
Sheina terus mengalami muntah-muntah. Mama yang khawatir akhirnya menelepon dokter untuk meminta obat perda mual. Usai diperiksa dan mendapat obat, Sheina sudah bisa tenang. Ia mulai bisa makan dan tidur tanpa merasakan mual yang berlebihan.
Sore harinya, mama dan papa mertuanya pulang karena Keyla sudah datang untuk menemani Sheina dan Gabriel. Meskipun di rumah juga ada Bi Surti, tapi Bara tetap meminta Keyla untuk datang.
"Shein, aku ke rumah Selvy bentar ya. Mau pinjem sepatu," ucap Keyla yang baru saja datang.
"Rumah Selvy. Aku ikut dong. Sekalian pengen jalan-jalan," pinta Sheina.
"Biel juga ikut, Onty!"
"Oke, cus kalau gitu!"
Sheina dan Keyla ke rumah Selvy yang bersebelahan langsung dengan rumah Mondy. Memasuki rumah yang baru ditempati itu, mata Sheina langsung tertuju pada pohon mangga yang cukup besar di depan rumah Selvy.
"Ini mangga ada yang muda nggak?" tanya Sheina yang tiba-tiba ingin merasakan mangga muda. Namanya wanita hamil, apa saja yang dilihatnya selagi bisa dimakan, pasti diinginkannya.
Selvy mengerutkan kening, ia memang belum tahu kalau Sheina sedang hamil.
"Kayak lagi ngidam aja. Ada tuh kayaknya, tapi nggak ada galahnya."
Sheina senyum-senyum, tapi Keyla langsung menyahut, "Dia emang lagi hamil, ngidam kayaknya. Mana lakinya nggak ada. Gimana dong?"
"Aduh. Jangan sampai ileran. Mana sopir aku juga lagi pergi benerin mobil. Gimana ya?" Selvy ikut bingung.
"Panggil Om Mondy aja, Onty. Om Mondy udah pulang kok. Tadi Biel lihat mobilnya Om Mondy masuk galasi." Gabriel yang sedang bermain mobil-mobilan itu ikut menyahut.
"Em, boleh tuh. Aku kayaknya ngidam beneran deh, pengen banget makan mangga dikasih garem gitu." Sheina sudah membayangkan rasa mangga muda yang tiba-tiba ia idam-idamkan. Kalau ada Bara atau mertuanya, mungkin ia akan merengek minta dipetikkan.
"Ya udah kamu minta tolong aja, Key. Kan dia suka sama kamu tuh. Kasihan daripada keponakan kamu ileran nanti," komentar Selvy.
Dalam hitungan menit, Mondy sudah sampai dengan masih mengenakan setelan jasnya. Ia cengar-cengir karena Keyla memintanya datang. Ia pikir pada akhirnya Keyla membutuhkannya dan sebentar lagi mungkin akan menerima cintanya.
"Ada apa Key? Kangen ya? Aku langsung meluncur ke sini pas kamu telefon. Aku khawatir kalau aku telat datang kamu malah minta bantuan orang lain." Mondy menyentuhkan pundaknya pada pundak Keyla.
"Em, itu. Sheina ngidam pengen mangga muda." Keyla mendongak, menatap pohon mangga yang cukup tinggi.
Seketika raut muka Mondy pun berubah. "Kan bisa beli." Perasaannya mendadak tidak enak saat Keyla menatapnya memohon.
"Aku pengennya mangga itu Mon, yang dipetik langsung. Tolong ya, Mon. Kamu nggak kasihan kalau nanti anak aku ileran? Sebagai orang yang pernah bikin kamu bahagia, masa kamu nggak mau nolongin aku?" Sheina menundukkan kepala memasang raut wajah memelas yang membuat siapa pun tidak tega melihatnya, apalagi ia berkata sambil mengusap-usap perutnya yang masih rata.
"Tolonginlah Mon, kamu kan Pak RT di sini!" kata Selvy yang membuat Mondy semakin terpojok.
"Ya udah, tapi ada galahnya, 'kan?" tanya Mondy yang tidak ingin Keyla menilainya sebagai laki-laki tidak berperasaan.
"Nah itu dia, Mon. Galahnya nggak ada. Kamu bisa manjat, 'kan?" tanya Keyla smbil memegang pundak Mondy.
"Apa? Manjat?"
☕☕☕
Penasaran nggak, Mondy bisa manjat apa nggak?
Kalau komen sama Like nya banyak, nanti aku tambah. Tunggu 1500 like dan 100 komen kalau tembus wkkkkk
🌹🌹🌹