Terjerat Gairah Musuh

Terjerat Gairah Musuh
TGM2 Bab 2


Bara dan Gabriel sudah siap untuk berangkat. Sheina tidak mengantarkan Gabriel ke sekolah, karena bocah itu sudah bisa ditinggal dan Sheina ingin agar Gabriel mandiri. Sheina hanya mengantar sampai ke depan rumah.


Mondy yang juga berangkat kerja melihat Bara dan anak istrinya. Ia menghentikan mobilnya di seberang rumah Bara. Lalu, Mondy menurunkan kaca mobilnya.


"Shein. Ajakin Keyla main dong, udah lama nih nggak lihat dia kan jadi kangen," ucap Mondy tanpa rasa canggung. Selalu saja blak-blakan dengan apa yang ingin diucapkannya.


Bara yang tadinya akan masuk mobil, mengurungkan niatnya. Ia membanting pintu mobil sampai membuat Sheina yang baru menuntun Gabriel ke mobil ikut terlonjak, kaget.


"Keyla itu nggak akan mau sama kamu," ejek Bara dengan nada tegas. Kesal dengan Mondy yang tidak ada bosan-bosannya mengganggu keluarganya.


"Yaelah, Bar. Jangan gitulah, aku, kan, juga pengen bahagia, pengen cepet-cepet kasih sepupu buat Gabriel," balas Mondy tak mau kalah. Ia kembali menutup kaca jendela mobilnya, lalu mengemudikannya dengan cepat.


"Huft." Bara menahan deru napasnya yang memburu menahan kesal. Pagi-pagi sudah dibuat emosi sama musuh bebuyutannya itu.


Sheina menghampiri suaminya, menepuk pundaknya dan berkata, "Udah, sana berangkat! Gabriel nanti telat."


Bara menahan emosinya. "Aku nggak mau punya ipar kayak dia," keluhnya yang masih tidak rela jika Keyla sampai berjodoh dengan Mondy.


"Nggak boleh gitu, nanti kalau tiba-tiba dia yang jadi jodohnya Keyla, gimana?" Sheina meraih tangan Bara, lalu mencium penuh khidmat tangan yang menjadi jalannya mendapatkan ridho Tuhan.


"Ya pokoknya jangan sampai. Nanti aku ngomong sama Gery. AKu pergi ya, Sayang. Hati-hati di rumah. Nanti siang masakin makanan yang paling enak." Bara mengecup kening Sheina sebelum akhirnya ia masuk ke mobilnya.


*


*


*


Bara sedang fokus dengan pekerjaannya. Papa benar-benar mengawasinya cara kerjanya dengan ketat. Papa memang belum bisa mempercayakan perusahaan langsung pada Bara. Papa pikir, Bara masih terlalu kekanak-kanakan walau ia sudah berkeluarga.


"Ini kopinya, Pak. Gulanya satu sendok, 'kan?" Karin menaruh cangkir keramik berisi kopi panas itu di meja Bara.


"Hem, makasih." Bara masih fokus dengan layar komputernya. "Suruh Gery ke sini, penting!" perintah Bara yang langsung diiyakan oleh Karin.


Karin lalu keluar dari ruangan Bara, tak lama Gery pun masuk.


"Ada apa?" tanya Gery, malas.


Bara menatap Gery dan sejenak mengabaikan pekerjaannya. "Gimana hubungan kamu sama Keyla?" tanya Bara penasaran.


Bertemu dengan Mondy tadi pagi membuat Bara ketar-ketir, takut jika Mondy benar-benar menjadi adik iparnya. Pasti akan mempengaruhi hubungan Sheina dan Keyla, pikir Bara.


"Keyla itu nggak bisa diajak serius. Dia terlalu berambisi jadi artis," jawab Gery. Mengingat hubungannya dengan Keyla, Gery lebih suka menjalani saja.


"Tapi kamu suka sama Keyla, 'kan? Aku nggak rela kalau Mondy jadi iparku." Bara menyeruput kopi buatan Karin, dahinya berkerut merasakan sesuatu yang tidak ia sukai. Lagi-lagi tidak ada yang bisa membuatkannya kopi seperti Sheina. Sedang apakah istrinya itu? Ah, baru berpisah sebentar saja, Bara sudah merindukan Sheina.


"Sebenarnya, aku sama Keyla itu cuma sahabat dekat. Aku ada perasaan sih sama dia, tapi aku nggak tau perasaan dia gimana. Tapi tenang aja Bos, Keyla bilang kalau dia nggak suka sama Mondy karena Mondy itu suka maksa."


"Bagus deh, pastikan kalau Mondy nggak bisa dapetin Keyla."


☕☕☕


Banyak tim Mondy apa tim Gery nih? Sama-sama butter cookies 😜😜.


Visual ada di Ig dan Fbku ya.. Itta Haruka Ritualnya jangan sampai lupa 🙃🙃


☕☕☕