
Bara menggenggam tangan Sheina dan mengajaknya untuk melihat papanya sendiri. Bara merasa bersalah karena menjadi penyebab utama semua masalah ini.
Sheina sebenarnya menolak, tapi karena Bara terus meyakinkan, akhirnya ia mau melihat papanya yang terbaring itu.
"Shein. Papamu kena serangan jantung. Perusahaan sedang dalam masalah besar. Apa kamu nggak bisa bantu?" tanya mama tiri Sheina.
"Kenapa aku? Kenapa nggak minta bantuan keluarga Atmaja yang lain? Bukankah Papa selalu menjaga nama baik itu?" Sheina bertanya balik pada mamanya.
"Mama nggak tau, Shein. Sejak tadi malam tidak ada yang membantu kita. Tolong bilang sama papanya Bara untuk mengembalikan keadaan," mohon mama yang sedari tadi mengusap air matanya dengan tisu.
"Maaf Ma, itu urusan Papa sendiri, bukan urusanku."
"Shein. Shein." Papa Sheina memanggil nama Sheina.
Sheina hanya melirik, tanpa berniat mendekat. Akan tetapi, Bara yang berada di dekat Sheina, mencoba membuat wanita itu mendekat, mendengarkan apa yang ingin papanya sampaikan.
"Shein, ma-afin pa-pa." Suara Papa Sheina terbata-bata, menahan sakit dan sesal di dadanya. Menyesal karena telah mengabaikan putri kandungnya yang hanya menjadi korban. Putri yang diam-diam ia perhatikan dari jauh. Memang ego mengalahkan segalanya. Rasa rindu dan kasih sayangnya bahkan terkalahkan oleh ego dan harga dirinya. Meski papa masih mengamati putrinya dari jauh, tetap saja yang dilakukannya sangat salah.
"Sheina maafin Papa, tapi Sheina tetep kecewa sama Papa." Sheina masih merasakan sakit hatinya, meski ia sudah berusaha memaafkan.
"Ma-kasih, Shein. pa-pa pu-nya satu per-min-taan." Papa sangat sulit mengucap, tapi ia tidak mau melepas kesempatan karena belum tentu Sheina mau datang lagi.
"Kalau Papa minta bantuan soal perusahaan, maaf aku nggak bisa, Pa." Sheina langsung menolak, padahal ia bellum tahu apa yang ingin papanya katakan.
Papa menggeleng. Bukan itu yang mengganjal di hatinya saat itu. Papa seolah tidak peduli pada nasib perusahaan sekarang, begitu papa ingat ada sesuatu yang belu ia jalankan selama hidupnya.
Bara memegangi pundak Sheina menyalurkan kekuatannya pada Sheina yang merasakan sakit di dadanya. Meski ia membenci papanya saat ini, tapi ia juga belum rela jika papaya meninggal secepat ini saat hubungan mereka tidak baik-baik saja.
"Kenapa Papa pergi? Aku bahkan masih marah sama Papa. Papa nggak boleh seenaknya pergi gitu aja," ucap Sheina yang kini mulai menangis.
Papa meraih tangan Sheina, lalu meraih tangan Bara. "Ka-bulkan ke-i-nginan ter-akhir pa-pa."
Shein semakin menangis. Bara bingung harus melakukan apa. Dia memang mencintai Sheina dan ingin menikahinya, tapi bukan dalam keadaan seperti ini.
"Shein, gimana?" tanya Bara bingung.
"Shein, mungkin itu permintaan terakhir papamu. Turuti saja kalau memang kamu mau menikah dengan papanya Gabriel." Mama tiri Sheina ikut memberikan pendapatnya.
Sheina akhirnya mengangguk. Bara langsung menghubungi orang tuanya dan mengabarkan apa yang terjadi.
***
Pernikahan dadakan antara Sheina dan Bara akhirnya harus terjadi. Dengan mahar seratus juta seperti yang Bara katakan tadi pagi, ia akhirnya mengucapkan ijab kabul yang disaksikan langsung oleh papa Sheina. Meski tidak bisa mengucapkan langsung kalimat ijab untuk Sheina, setidaknya papa bisa mendengar dan menyaksikan pernikahan putrinya.
Kekuatan uang dan nama besar memang sangat berpengaruh dan menguntungkan. Untung saja Papa Bara memiliki koneksi dan uang sehingga pernikahan itu bisa terjadi hanya dalam beberapa jam persiapan. Pernikahan yang sangat sederhana tapi penuh keharuan.
"Pa-pa se-nang kare-na kamu sudah me-nikah. Papa bi-sa pergi dengan te-nang." Papa memejamkan mata. Sheina pun menangis dan memeluk papanya. Meski rasa sakit itu masih ada, Sheina sebenarnya belum siap kehilangan papa yang sangat disayanginya.
🥀🥀🥀