
"Kamu pasti benci banget ya sama aku." Bara menangkup wajah Sheina, membuat gerakan tangan istrinya yang sedang menuang air ke dalam gelas itu terhenti.
"Kamu nggak tau gimana posisi aku saat itu, Bar."
Bara langsung memeluk Sheina. Ia sangat mengerti perasaan Sheina saat itu. Itu semua bukan salah Sheina. Kalau saja ia langsung bertanggung jawab, Sheina pasti tidak akan se-menderita itu.
Bara sangat beruntung karena Sheina akhirnya mempertahankan Gabriel. Kalau tidak, mungkin saat ini Sheina akan semakin jauh dari jangkauannya.
"Makasih Shein. Makasih karena kamu udah melahirkan Gabriel. Makasih karena akhirnya kamu bisa nerima aku."
"Bar, walaupun aku nerima kamu. Tapi aku belum bisa mencintai kamu." Sheina berusaha melepaskan tubuhnya dari pelukan Bara.
"Nggak apa-apa Shein. Walaupun seumur hidup, kamu nggak mencintai aku. Asal kamu bisa bahagia sama aku, aku rela Shein."
Sheina tersentuh. Sebenarnya sudah ada rasa cinta di hatinya untuk Bara, tapi karena rasa kecewa dan bencinya, Sheina belum bisa menyadari perasaannya pada Bara.
"Ehem." Keyla berdehem, membuat pelukan Bara di tubuh Sheina terlepas. "Romantis banget. Cie udah bisa nerima musuh nih, eh maksud aku daddynya Biel," ejek Keyla yang ikut bahagia melihat kedekatan Sheina dan Bara.
Keyla bersyukur karena Sheina bisa membuka hatinya untuk laki-laki yang menodainya. Hati Sheina memang seluas samudra, demi Gabriel wanita itu berusaha menekan perasaannya.
"Apa sih, Key. Gabriel mana?" tanya Sheina sembari menyerahkan gelas berisi es sirup itu pada Keyla.
Keyla menenggak minuman yang terasa segar di tenggorokannya. "Lagi main hp. Kamu nggak pengen nengok Papa. Papa udah lebih sehat sekarang. Ya, walaupun kehidupan udah nggak kayak dulu."
"Nggak kayak dulu gimana?" tanya Bara penasaran.
Sheina sudah tahu dan sudah menduga apa yang sedang Keyla katakan, tapi Bara yang tidak paham itu tetap saja penasaran.
"Ya, Mama terpaksa menjual beberapa perhiasan dan juga mobil Papa untuk menutupi hutang-hutang perusahaan."
"Papa bangkrut?" tanya Sheina.
"Ya, begitulah. Papa menjual semua asetnya dan mempertahankan rumah kita, karena kata Papa, rumah itu dirancang langsung sama mama kamu." Keyla ragu saat mengatakan tentang mama Sheina, tapi kenyataannya memang Sheina tidak pernah menyukai mamanya.
Keyla menghirup napas dalam, sebelum membuangnya dengan kasar. Sheina memang selalu begitu setiap membahas ibunya.
Bara melihat ada tidak beres dari gelagat istrinya. Ia ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi antara Sheina dan orang tuanya.
"Gab, udah main hpnya, mommy nggak suka Gabriel main hp lama-lama," ucap Sheina saat menghampiri Gabriel.
"Bentar, Mommy. Biel lagi selu banget nih." Gabriel tetap fokus pada ponsel milik Keyla yang dipinjamnya.
"Gabriel. Udah! Kasih hpnya ke Onty Key." Sheina tidak langsung merebut ponsel itu, tapi ia membiarkan Gabriel sendiri yang mengembalikan ponsel milik Keyla.
"Iya, Mommy. Onty, makasih." Gabriel menyerahkan ponsel Keyla dan tantenya itu menerima dengan senyum.
"Gab, mau main sama daddy? Kita ambil mobil remot kamu, yuk!" ajak Bara untuk menghibur Gabriel.
"Ayo, Dad. Main depan lumah ya." Gabriel kembali bersemangat dan lupa dengan kesedihannya yang harus berhenti bermain game di ponsel.
Gabriel dan Bara menuju kamar Gabriel, lalu mereka bermain di halaman depan rumah Bara yang cukup luas.
"Bara hot daddy banget ya," kata Keyla setelah melihat Bara dan Gabriel keluar.
Iya sih, Bara sayang banget sama Gabriel. Tulusnya ayah kandung memang beda sama tulusnya laki-laki lain. Sheina membatin sambil tersenyum, padahal laki-laki yang sedang dipikirkannya itu sudah sangat mengharapkan cintanya.
"Shein, kamu menjalankan kewajiban kamu sebagai istri, 'kan?" tanya Keyla penasaran.
"Kepo deh," jawab Sheina malu-malu.
"Jangan-jangan bentar lagi ada adiknya Gabriel. Sekali aja langsung jadi, apalagi kalau berkali-kali. Iya kan?" Keyla memainkan alisnya naik turun untuk menggoda Sheina.
Ritualnya Jangan lupa.
☕☕☕