
Sheina mengajak Gabriel ke dapur. Ia bermaksud untuk menjelaskan semua pada Gabriel di sana karena sudah cukup malu Sheina di depan mertuanya.
"Gabriel duduk sini ya, yang tenang!" Sheina mendudukkan Gabriel di kursi.
Gabriel menatap sekeliling. Banyak yang aneh. Jam tangan, jas, bahkan ikat pinggang daddynya ada di dapur. Sungguh aneh kenapa daddynya meninggalkan semua itu di dapur, pikir bocah itu.
Sheina memungut jas dan ikat pinggang suaminya, meletakkannya di keranjang pakaian kotor supaya anaknya tidak banyak tanya. Gabriel berhasil menyembunyikan jam tangan ayahnya di bawah meja, sehingga Sheina yang kembali sibuk membuat minuman itu tidak tahu keusilan Gabriel.
Selesai membuat minuman, Sheina mengajak Gabriel ke ruang tengah menghampiri suami dan mertuanya yang sedang serius membahas masalah kantor.
"Daddy, kenapa lepas baju di dapul?" tanya Gabriel yang kini meminta duduk di pangkuan Bara.
Bara masih mencari alasan, tapi Sheina langsung menyahut, "Tadi Mommy buru-buru Sayang, lupa nggak masukin keranjang."
"Ikat pinggang juga?" tanya Gabriel.
"Ya, kan mommy buru-buru."
"Kalau jam tangan. Kenapa di dapul?"
"Tadi, daddy mau cuci tangan, takut jamnya kotor," jawab Bara.
"Gabriel, kamu cerewet banget sih, persis daddy kamu waktu kecil." Papa Bara mengusap kepala cucunya.
"Pantas saja Gabriel sangat bawel, ternyata benar, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya."
Bara mencubit gemas pipi Gabriel. "Gabriel pengen adik nggak sih?" tanya Bara mengalihkan pembicaraan.
"Iya," jawab Gabriel bersemangat.
"Kalau gitu, jangan kepo." Bara menyentil hidung Gabriel dengan gemas.
"Kepo itu apa?" Gabriel malah semakin ingin tahu.
"Ya kayak gini, nanya terus."
"Bar." Sheina mencubit pinggang Bara. "Dia itu cerdas, kita aja yang harus lebih hati-hati," bisik Sheina yang duduk di sebelah Bara.
Papa terkekeh geli melihat interaksi keluarga kecil putranya. "Selamat menikmati masa-masa sulit. Curi-curi waktu seperti maling," ledek papa seblum akhirnya menyeruput teh buatan menantunya.
"Oh iya, Sheina. Papa kamu gimana?" tanya papa Bara.
"Udah baikan kok, Pa," jawab Sheina. Ia sebenarnya sudah beberapa hari tidak mendapat kabar tentang papanya. Ia terlalu malas mencari tahu.
"Apa papa perlu mengembalikan keadaan papa kamu?" tanya papa.
"Em, nggak usah, Pa. Biarin aja."
"Papa tahu, kamu dan Gabriel cukup lama menderita, makanya papa ngelakuin itu juga demi Gabriel."
Sheina menunduk. Ia sebenarnya tidak memiliki dendam pada ayah kandungnya itu. Namun, jika itu sudah takdir papanya, ia juga tidak mau membantunya.
"Opa, ikannya Biel," teriak Gabriel yang membuat orang-orang dewasa itu terkejut.
"Ya ampun, opa lupa." Papa Bara langsung berdiri, sedangkan Gabriel berlari menuju mobil opanya.
"Kenapa?" tanya sheina bingung.
"Nggak tau, mungkin Gabriel baru inget sama ikannya. Sayang, aku nggak pakai celaanaa daalam." Bara menunjuk torpedonya yang hanya terbungkus celana pendek.
"Ya udah nanti sekalian mandi, kita lihat Gabriel dulu."
Sheina dan Bara menyusul Gabriel dan opanya. Mereka sedang mengeluarkan ikan dari bagasi mobil.
"Mommy, ikan Biel bagus, 'kan?" Gabriel mengangkat ikan koi berjenis butterfly yang berwarna putih dalam kantong plastik besar itu. "Biel tadi tangkap sendili," kata Gabriel dengan bangga.
"Iya, bagus. Kayaknya juga enak kalau dimakan," jawab Sheina yang membuat Gabriel dan opanya membuka mata lebar-lebar.
"Bar, ikan mahal loh itu," kata papa Bara yang khawatir ikannya benar-benar digoreng menantunya.
"Pa. Aku berdoa semoga kalau Sheina hamil nanti ngidam goreng ikan koi Papa yang black dragon."
"Mending anak kamu ileran Bar, daripada ikan kesayangan papa digoreng."
☕☕☕