
Usai mengembalikan ikan gurami berukuran besar itu ke kolam, Gabriel dan kakeknya duduk berjongkok mengawasi ikan-ikan yang bergerak bebas. Sang kakek menatap cucunya yang sangat mirip dengan Bara. Bedanya, Gabriel lebih tertarik dengan ikan, sama sepertinya, sedangkan Bara sama sekali tidak tertarik dengan binatang itu.
"Pa, Gabriel lucu banget ya," kata Mama Viona yang kini duduk di sebelah suaminya.
Papa Bara hanya diam, Tidak mau menanggapi omongan istrinya. Papa lebih suka mengamati Gabriel diam-diam, Bocah tampan berkulit putih itu memang sangat lucu dan menggemaskan. Papa seperti melihat masa kecil Bara.
Mama Viona tersenyum bahagia karena melihat papanya Bara yang tersenyum sambil menatap cucunya. Meski papa tidak mengatakannya secara langsung, tapi mama tahu bahwa papa sudah menerima Gabriel.
Nenek Bara baru pulang dari rumah senam, tiba-tiba muncul dan langsung heboh saat melihat Gabriel. "Cucunya nenek udah datang, aduh gantengnya." Nenek langsung menciumi pipi gabriel yang bulat menggemaskan
"Nenek jangan belisik, ikannya Biel nanti pusing telus mati." Gabriel menyuruh nenek buyutnya untuk tutup mulut, bocah itu menempelkan jari telunjuknya ke bibir.
"Ikannya Biel yang mana?" tanya nenek.
"Yang itu, Nenek. Mommy mau goleng ikannya Biel. Jadi, Biel titip dulu di sini." Gabriel kembali fokus menatap ikan-ikan di kolam.
"Biel suka ikan? Sama dong kayak Opa." Nenek melirik putranya yang juga sangat menyukai ikan. Banyak sekali ikan yang dipelihara di rumah ini.
"Iya." Gabriel tetap fokus pada ikannya.
"Tapi, ikan ini ikan biasa, Biel. Ada ikan yang lebih bagus lagi," kata nenek mencoba menarik perhatian Gabriel.
"Oh ya, ikan apa?" Gabriel mulai tertarik, sedangkan papa Bara mulai khawatir.
"Jangan ikan koiku, Bu." Papa Bara berdiri dan mendekati Gabriel. "Ikut opa, kita beli ikan yang bagus!" Papa Bara menggendong Gabriel yang belum sempat menjawab.
"Bu, kayaknya papanya Bara udah mulai luluh," bisik Mama Viona.
"Iya, tinggal si Bara naklukin hati mamanya, dan mereka menjadi keluarga yang utuh."
"Iya, Bu. Semoga aja."
*
*
*
Sheina tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti permainan Bara kali ini. Sedari tadi ia hanya bermain ponsel dan melamun. Sesekali ia harus membuang muka karena Bara tiba-tiba tersenyum lebar sambil memiringkan kepalanya.
Kenapa aku terjebak sama orang kayak dia sih? Apa orang ini yang akan menjadi suamiku nanti? Seumur hidup menemani makhluk aneh seperti Bara?
Sheina berjalan ke meja Bara. Ia lalu duduk tepat di hadapan Bara yang masih serius dengan pekerjaannya. "Bar. Aku bosen. Kamu nggak ada niat gitu ngasih aku kerjaan apa?" tanya Sheina yang mulai kesal dan bosan.
Bara melepas kacamatanya, lalu mengembuskan napas berat.
"Aku tu pengennya kamu nggak usah kerja, Shein. Aku lihatin kamu aja itu udah moodbooster banget buat aku, dan itu susah loh. Cuma kamu yang bisa," kata Bara yang masih saja melancarkan gombalannya.
"Ya udah deh, aku pulang! Mending aku cari lowongan kerja di tempat lain, yang lebih jelas apa kerjaanya." Sheina berdiri. Rasanya ia sudah sangat kesal dengan sikap Bara yang seenaknya itu.
"Jangan jangan, oke aku kasih kerjaan. Ini kamu cek laporan ini samain sama komputernya." Bara mengarahkan Sheina untuk mendekat padanya.
Sheina terpaksa duduk di kursi tempat Bara. Ia mulai mengerjakan apa yang Bara perintahkan tadi. Bara tersenyum lega, setidaknya Sheina tidak pergi dari ruangannya. Sekarang ia harus berpikir, pekerjaan apa yang cocok untuk Sheina, yang bisa menahan wanita itu tetap di ruangannya.
Beberapa jam berlalu, tiba-tiba papa Bara masuk ke ruangan Bara dengan sangat bersemangat. Akan tetapi, saat melihat Sheina duduk di kursi Bara, ekspresi wajahnya pun berubah.
"Kalian sedang apa? Kamu punya asisten pribadi, Bar?"
🥀🥀🥀