
Hari berikutnya.
Xena yang tengah duduk di salah satu kedai kopi dikejutkan dengan sebuah sentuhan di pundak. Betapa kagetnya dia kala membalik badan dan mendapati orang yang tak asing tengah tersenyum amat manis.
"Lama tidak bertemu," ucap orang itu yang tak lain tak bukan adalah Hana.
"Bu Hana?" Segera Xena berdiri, dia peluk Hana lantas mempersilakan Hana untuk duduk.
"Kamu sendirian saja?" tanya Hana yang dibalas Xena dengan anggukan.
"Iya, Bu. Habis dari suatu tempat makanya butuh tempat istirahat," balas Xena. "Oiya, Ibu mau pesan apa?"
Tak lama datanglah karyawan yang mengantarkan pesanan Xena—segelas jus alpukat—dan saat itu juga digunakan Hana untuk memesan teh hangat.
Keduanya saling mengobrol ringan hingga pesanan Hana tiba. "Oiya bagaimana perkembangan yayasan?" tanya Hana lagi.
Xena tersenyum getir lalu menyeruput jus buah sedikit. "Aku sudah mundur dari proyek itu, Bu. Aku mengembalikan dana CSR. Aku tidak tega melihat Evan disudutkan banyak pihak."
Hana manggut-manggut, dia paham dengan perasaan Xena dan bahkan yakin jika keputusan yang dibuat teman yang usianya terpaut jauh darinya itu benar.
"Tapi sebagai gantinya dia membantuku membangun yayasan dengan uang pribadi," jelas Xena lagi.
"Oh ya?" Hana agak terkejut, tapi memaklumi keputusan Evan membatu Xena. Sebenarnya jika Xena meminta bantuannya pun dia akan senang hati membantu.
"Iya, Bu. Aku menerima bantuannya. Semoga cepat selesai. Sekarang orang-orang Evan sedang membangun tempat yang rencananya akan aku gunakan sebagai galeri."
"Evan hebat, dan kamu beruntung mendapatkan hatinya," balas Hana.
Namun, Xena justru membalas dengan ******* berat. Matanya dia alihkan ke luar dan melihat orang-orang berlalu lalang. "Tapi aku sedikit ragu. Apakah ini keputusan tepat."
Melihat raut muka Xena, Hana paham sesuatu. Dia pun mengulas senyum kecil kalau ikut menatap luar, di mana tatapan Xena bermuara.
"Ragu itu wajar, tapi selalu ragu juga tidak baik. Aku yakin Evan orangnya dapat diandalkan. Lagi pula bukankah hakekat pernikahan adalah saling melengkapi? Jadi aku sarankan kamu tidak perlu berpikir yang tidak-tidak, karena pernikahan memang tidak selalu mulus, pasti ada krikil kecil sebagai sandungan."
Pertemuan setengah jam dengan Hana membuat Xena semakin mantap mempercayai Evan. Dia sangat yakin sekarang dan melepas kepergian Hana. Mereka berpisah di parkiran kedai.
"Ya, Tika. Kenapa? Saya sedang dalam perjalanan ke kantor."
"Ini Bu, saya cuma mau memberi kabar kalau lukisan Ibu ada yang beli."
"Oh ya?" Bersemangat Xena, hanya saja itu tak bertahan lama mengingat Evan dan Devgan pernah membeli lukisannya.
"Siapa yang beli?" tanya Xena
"Di sini tertera namanya Louis, pengusaha asal Jerman. Kalau ibu tidak percaya saya akan kirimkan buktinya."
"Tidak, tidak perlu. Terima kasih, Tik. Lanjutkan pekerjaan kamu," sahut Xena. Dia pun mematikan telepon
Sekarang kebahagiaan Xena lebih kentara. Dia pikir tidak mungkin Evan yang melakukannya.
Seakan punya kekuatan lebih, Xena pun segera pulang ke rumah dan bergegas menuju studio mini miliknya, di sana dia melihat beberapa lukisan yang teronggok tak selesai karena kehilangan mood. Sekarang dia bertekad akan menyelesaikan itu semua dan menjualnya.
"Aku harus semangat. Aku harus menyelesaikan ini. Ayo, Xena. Semangat!" ujar Xena. Dia terkekeh kecil setelah bergumam begitu, lantas mulai bekerja. Tangannya yang memegang kuas begitu cekatan menari di atas kanvas.
Sementara itu, Evan yang baru pulang segera mencari Xena dan agak kaget saat mendapati sang istri tertidur dengan posisi bersandar di kursi dengan tangan penuh cat. Celemek bahkan tak lepas dari tubuh istrinya itu.
Melihat itu Evan hanya bisa geleng-geleng kepala, lalu menggendongnya ke kamar.
Pelan Evan merebahkan Xena. Walau Xena belepotan cat dia tetap menatap penuh cinta. Dia kecup kening Xena. "Terima kasih telah percaya padaku. Terima kasih karena kembali padaku."
_
_
_
next