
Dua manusia saling berpelukan di hangatnya matahari sore. Tidak ada pakaian yang membalut tubuh mereka, hanya selimut bermotif sama dengan sprei yang mereka pakai untuk menutupnya. Suara gedoran di pintu depan, diiringi suara tangisan yang sangat familier, membangunkan pikiran Sheina.
Itu Gabriel, apa dia sudah pulang?
Sheina membuka matanya, ia terbangun dalam dekapan Bara yang tidur dengan tenang.
"Bar, Bara. Sheina. Kalian di rumah nggak sih?" teriak papa Bara yang membuat Sheina semakin berdebar.
"Mommy, Mommy, Mommy."
Suara anaknya yang menangis membuat Sheina bangun dan lebih terkejut karena ia tak memakai baju.
"Bar, bangun, Bar." Sheina menggoyangkan tubuh Bara yang hanya berdehem tanpa mau membuka mata.
"Kenapa, Sayang? Pengen lagi?" tanya Bara yang tidak tahu malu. Ia malah menarik tubuh Sheina dan menciumi lehernya.
"Bara hentikan!" Sheina merasa geli karena tangan Bara mulai aktif menjamah bukitnya.
"Bilang aja kalau mau lagi. Dia udah bangun kok, udah siap gempur lagi," kata Bara yang kini malah mengisap leher Sheina.
"Gabriel pulang! Kita nggak pakai baju, Bar." Sheina berusaha melepaskan diri dari dekapan posesif Bara.
"Apa? Jam berapa sekarang?" Bara memeriksa jam tangannya di nakas, sialnya dia lupa bahwa jam itu masih ada di dapur.
Sheina bangun dari tempat tidur dan ingin keluar, tapi Bara langsung menarik tangannya.
"Jangan keluar, bisa aja Gabriel ngintip lewat kaca jendela," cegah Bara yang dengan sigap memikirkan kemungkinan yang akan terjadi.
"Terus gimana?" tanya Sheina panik.
Bara melihat lemari di kamar itu, lalu ia berjalan ke sana dan mengambil baju.
"Untung di sini masih ada baju," kata Bara sambil memakai kaus dan celana pendek, sialnya ia tidak menemukan pakaian daalam. "Aku ambilkan baju kamu!"
Bara berjalan cepat menuju dapur. Ternyata benar, Gabriel mengintip dari kaca jendela.
"Daddy, buka pintunya!" teriak Gabriel tidak sabar.
Bara langsung memungut pakaian di dapur, dan berlari menemui Sheina.
"Ini baju kamu, Gabriel nggak sabaran banget!" Bara menyerahkan pakaian Sheina, lalu menemui Gabriel.
"Daddy cepat!" Gabriel semakin tidak sabar saat melihat daddynya lari-lari. Ia kepikiran mommynya yang sedari tadi belum muncul dan belum terdengar suaranya.
"Iya iya, sabar." Bara membuka kunci dan terlihatnya Gabriel dan opanya.
Bara mengatur napasnya yang tersengal.
"Mommy mana?" tanya Gabriel.
"Kamu kenapa sih, Bar?" tanya papa Bara.
"Nggak apa-apa, Pa. Biasa." Bara tersenyum sambil menaikkan alisnya membuat papanya mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
"Mommy, Mommy, Mommy." Gabriel memanggil mommynya tapi Sheina masih diam tidak menjawab. Gabriel berjalan ke arah tangga menuju kamar lantai dua.
"Gab, Mommy ada di kamar bawah," kata Bara yang kini berjalan masuk bersama papanya.
Gabriel berlari menuju kamar yang Bara maksud dan menggedor pintunya. Tak lama Sheina keluar sambil merapikan rambutnya yang tergerai. Ikat rambutnya masih tertinggal di dapur.
"Mommy kenapa lama?" tanya Gabriel curiga.
"Mommy baru bangun, Sayang." Sheina menggendong putranya dan berjalan ke ruang keluarga menemui suami dan mertuanya.
Gabriel memperhatikan mommynya, mata bulatnya menangkap sesuatu yang mencurigakan. Sheina mendudukan Gabriel di sofa karena ia akan ke dapur untuk membuatkan minum mertuanya.
"Sama Daddy sama Opa bentar ya, mommy bikin minum dulu," kata Sheina.
"Tunggu, Mommy!" Gabriel memeriksa leher Sheina. "Daddy jadi buaya lagi ya? Daddy gigit Mommy lagi?" Gabriel menatap tajam daddynya yang tiba-tiba cengo saat Gabriel memergokinya lagi.
☕☕☕