
Sheina menatap laki-laki yang kini memegang botol di tangannya. Botol itulah yang tadi ditendang Gabriel sampai akhirnya mengenai kepala laki-laki itu. Kenapa dia ada di tempat ini?
"Mondy. Kamu kok bisa di sini?" tanya Sheina. Saat SMA hubungan Sheina dan Mondy berlangsung cukup lama. Mereka putus saat Mondy kuliah di luar negeri, dan akhirnya mereka bertemu kembali sebelum Sheina dinodai Bara. Sayangnya, Sheina menjauhi Mondy tanpa memberi alasan yang jelas. Saat itu, Sheina merasa sangat kotor dan tidak pantas untuk Mondy.
"Aku tinggal di sini, Shein. Hai Cantika." Mondy menyapa bayi kecil yang ada di kereta dorong, bayi Zahra yang sudah lama mengenal Mondy. "Sheina temen kamu, Ra?" tanya Mondy pada Zahra.
"Dia tetangga baru Mon gimana sih masa kamu belum tau. Rumah di ujung itu, sekarang Mbak Sheina ini pemilik barunya," jawab Zahra. "Aku duluan ya, kayaknya kalian juga udah saling kenal, suamiku bentar lagi pulang." Zahra melambaikan tangan dan meninggalkan dua orang yang pernah menjalin kasih itu, tentunya bersama bocah kecil yang masih bersembunyi di belakang mommynya.
"Aku cariin kamu ke mana-mana, ternyata sekarang kamu tinggal di sini. Itu siapa di belakang kamu?" tanya Mondy sembari menggoyang-goyangkan botol di tangannya.
"Dia Gabriel, maaf ya. Ayo Gab, minta maaf sama Om!" titah Sheina sembari menarik tangan Gabriel dengan lembut.
Mondy berjongkok di depan Gabriel yang masih menyembunyikan wajahnya.
Gabriel ragu-ragu untuk menatap Mondy, tapi Sheina terus memaksanya. Saat Gabriel menunjukkan wajahnya yang lugu dengan bibir manyun dan mata berkaca-kaca, Mondy sangat terkejut.
"Kayak pernah lihat, di mana ya?" gumamnya. "Hai nama kamu siapa?" tanya Mondy.
Gabriel tidak berani bersuara, ia takut laki-laki di depannya itu akan marah karena dia sudah nakal.
"Ayo Gab, minta maaf!" ucap Sheina dengan tegas.
"Namaku Biel, Om. Biel minta maaf ya, Biel nggak sengaja." Gabriel mengulurkan tangannya untuk meminta maaf.
"Iya, Om maafin. Om namanya Mondy." Mondy dengan santai menjabat tangan kecil Gabriel. Ia lalu berdiri untuk mensejajarkan tingginya dengan Sheina. "Keponakan kamu?" tanya Mondy pada Sheina.
"Anakku," jawab Sheina.
"Apa?" Mondy tersenyum sinis. Tidak percaya jika Sheina sudah menikah dan memiliki anak. "Nggak mirip kamu, pasti kamu bercanda. Ayolah Shein, ini bukan momennya bercanda."
"Om, kata Oma. Biel milip Daddy, tapi Biel tetep anak Mommy kok. Iya, kan, Mom." Gabriel menarik tangan Sheina supaya mommynya itu mau memandangnya.
"Iya Sayang, Biel kan anak Mommy," jawab Sheina.
"Kamu beneran udah punya anak? Kok bisa sih, Shein? Terakhir kita kan hampir balikan, kamu kayak masih mengharapkan aku. Tiba-tiba kamu hilang itu kamu nikah?"
"Mommy, itu mobil Daddy!" Gabriel menunjuk mobil Bara yang berhenti di depan rumah.
Baguslah! Bara selalu datang tepat waktu.
Bara turun dari mobilnya setelah melihat anak istrinya bersama orang yang paling dibencinya.
"Daddy." Gabriel berlari dengan merentangkan tangan. Bara berjalan cepat dan menangkap putranya.
"Dia kan ... kok bisa Shein?" tanya Mondy bingung.
"Ya. Aku menikah dengan Bara."
"Bara yang suka buli kamu? Astaga, kamu jauhin aku buat nikah sama dia!" Mondy menunjuk Bara yang berjalan ke arah mereka dengan menggendong Gabriel.
"Kamu nggak perlu tau alasan kenapa aku bisa nikah sama Bara. Yang jelas aku sekarang udah jadi istri Bara," jawab Sheina.
"Sayang, ada apa ini?" tanya Bara yang langsung merangkul pundak Sheina dan mencium keningnya di hadapan Mondy.
"Kamu pasti memaksa Sheina nikah sama kamu, 'kan?"
Bara tertawa kecil. "Dia istriku, nggak penting dengan cara apa, yang jelas dia istriku, ibu dari anakku." Bara mendekatkan wajahnya pada Gabriel, memamerkan kemiripan mereka pada Mondy.
"Gab, kita pulang dulu yuk! Daddy kayaknya mau nostalgia sama Om." Sheina mengambil alih Gabriel dari gendongan Bara. Sheina menggendong Gabriel dan membawanya pulang, takut jika anaknya mendengar perdebatan Bara dan Mondy.
"Jangan bermimpi bisa mendekati Sheina," ucap Bara dengan sinis.
"Meskipun aku nggak mendekatinya, tapi kalian akan sering datang ke aku."
"Kenapa?"
"Karena aku ketua RT di sini."
☕☕☕