Supreme King System

Supreme King System
Chapter 44 : Tanah Makam Kuno?


Bukit Kota Sungai melimpah akan tumbuhan berwarna biru cerah. Menyerupai cahaya matahari, setiap malam akan bersinar menghiasi bukit tersebut.


Qin Chen berada disana duduk di tepi bukit tinggi tersebut, melihat Kota dari sana begitu gelap karena kehancuran sebelumnya menyebabkan banyak mati lampu.


"Nah Sistem, bisa kamu jelaskan kenapa aku hidup? Merebut Tahta Tertinggi di Dunia rendah ini, sama saja mengurung diri di dalam sangkar burung. Tidak dapat berkembang, dan hanya berada dibawah bayang-bayang Kekacauan." Ucap Qin Chen, dia bertanya kepada Sistem tentang Misi dirinya.


[Menjawab Tuan: Tuan tidak salah, dan juga tidak benar. Sekalipun ini adalah Dunia rendah, namun ada beberapa misteri yang belum Tuan pecahkan. Sebagai contoh, Portal atau gerbang Ruang dan Waktu yang dapat memindahkan kultivator ke Dunia yang lebih tinggi.]


"Gerbang Ruang dan Waktu? Apa ada di Dunia ini, bukankah untuk naik ke Dunia lebih tinggi harus mendapatkan pencerahan, lalu Jiwa kita akan masuk ke Dunia tinggi dan menjadi Abadi disana? Atau aku salah mengarsipkannya." Balas Qin Chen.


[Menjawab Tuan: Tuan tidak salah sepenuhnya, kenyataannya Dunia dalam kekacauan, dan hal tersebut tidak ada lagi. Karena itu, membutuhkan Gerbang Ruang dan Waktu. Jika tidak, Tuan dapat terbang melintasi Langit Berbintang yang penuh bahaya.]


"Tidak! Sekalipun aku ingin melihat Langit Berbintang, melawan bahaya di kekuatannya yang sekarang, aku akan mati di telan monster Angkasa. Tidak baik, lebih baik mencari gerbang tersebut dan pergi dari Dunia ini menuju Dunia paling tinggi. Tentunya, memperkuat kekuatan milikku ke level tertinggi."


Dalam diri Qin Chen ada rasa ingin, namun kekuatan Kesengsaraan tidak akan mampu melintasi seribu kecepatan cahaya dari Dunia ini.


Qin Chen akan mati di kehampaan atau mati di makan Monster Angkasa yang ganas, karena hak tersebut membuat niat Qin Chen di kurung dalam-dalam.


Saat menjatuhkan diri ke tanah, Qin Chen melihat bintang dan bulan berjejer di langit. Dari atas kepalanya, suara langkah kaki dan suara semak-semak terdengar.


Perlahan, muncul pria tua sebelumnya ikut Pertarungan di belakang Qin Chen. Pria itu tidak mengeluarkan niat jahat, dia berjalan mendekati Qin Chen.


"Kita bertemu lagi anak muda ... " Ucapnya dengan suara ramah menyapa Qin Chen di sana.


"Ya, apa gerangan kedatangan anda ke tempat ini. Sebelumnya, anda menghinaku ... Apa anda ingin merasakan Api Neraka? Atau Guntur Surga." Balas Qin Chen melihatnya dengan tatapan tajam.


Pria itu sontak terkejut, di melambai-lambaikan tangannya. "Tidak-tidak ... Sebelumnya, saya minta maaf karena tidak melihat Gunung Tai di hadapan saya, saya merasa berdosa menghina anda sebelumnya."


"Begitu ... Lalu?"


"Maksud kedatangan saya untuk mengundang anda bermalam di kediaman saya. Saya merasa bersalah, sehingga saya hanya dapat memberikan hal sekecil ini. Tidak ada harta maupun benda yang berharga di kediaman saya, hanya ada beberapa cucu perempuan saya yang baru saja belajar kultivasi abadi." Ungkapnya dengan tulus memberikan tumpangan kepada Qin Chen.


"Begitu ... Sebelumnya telah mencari penginapan karena telah penuh semuanya, aku memutuskan untuk tinggal di bukit ini. Karena ada orang baik memberikan tempat tinggal, tidak baik untuk menolaknya."


"Benar-benar ... Jika Tuan bersedia, saya akan membawa anda ke kediaman saya." Balasnya dengan nada cepat.


"Baiklah."


Qin Chen dan Pria tua itu meninggalkan bukti tinggi di Kota. Menuju kediaman Keluarga Xia di Kota Sungai, mereka tinggal di sana sebagai orang biasa walaupun ada kultivator hebat di Ranah Kesengsaraan.


"Bagaimana caraku memanggilmu? Pria Tua, Patriak? Atau Leluhur." Tanya Qin Chen.


Qin Chen mendengarnya, dia tersenyum. "Baiklah, pak tua Gong. Aku Qin Chen, pengembara yang berkeliling mencari kebenaran Dunia ini. Jika Pak tua Gong mengetahui sesuatu, bisa katakan padaku itu adalah informasi berharga bagiku." Balas Qin Chen dengan ramah menjelaskan namanya dan tujuannya.


"Saya akan mengusahakan mencari hal tersebut."


"Bagus ... Ngomong-ngomong, kenapa Kota ini sangat ramai sebelumnya, apa ada sesuatu event hingga banyak orang berada di Kota ini? Atau hal lainnya." Tanya Qin Chen yang penasaran.


"Apa Tuan Chen tidak mengetahui?" Pak Tua Gong terkejut sekaligus bingung.


"Mengetahui? Mengetahui apa? Aku baru saja tiba di Kota ini dan mendapatkan masalah dari beberapa orang menjengkelkan sebelumnya."


"Begitu ternyata, sebenarnya, dalam beberapa hari kedepan. Tanah Makam Kuno akan terbuka di bagian Timur Kota ini, karena itulah banyak kultivator berbondong-bondong datang dan menunggu di Kota sampai waktunya tiba. Tidak hanya orang kecil, melainkan orang-orang besar yang bersembunyi dan tidak akan bermunculan di sana. Merebut harta makam adalah yang mereka cari." Pak Tua Gong menjelaskan tentang Tanah Makam Kuno akan terbuka dalam beberapa hari kedepannya.


Mendengar hal tersebut membuat minat Qin Chen muncul, merebut Harta Makam, mungkin menyenangkan dibandingkan jadi Patung di rumah keluarga Qin.


'Makam Kuno, Harta Makam, dan Poin Sistem berserakan. Khukukukuku ... Mereka yang datang ke Tanah Makam Kuno, maka akan menjadi pemakaman bagi mereka. Aku hanya perlu memancing mereka agar saling bertarung dan membunuh mereka. Karena, kuat akan memangsa yang lemah dan lemah akan menjadi Poin Sistem!' Batin Qin Chen dengan dipenuhi pikiran dan rencana jahat tak terbatas di imajinasinya.


Pak Tua Gong merasakan ada sesuatu yang menakutkan tengah direncakan oleh Qin Chen sekarang. Saat dia mendengar Tanah Makam Kuno, Qin Chen tidak berbicara dan hanya tertawa kecil dengan senyuman tipis di bibirnya.


Melihat hal tersebut sudah membuat merinding, Pak Tua Gong menanamkan dirinya untuk tidak berbuat salah kedepannya. Selamanya, dia ingin berteman baik dengan Qin Chen.


Selama di jalan, Qin Chen diam hingga tiba di depan kediaman keluarga Xia.


***


Di depan kediaman Xia, Qin Chen melihat bangunan kuno namun mewah berjajar di dalam sana. Begitu intens dalam susunan, dan suasana sekitarnya lebih asri dibandingkan di Kota.


Qin Chen masuk ke dalam gerbang utama, dan melihat ada banyak orang-orang di dalamnya. Kekuatan mereka terbilang rendah Dimata Qin Chen, namun di mata orang lain sudah merupakan terkuat.


"Tuan Chen, mari saya antar anda ke ruangan anda untuk beristirahat. Besoknya, anda dapat beraktivitas seperti biasa." Sahut pak tua Gong membawa Qin Chen ke ruangannya.


Dia begitu baik dan penuh hormat kepada Qin Chen walaupun usianya lebih tua. Karena di Dunia ini yang lemah akan menghormati yang kuat, sekalipun beda usia ini adalah hukum yang berlaku selamanya.


Setelah tiba, Qin Chen beristirahat menunggu pagi. Dan pak tua Gong kembali ke ruangannya untuk beristirahat, Langit malam berhembus angin dari puncak gunung menyapu dataran rendah.


Kicauan burung malam bersiul di segala sisi, gesekan daun saling memberikan nada irama melodi tidur. Qin Chen tertidur lelap di dalam ruangan, mengabaikan sekitarnya dan tidur hingga pagi.


...


*Bersambung ...