
Nasib sial yang menimpa Mondy saat ini mungkin juga akibat ulahnya sendiri. Orang bilang, hukum karma itu berlaku. Jika kita berbuat baik, maka kita akan mendapat kebaikan, begitu pun sebaliknya.
Mungkin, saat ini Mondy mendapatkan karma karena ia telah memanfaatkan Bara untuk mengambil keuntungan. Hingga akhirnya, Tuhan mengirimkan semut-semut besar berwarna merah itu untuk menggigitnya.
Mondy yang panik akhirnya berusaha untuk turun dari pohon. Sialnya, ia tidak tahu bagaimana caranya turun. Sehingga, saat ini ia hanya bisa bergelantungan dan berpegangan pada dahan yang tidak ada semut rangrangnya.
"Tolongin aku dong, udah kayak Tarzan nih," teriak Mondy yang kini sudah merasakan gatal-gatal di sekujur tubuhnya. Ia takut jika nanti semit itu menggigit pusakanya, bisa bahaya.
"Ya udah, loncat aja kenapa sih, nggak ada tiga meter, 'kan? Kamu cowok, Mon."
Kata-kata yang Keyla ucapkan itu seperti cambuk yang membangkitkan jiwa laki-lakinya. Mondy akhirnya melompat dan mendarat tidak sempurna ke tanah. Pan*tatnya merasakan sakit luar biasa, bahkan sepertinya kakinya keseleo.
"Om Mondy, nggak apa-apa? Pasti sakit ya, Om?" tanya Gabriel yang sempat kaget saat mendengar bunyi keras ketika Mondy mendarat di tanah.
"Sakit banget, Biel. Kayaknya Om Mondy keseleo deh. Butuh dipijitin Onty Key." Mondy melirik Keyla yang cekikian bersama Selvy, sedangkan Sheina malah sibuk menghirup aroma mangga muda yang tadi dipetik Mondy.
"Idih, mau-maunya kamu itu mah, enak aja!" Keyla langsung sewot saat Mondy bilang ingin dipijat olehnya.
"Tolongin dong! Ini sakit banget." Mondy mengulurkan tangan meminta bantuan. Tepat pada saat yang sama, asisten rumah tangga Selvy keluar dari rumah membawa tangga lipat.
"Eh, Pak RT. Ini kemarin pinjem tangganya Pak RT, saya mau balikin sekarang!" ucap wanita paruh baya itu.
Mondy hanya bisa berkedip-kedip melihat tangga miliknya yang ternyata ada di rumah Selvy. Tahu begitu, kan, dia tidak perlu repot manjat pohon. Kesialan macam apa ini?
***
Hari pun berganti malam. Gabriel sudah tertidur lelap di kamarnya, bersama Keyla. Sheina memilih tidur sendiri karena tiba-tiba merindukan Bara dan ingin meneleponnya.
Sekali, dua kali, bahkan sampai lima kali panggilannya belum dijawab. Sheina mulai kesal. Ia melemparkan ponselnya di kasur sampingnya, tempat yang biasa dipakai Bara untuk tidur.
"Kemana aja sih? Sibuk banget apa sampai nggak sempat jawab telfon," gumam wanita hamil yang emosinya sangat labil itu.
Selang beberapa menit, ia kembali mengambil ponselnya. Kembali menelepon dan masih tidak diangkat juga. Sheina mulai uring-uringan. Ia memaki ponselnya sendiri yang ada gambar Bara, dirinya, dan Gabriel saat mereka menikah.
"Dasar nggak peka! Kamu nggak bawa hape? Jahat banget sih, udah ninggalin malah nggak ada kabar."
Sheina mulai menangis. Rasa rindunya pada Bara ia lampiaskan pada bantal dan guling. "Kamu ke mana sih, Suamiku?"
Beberapa lama menangis, kini ponselnya berdering. Sebuah tanda panggilan masuk yang membuatnya cepat-cepat menjawab panggilan itu.
"Hai Sayang," sapa Bara dengan senyum tampan rupawannya yang membuat Sheina rindu.
"Kamu jahat." Bukannya menjawab, Sheina justru merajuk dan membuat Bara mengerutkan kening.
"Tadi masih meeting, Sayang. Hpnya di tas Gery aku silent."
"Aku tuh nggak bisa tidur, pengen dielus-elus. Kamu pulang sekarang bisa, 'kan? Aku udah cek pesawat, masih ada kok. Ya pulang ya!"
☕☕☕Bumil mulai rewel kan, belum dikasih sajen sama readers. kembang kopi, sama vote. hari senin loh wkkk🌹🌹🌹