Terjerat Gairah Musuh

Terjerat Gairah Musuh
Me And The Boss Mafia by DHEVIS JUWITA


Promo karya teman, please kalau masih bilang ceritanya gak lanjut, coba kalau baca itu pelan-pelan biar paham ya 🙏🙏


Sambil nunggu Bara bere yang review lama terus 😭 mampir ke novel barunya Kak Upil ya gaess..


Judul: Me And The Boss Mafia


"Gwen! Gwen...," teriak Carol memanggil pelayan di rumahnya itu. Atau lebih tepatnya seorang budak karena Gwen adalah seorang pelayan tanpa digaji. Dia bekerja di keluarga Carol Watson karena harus melunasi hutang mendiang orang tuanya.


Gadis cantik bermata bulat itu segera menghentikan pekerjaannya sejenak dan berlari mendatangi Carol di ruang tamu.


"Iya, Nona." Gwen menunduk hormat pada gadis yang usianya sama dengannya itu.


"Cepat buatkan kami minum!" perintah Carol yang saat ini bersama teman prianya.


Pria itu memandangi wajah Gwen yang sangat cantik, Carol bahkan tidak ada apa-apanya dibanding Gwen.


"Dasar mata keranjang!" umpat Carol yang menyadari jika teman prianya lebih tertarik pada Gwen. Sebenarnya hal itu sudah sering terjadi. Oleh karena itu dia sangat membenci Gwen, tidak boleh ada yang menandingi kecantikannya apalagi orang itu hanyalah seorang pelayan.


"Siapa yang mata keranjang sayang?" pria itu berusaha membujuk Carol supaya tidak marah padanya. "Kau hanya wanita satu-satunya untukku!"


Gwen segera pergi meninggalkan pasangan yang bercumbu tanpa malu padanya itu. Gwen sudah biasa melihat hal itu karena Carol sering bergonta-ganti pasangan bahkan Gwen tanpa sengaja pernah melihat Carol bersenggama dengan teman-teman prianya.


"Lebih baik aku cepat membuatkan minum untuk mereka," gumam Gwen yang akan membuat teh susu.


Gwen merebus air panas secara manual karena dispenser di rumah itu kebetulan rusak dan belum diperbaiki.


Saat meracik teh susu yang dia buat, Tiba-tiba Gwen merasakan tangan kekar melingkar dipinggangnya dari belakang.


"Akh!" Gwen kaget tapi buru-buru pria yang memeluknya itu membekap mulutnya.


"Jangan berteriak, Baby!" desis pria itu ditelinga Gwen.


Pria itu membalik tubuh Gwen dan melepas tangan yang membekap mulut gadis itu. "Kau sangat cantik Gwen, bagaimana jika kau jadi simpananku saja daripada harus menjadi pelayan."


Plak!


Gwen menampar pria itu. "Aku tidak akan sudi!"


Tindakan Gwen itu membuat sang pria meradang, dia yang sebelumnya izin ke toilet pada Carol akhirnya berteriak memanggil teman kencannya itu.


"Carol!"


Carol bergegas ke dapur dan mendapati teman prianya bersama dengan Gwen.


"Kenapa kau ada di sini?" tanyanya.


"Pelayanmu ini sungguh tidak tahu diri, dia mencoba menggodaku sayang!" pria itu mengadu dan memutar balikkan fakta.


Gwen menggelengkan kepalanya kuat. "Tidak! Aku tidak melakukannya. Dia sendiri yang mendatangiku!"


Tentu saja Carol tidak akan mendengarkan perkataan Gwen. Dengan membabi buta, Carol mengambil air yang sudah mendidih di kompor dan langsung menyiram wajah Gwen memakai air panas itu.


"Akhhhhh!" teriakan panjang dari Gwen terdengar menggema di dapur itu karena wajahnya yang disiram air panas.


Gwen berjongkok merasakan panas dan perih di wajahnya.


Bukannya merasa bersalah Carol justru memaki-maki Gwen di sana.


"Dasar gadis tidak tahu diri! Beraninya mengganggu priaku, sekarang rasakan akibatnya!" ucap Carol sambil menarik teman prianya untuk mengajaknya bercinta.


Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, Gwen mencoba kembali ke kamarnya. Dia ingin menghilangkan rasa perih di wajahnya sekarang karena rasanya sangat panas, kulit wajahnya melepuh dan berdarah.


Gwen ingin ke rumah sakit tapi sepeser uang pun dia tidak punya.


"Akh! Sayang.... lebih cepat! Kau sangat hebat, Akh!" suara-suara itu terdengar ditelinga Gwen saat gadis itu melewati kamar Carol.


*****


Setelah kejadian penyiraman air panas itu, Gwen mengalami cacat wajah dan semakin menambah penderitaan yang dia alami saat ini.


Teman-teman sekolahnya yang dulu dekat dengan Gwen sekarang menjauh karena Gwen menjadi gadis buruk rupa.


Walaupun Gwen tidak digaji tapi keluarga Watson masih mau menyekolahkan gadis itu, hanya karena satu alasan. Mereka tidak ingin Gwen bodoh dan tidak mengerti apa-apa yang membuat mereka susah, hanya sebatas itu.


"Jijik banget lihat wajah Gwen yang sekarang!"


"Itu karma karena menggoda pacar orang!"


Rupanya rumor tersebar jika Gwen mengalami musibah itu karena gadis itu yang kecentilan. Padahal semua itu tidak benar.


Tentu saja Carol dalang dibalik semua itu, dia sangat senang akhirnya Gwen tidak mempunyai teman lagi.


Tahun ini adalah tahun akhir sekolah, kalau saja tidak memikirkan ujian akhir, Gwen tidak akan mau bersekolah lagi.


"Setelah lulus aku akan masuk agensi film, aku akan merintis jadi artis terkenal," ucap Carol pada teman-temannya. Dia memang terobsesi untuk menjadi seorang artis.


Sementara Gwen rasanya tidak memiliki mimpi, dia hanya ingin keluar dari kediaman keluarga Watson dan memulai hidupnya yang baru.


"Hei, kenapa kau bengong saja! Cepat kemari jelek!" teriak Carol yang seolah berkuasa atas diri Gwen selama ini.


Gwen mendekat pada Carol dan teman-temannya tapi begitu mendekat, Carol menendang perut Gwen sampai gadis itu terjatuh ke lantai.


"Jangan dekat-dekat! Wajah jelekmu itu tidak pantas dekat dengan kami!" teriaknya lagi. Carol merasa puas melihat Gwen yang menderita.


"Hahaha..." Teman-teman Carol menertawakan Gwen yang tidak berdaya. Mereka justru melempari Gwen menggunakan kertas yang sudah dibentuk bola-bola kertas.


"Jelek! Jelek! Jelek!"


Begitu kata mereka yang membuat Gwen berlari keluar kelas. Gwen sudah tidak peduli lagi, dia keluar dari sekolah dan berniat tidak akan mengikuti pelajaran hari ini.


Gwen menangis tergugu dan terus berlari sampai akhirnya dia berhenti di sebuah gedung paling tinggi di kota. Dia naik ke atap gedung itu karena ingin mengakhiri hidupnya saja.


Hidupnya sudah tidak mempunyai harapan lagi, lebih baik dia mati menyusul kedua orang tuanya.


Gwen yang sudah sampai di atap gedung, berdiri dan naik ke dinding pembatas. Dia menunduk ke bawah dan merasakan jantungnya berdegup kencang karena jaraknya yang sangat tinggi.


"Ayah ibu, sebentar lagi kita akan bertemu!" ucap Gwen penuh tekad.


Saat kakinya akan bergerak tiba-tiba dia mendengar suara yang menegur aksinya. Suara seorang pria dengan nada bass yang kental.


"Saat kau terjun ke bawah sana! Kepalamu akan hancur dan otakmu akan berceceran karena kau memilih gedung tertinggi di kota!" ucapnya.


Pria itu mendekat dan ikut naik ke dinding pembatas. Dia ikut melihat ke bawah di mana tujuan Gwen akan mati.


"Oh, ternyata aku salah! Bukan hanya kepala dan otakmu yang berceceran tapi tubuhmu pasti akan langsung tergilas mobil-mobil besar yang lalu lalang di bawah sana!" tambahnya.


Gwen memberanikan diri menatap pria itu. Pria itu bertubuh tinggi dan kekar serta mempunyai rahang yang begitu tegas, sorot matanya juga tajam. Tampak mengerikan dimata Gwen.


"Apa mati akan sesakit itu?" tanya Gwen yang akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.


"Jadi kau ingin mati dengan cara yang tidak sakit dan singkat?" tanya pria itu sambil mengeluarkan pistol dari balik jas yang dia pakai. "Aku bisa menembak kepalamu sekarang juga jadi dalam beberapa detik kau akan mati tanpa merasa kesakitan!"


to be continued


Langsung ke lapaknya Dhevis Juwita


...****************...