
Bara sudah dua kali mengguyur tubuhnya dengan air dan menghapus aroma wangi parfumnya dengan sabun dan sampo. Namun, setelah mandi yang kedua kalinya, baru Sheina tidak mual lagi. Ini sudah mandi yang ketiga kalinya bagi Bara di pagi ini.
"Beneran, ini udah nggak bau parfum?" tanya Bara yang masih melilitkan handuk di pinggangnya.
Sheina memeluk tubuh Bara yang dingin, lalu mengendus-endus bagian ketek Bara yang membuat suaminya itu geleng-geleng kepala.
"Masih mending ini sih, nggak bau parfum. Tapi, sebenarnya aku suka sama bau ketek yang tadi sebelum mandi." Sheina mendongak, masih dalam posisi memeluk Bara.
"Kalau nggak pakai parfum, malu dong, Sayang. Masa nanti mimpin rapat aku bau sih?" tanya Bara yang merasa gemas lalu mencium hidung Sheina.
"Ya pakai parfumnya pas udah di kantor aja. Tapi awas kalau pulang masih bau parfumnya!" ancam Sheina sembari memanyunkan bibirnya.
Bara terkekeh geli, tingkah Sheina ini sangat berbeda dari biasanya. Lebih menggemaskan karena tingkah manjanya itu.
"Iya, Ibu Negara."
"Pakai baju sana!" Sheina melepaskan pelukannya. Ia duduk di kasur menunggu suaminya berganti pakaian.
Tidak lama, Bara selesai dengan pakaian kerja yang lain, pastinya tanpa parfum. Setelahnya, mereka ke bawah menunggu Mama dan Bi Surti datang.
Sheina terus menempel dan memeluk erat Bara. Kalau saja Bara tidak ingat untuk mengurangi frekuensi bercintanya mungkin sekarang ia akan membawa Sheina ke kamar lagi dan berkeringat bersama.
"Besok kan aku harus ke Surabaya, kamu di rumah sama Bi Surti nggak apa-apa, 'kan?" tanya Bara sembari mengelus rambut Sheina.
Mereka sedang di ruang tengah saat ini, menunggu mama sambil menonton TV.
"Besok?! Kok cepet banget?" Sheina bangun dan menatap Bara. Sepertinya ia tidak rela ditinggalkan suaminya itu.
"Aku udah bilang dari minggu lalu, 'kan? Kamu lupa ya?"
Sheina mengingat-ingat ulang. Memang benar, Bara sudah mengatakan akan ke luar kota selama sehari, tapi Sheina baru ingat jika hari itu adalah esok.
"Lusa sore udah pulang, Sayang. Nanti aku suruh Keyla ke sini deh, semoga dia pas nggak ada jadwal, oke!" Bara menangkup kedua pipi Sheina. Ia merasa tidak tega saat melihat wajah sedih istrinya itu.
Bara menghela napas. Ternyata sulit sekali menghadapi istri yang hamil.
"Nanti aku belikan bunga lagi ya, pulang kerja. Kamu masih suka aroma bunga kan, meskipun nggak suka parfumku?" Bara memeluk Sheina dari belakang, dan perlahan menyibakkan rambut Sheina. Lalu, ia menyesap leher istrinya itu.
Sheina yang merasa geli kenikmatan, hanya bisa memegangi kepala Bara, berusaha mere.mas rambut itu meski sulit.
Tiba-tiba Mama Viona sudah berdiri di depan anak dan menantunya yang tengah bermesraan.
"Ya ampun Bara, kenapa di sini sih?" tanya Mama Viona yang baru masuk dan malah disuguhi pemandangan yang menggelikan.
"Mama!? Kok Mama tiba-tiba masuk?" Bara balik bertanya.
"Pintunya terbuka, mama sama Bi Surti juga ngobrol masa kamu nggak denger, aneh!"
"Kalau udah berduaan kan yang lain ngontrak, Ma. Nggak sadar kalau Mama udah sampai." Bara garuk-garuk kepala. Sementara Sheina hanya bisa menunduk untuk menyembunyikan rasa malunya.
"Udah sana berangkat! Kata Papa besok harus berhasil, jangan sampai gagal."
Bara menghela napas. "Iya, itu Ibu Hamil mulai rewel entah bisa ditinggal apa nggak." Bara melirik istrinya yang kembali cemberut, tidak canggung meski ada nertuanya.
"Ya udah, baik-baik di rumah ya. Sama Bi Surti. Aku kerja dulu, jangan kangen." Bara meraih jasnya yang tersampir di sofa, lalu memeluk Sheina sebelum berangkat kerja.
Sheina menangis dalam pelukan itu karena merasa sangat sedih. "Ikut ya!" ucapnya sambil memanyunkan bibir.
🦄🦄🦄
Jangan lupa jempol dan komennya banyakin gaess..
🍭🍭🍭