
"Papa, jangan pergi! Jangan tinggalin aku. Aku sayang banget sama Papa." Sheina terus menangis sambil memeluk erat tubuh papanya yang terbaring. Wanita yang baru saja menjadi seorang istri itu terus tersedu. Ia memang marah, tapi bukan berarti ia siap kehilangan papanya.
Bara terkejut dengan apa yang sedang dilakukan Sheina. Laki-laki yang baru saja menikahi pujaan hatinya itu langsung memencet tombol bel untuk memanggil dokter.
Semua orang tentu saja panik. Begitu pun dengan Keyla dan ibunya. Papa Bara meminta segelintir orang yang menjadi saksi pernikahan Bara dan Sheina untuk pulang.
Tidak lama, dokter datang untuk memeriksa keadaan Pak Yudha. Bara mengajak Sheina untuk menunggu di luar. Ia memeluk Sheina yang masih sangat syok.
"Bar, Papa."
"Papa pasti baik-baik saja, Shein. Kita doakan semoga dokter bisa menyelamatkan Papa."
Sheina menangis dalam pelukan Bara yang kini menjadi suaminya. Gabriel tidak tega melihat ibunya menangis, ia mendekat dan ikut memeluk Sheina.
"Mommy. Jangan nangis, Biel sedih lihat Mommy nangis," kata Gabriel sembari menepuk pundak Sheina, berusaha menenangkan wanita itu dari kesedihannya.
Sheina membalas pelukan Gabriel yang bahkan belum pernah bermain dengan kakeknya.
"Gabriel pulang dulu aja ya, sama Oma," kata Bara yang juga kasihan pada putranya. Tidak seharusnya Gabriel melihat mommynya menangis.
"Biel mau temenin Mommy."
Mama Viona mendekat, lalu membujuk Gabriel agar mau pulang.
"Gabriel pulang aja ya. Mommy nggak apa-apa kok, nanti mommy pulang. Biel harus makan, mandi dan ganteng."
"Mommy pulang benelan?" tanya Gabriel.
"Iya, Sayang. Mommy nanti pulang. Biel pulang dulu ya."
Gabriel mengangguk. Anak kecil itu tidak mau membuat mommynya marah karena membantah. Sheina mencium Gabriel sebelum akhirnya pulang bersama mertuanya.
Dokter behasil menyelamatkan jantung Papa Yudha, dan saat ini Papa Yudha harus dipasang alat untuk mendeteksi jantungnya. Dokter bilang, mungkin akan butuh waktu yang lama untuk mengembalikan kesadarannya.
*
*
*
"Shein, kamu pulang aja dulu nggak apa-apa. Kasihan Gabriel," kata Keyla.
"Tapi Key, Papa ...."
"Iya, aku tau. Besok kamu ke sini lagi aja, kita bisa gantian jagain Papa. Kalau ada apa-apa nanti aku kabari."
Sheina mengangguk. Ia berpamitan pada papanya, lalu pulang bersama Bara.
Sampai di rumah, Gabriel langsung memeluk mommynya. Sheina menggendong Gabriel yang sampai berlari untuk memeluknya.
"Kamu sama Gabriel ke atas dulu aja, Shein. Aku mau ngobrol sebentar sama Papa Mama," kata Bara.
"Ya udah aku mandi dulu kalau gitu."
Bara mengusap kepala Sheina sebelum istrinya itu naik tangga bersama Gabriel.
"Mommy. Opa kenapa?" tanya gabriel yang berjalan sambil berpegangan tangan bersama Sheina.
"Opa sakit, Sayang. Besok kita jengukin Opa ya."
"Iya, Mommy. Biel mau kok."
Sesampainya di kamar, Sheina langsung mandi dan mengganti pakaian, sedangkan Gabriel menunggunya dengan bermain game di ponsel Sheina.
Saat Sheina keluar kamar mandi dengan rambut yang tergerai, Bara baru saja masuk ke kamar mereka. Sheina benar-benar canggung sekarang. Pasalnya, baru saja tadi pagi mereka berdebat, tiba-tiba sekarang mereka sudah menjadi suami istri.
Bara berjalan menghampiri Sheina. Jantung Sheina berdebar tidak karuan saat aroma tubuh Bara semakin tercium dengan jelas.
Bara tiba-tiba memeluknya dan mencium puncak kepalanya. "Aku sudah memberikan mahar seratus juta di depan saksi, 'kan? Apa malam ini kamu masih nggak mau lepasin celanaku?"
Sheina melotot pada Bara. Ia tidak menyangka jika Bara akan mengatakan hal itu. Secepat inikah mereka akan mengulang malam itu? Bukankah Bara sudah sah menjadi suaminya?
"Daddy jangan bikin Mommy malah ya." ucap Gabriel yang sedari tadi memperhatikan ekspresi Sheina.
🥀🥀🥀