
Memilih bungkam, Xena tidak bisa membayangkan bagaimana rasa sakit yang dialami Evan akibat tendangan Jihan yang tepat sasaran, hingga pria itu memilih untuk pulang mengakhiri liburan. Tidak ingin terlihat seperti orang yang tidak punya simpati, Prawira dan Hana pun memutuskan untuk ikut pulang.
“Ev, lebih baik kamu ke rumah sakit,” ucap Prawira saat mereka akan berpisah di bandara menuju rumah masing-masing.
Xena yang mendengar milirik Evan sekilas, pria itu masih bisa berujar bahwa kondisinya baik-baik saja.
“Seharusnya tidak perlu ikut pulang, aku merasa merusak liburan kalian,” ucap Evan yang sejatinya memang sudah tidak merasakan sakit di titanic nya. “Aku sudah katakan, aku ada urusan lain dan mendesak, bukan karena –“
Evan menghela napas, dia mengangguk tanpa melanjutkan kalimat. Prawira serta Hana menyadari bahwa Evan mungkin sedang kesal dan merasa tidak ingin membahas kondisi perkapalannya yang baru saja terhantam batu karang.
_
_
_
“Apa kamu baik-baik saja?” Xena yang sedari tadi hanya diam mencoba mengajak Evan berbicara, tapi pria itu terlihat sibuk dengan ponsel di tangan. Jiwa kepo Xena meronta, dia mencoba mencuri lihat, sedetik kemudian dia menekuk bibir mendapati pria itu memesan sebuah taksi online.
“Aku akan pulang sendiri, aku ingin menemui papa dulu,” ucap Xena pada akhirnya karena tidak mendapatkan respon.
Lagi-lagi perkataannya tidak diiyakan atau pun ditolak oleh Evan. Pria yang masih sah menjadi suaminya itu lebih fokus ke benda pipih di tangan, hingga Xena memilih menarik koper pergi dari sana.
***
Dua cangkir teh diletakkan pembantu Hari di meja, berniat menawarkan ke sang majikan tapi urung dia lakukan, karena Hari dan Xena nampak serius berbincang. Bahkan Xena berjongkok di depan papanya yang sedang memindahkan tanaman ke pot sambil memainkan ranting dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya menjadi tumpuan kepala.
“Kata Demitri, kamu honeymoon sama Evan. Apa kamu sudah memaafkannya?”
Xena menggeleng menjawab pertanyaan Hari, tangannya sibuk menggores bagian halaman rumah yang masih tanah. Membentuk lambang cinta patah kemudian mengacak-acaknya.
“Lalu ngapain kalian liburan?” tanya Hari lagi.
“Diajak seorang teman yang tidak bisa ditolak ajakannya,” jawab Xena malas.
“Temenmu presiden? Sampai tidak bisa nolak?”
“Bukan Pa,” sewot Xena. “Papa juga tidak akan mengerti meski aku jelaskan.” Xena masih terus menggores tanah hingga tanpa sadar dia menulis huruf ‘E’.
“Ah … bodoh … bodoh,” cicitnya sambil menginjak berulang huruf yang dia buat dengan kaki.
_
_
_
_
Evan menutup mata, berusaha melupakan sejenak masalah rumah tangganya yang semakin suram. Hingga dia ingat bahwa Xena belum menyelesaikan bucket listnya yang ke dua. Pria itu melompat dan menyambar ponsel yang baru dia isi daya di atas nakas. Mencari kontak Xena lalu menelepon gadis itu.
“Anak Demit telepon,” ucap Hari melihat ponsel Xena yang berada di atas meja bergetar. Pria itu menyesap tehnya lantas menoleh sang putri yang masih saja berjongkok di dekat pot bunga.
“Xen!”
“Biarkan saja Pa.” Xena menjawab tanpa menoleh Hari. Merasa penasaran, pria paruh baya itu memutuskan mengangkat panggilan Evan.
“Kamu belum menyelesaikan permintaanku yang kedua, pulang sekarang atau aku akan –“
“Akan apa?”
Bentakan Hari membuat Evan terjingkat, Xena bahkan sampai menoleh. Gadis itu kaget mendapati sang papa menerima panggilan sang suami.
“Akan mencintaimu sampai mati,” ucap Evan menyadari bahwa mertuanya lah yang menerima panggilan itu.
"Sampai mati apa? dia saja kamu lukai," sindir Hari.
“Pa, bisakah berikan ponselnya ke Xena?” pinta Evan.
“Sini! datang ke rumah, selesaikan permintaanmu yang kamu sebutkan tadi dirumahku,” ucap Hari.
“Apa?” teriak Evan dan Xena bersamaan.
_
_
_
_
_
Like
Komen
Follow IG aku ya @nasyamahila
makasih