yang lumayan supaya tabungannya tidak lagi menipis. Calon anak keduanya itu benar-benar ingin menghabiskan harta Bara, padahal Bara sendiri masih mengandalkan gaji papanya.


"Bonusnya yang banyak ya, Pa. Tabunganku udah dikuras tuh sama cucu Papa. Aku nggak mau punya anak ileran, nanti kalau diajak ke acara, pasti dibilang. 'Eh, cucunya Pak Hendry Kusuma ileran. Pengen apa sih kok nggak keturutan, apa daddy dan papanya nggak sanggup beli?' kayak gitu gimana, Pa. Papa juga yang malu nanti," kata Bara berusaha meracuni pikiran papanya.


Papa berdehem, malu juga pastinya kalau sampai ada yang mengatakan seperti itu. Tidak, keluarga Kusuma tidak semiskin itu sampai tidak bisa menuruti keinginan ngidam Sheina yang fantastis.


"Ya udah aku pergi ya." Bara mengusap belakang kepala istrinya lalu melangkah ke mobil.


"Bye, Bar. Yang lama aja nggak apa-apa aku ikhlas kok." Mondy melambaikan tangan dengan cepat.


Selepas kepergian Bara, Mama Viona mengajak Sheina dan Gabriel untuk masuk. Sementara papa tertinggal bersama Mondy.


"Kamu persis papa kamu, ya. Pinter nyari keuntungan. Om tau kok itu parfum palingan seribu lima ratus dolar," cibir papa yang memang selalu tahu barang-barang mahal.


"Yah, Om. Namanya juga bisnis. Itu parfum masuk bandara pajaknya mahal juga, Om." Mondy tak mau kalah.


"Halah, pajaknya berapa, palingan nggak sampai lima ratus dolar."


"Yaelah, Om. Namanya juga pebisnis, harus pinter-pinter manfaatin situasi."


"Hem, iya deh. Susah ngomong sama anaknya Mandala." Seketika itu papa langsung nyelonong masuk meninggalkan Mondy sendirian.


🦄🦄🦄


Pokoknya kalau jempol sama koment nggak aman, aku up 1 aja deh 🙃🙃🙃


🍭🍭🍭