
Sheina memukul lengan Bara. Dia sangat terkejut karena Bara menanggapi leluconnya dengan serius.
"Emang kamu bisa ngurusin warga? Ngurus perusahaan aja kamu belum bisa." Sheina menatap sinis suaminya.
"Ya, aku harus apa dong Shein? Kamu tahu, kan, aku sama dia itu gimana? Nggak akan pernah akur." Bara mengikuti Sheina yang berjalan menuju ruang makan. Sheina sudah menyiapkan teh hangat untuk Bara.
"Diem aja kenapa. Aku sama dia juga nggak ada hubungan kok." Sheina menyodorkan teh buatannya pada Bara.
"Tapi dia itu masih ngarepin kamu." Bara masih saja tidak mau kalah dari Mondy.
"Yang penting aku istri kamu. Kamu lebih unggul dari dia."
"Kalau soal perasaan, unggul siapa? Aku apa Mondy yang nempatin hati kamu?"
"Kamu mau tau? Mau aku jujur?"
Bara mengangguk cepat.
"Gabriel, udah ngusir Mondy dari hati aku. Sekarang kamu bisa nggak ngusir Gabriel dari hati aku?"
Bara tidak bisa menjawab pertanyaan Sheina. Ia diam dan mulai menikmati teh di gelasnya.
"Mungkin aku belum cinta sepenuhnya sama kamu, tapi aku istri kamu. Aku nggak akan ngelakuin hal bodoh. Aku butuh waktu buat mencintai kamu. Buat aku jatuh sedalam-dalamnya ke hatimu, Bar." Sheina meninggalkan Bara setelah mengatakan hal itu.
Sheina memilih menemani Gabriel menonton TV. Bara pergi ke kamar untuk mandi, sebelum akhirnya menyusul anak dan istrinya.
"Mommy, kenapa Daddy malah?" tanya Gabriel yang mengerti saat Bara berkata dengan nada tinggi tadi.
"Daddy lagi capek, Sayang. Nggak usah dipikirin ya, orang dewasa suka gitu kalau capek," jawab Sheina yang mencoba membuat Gabriel mengerti.
Tidak lama, Bara turun dengan pakaian yang sudah ganti. Ia baru saja selesai mandi. Secara kebetulan, saat Bara akan menghampiri Sheina dan Gabriel, terdengar suara ketukan pintu.
Bara langsung mengecek siapa tamu yang mengunjungi rumahnya sore-sore begini. Wajahnya langsung berubah kesal saat melihat Mondy di depan pintu. Ia hampir saja menutup kembali pintu rumahnya, tapi Mondy malah menahannya.
"Selamat sore, Pak Bara. Saya ketua RT yang paling ganteng di sini. Sebagai warga yang baik, seharusnya Anda melapor kepada saya," ucap Mondy dengan formal.
Bara kesal melihat ekspresi Mondy yang terlihat menyombongkan profesinya.
"Ya udah. Udah tau, kan, kalau aku tinggal di sini," jawab Bara sinis.
"Bisa perlihatkan kartu keluarganya?" tanya Mondy.
"Em, itu ... nggak ada. Belum bikin," jawab Bara dengan santai.
"Maksud kamu apa sih? Buku nikah punya. Mau lihat!"
"Iya lah, aku RT di sini."
"RT aja bangga. Duduk sana!" Bara menyuruh Mondy duduk. Lalu, ia masuk menemui Sheina.
"Gini-gini diantriin warga sekomplek," teriak Mondy.
Bara menghampiri Sheina yang masih menemani Gabriel.
"Sayang, kamu simpan buku nikah kita nggak?" tanya Bara.
"Iya, kenapa?"
"Itu, si Cookis Monde minta buku nikah sama kartu keluarga. Kita kan nggak punya."
"Em, minta dia sekalian urusin aja, Bar."
"Bisa ya?"
"Harusnya sih bisa. Bentar aku ambilin dulu."
Sheina lalu ke kamar mengambil buku nikahnya. Tidak berapa lama, ia kembali menemui Bara.
"Kamu di sini aja, nggak usah keluar-keluar ketemu dia!" perintah Bara setelah menerima dokumen dari Sheina.
Laki-laki itu kemudian menemui Mondy yang menunggunya di ruang tamu.
"Nih, punya, kan." Bara menyodorkan dokumennya dan Sheina kepada Mondy.
Mondy membaca satu per satu dokumen milik Bara itu, saat melihat tanggal pernikahannya, Mondy bingung.
"Kok, Gabriel nggak ada datanya. Dia anak kamu sama siapa?"
"Anakku sama Sheina lah, dia yang lahirin anakku. Bibit kualitas premiumku sudah berkembang sempurna di rahimnya, makanya Gabriel gantengnya maksimal," jawab Bara percaya diri.
Mondy menghela napasnya. "Ya terus kenapa kamu sama Sheina baru nikah beberapa hari yang lalu?"
Pertanyaan Mondy membuat Bara tidak bisa berkata-kata lagi.
☕☕☕