
Xena masih saja memikirkan kenapa Evan ingin terus mempertahankan dirinya, satu tahun yang lalu dia merasa bodoh karena percaya bahwa pria itu mencintainya. Bahkan Evan sampai berpura-pura memiliki penyakit.
Meskipun Xena sudah diberitahu Hari, bahwa Dimitri mengaku dia yang merekayasa penyakit Evan, tapi tetap saja ada sedikit rasa jengkel di hati Xena. Belum lagi pria itu memang berselingkuh dengan wanita lain saat sudah resmi menjadi suaminya.
Melajukan mobil pulang dari firma hukum Rudi, Xena memilih datang ke sebuah salon untuk mempercantik diri, setidaknya dia harus terlihat berbeda saat menghadiri undangan makan Hana nanti. Xena masih belum sadar bahwa mimpinya akan dipertaruhkan di sana. Evan jelas akan menolak memberikan dana CSR perusahaan tambangnya begitu saja melihat sikapnya tadi.
_
_
_
Dan benar saja, meja bundar restoran yang dipesan oleh Hana, seperti menjadi meja konferensi siang itu. Xena menautkan jemari di atas paha sambil menatap tajam Evan. Bukan tanpa alasan gadis itu melakukannya, penolakan Evan terhadap niatan Hana dan Prawira untuk memberikan dana CSR ke galeri dan sekolah gratis impiannya, membuat Xena kecewa.
"Ini tidak benar Pak, dana CSR itu seharusnya kita berikan ke lembaga-lembaga dengan seleksi ketat, melihat visi dan misi untuk apa dana itu akan digunakan," ucap Evan. "Bukan hanya berdasarkan kedekatan semata." Dia lirik tajam Xena dengan air muka dingin.
"Lagi pula, anda baru mengenal Nona Xena sebentar. Bagaimana jika dia tidak amanah?" senyum cibiran nan mematikan Evan berikan.
Tidak bisa berdiam diri, Xena merasa dia harus ikut angkat bicara. "Baiklah jika harus mengikuti seleksi aku siap," ucapnya tak kalah angkuh. Padahal semua ini akan selesai hanya dengan dia memohon pada Evan untuk memberikan dana CSR itu kepadanya.
"Apa anda bisa? anda harus memiliki lembaga berbadan hukum, memiliki rekening lembaga untuk penyaluran dana CSR itu, NPWP, SOP. Apa anda bisa mengurus semuanya dalam dua minggu?" sinis Evan.
"A-a-apa? dua minggu?" tanya Xena terbata.
"Dana itu miliaran nona Xena, dia juga butuh dipertanggungjawabkan, Anda pikir itu warisan nenek moyang Anda?"
Hana dan Prawira yang sejak tadi berada di ruangan itu dan hanya bisa mendengarkan Evan dan Xena. Mereka bingung melihat gelagat aneh dua orang itu yang seperti musuh.
Xena memilih untuk mengalah, dia tidak ingin ngotot karena sadar posisinya tidak menguntungkan sekarang.
Sampai acara makan siang itu selesai, Xena masih duduk memikirkan setiap ucapan Evan. Ia juga memikirkan tentang status pernikahannya yang masih menggantung bak tiang jemuran.
Pernikahan mereka yang terbilang cukup singkat hanya lima bulan sebelum Xena memutuskan pergi ke Inggris memang tidak diketahui banyak orang, terlebih Evan termasuk pengusaha yang introvert, pria itu berkali-kali menolak wawancara untuk majalah bisnis, sehingga dia terkenal sombong. Bahkan mungkin tidak semua karyawan di perusahan Evan tahu kalau Xena adalah istrinya.
Xena bingung harus berbuat apa, meskipun putri tunggal pemilik peternakan yang cukup besar, tetap saja dia pantang meminta warisan ke papanya. Bagi Xena meminta warisan sekarang sama saja berharap agar papanya cepat mati. Terlebih Hari dari dulu ingin Xena membuka bisnis yang berhubungan dengan peternakannya, bukan mengurusi galeri dan malah terlalu berbaik hati memikirkan anak-anak miskin terlantar yang seharusnya dilindungi oleh negara.
Xena merapikan rambut dan mengobarkan keberanian yang ada di dalam dada, dia pun mendekat, berdiri tepat di samping mobil Evan dan mengetuk kaca.
"Ada yang harus aku katakan padamu!"
Evan tersenyum miring, membuka kaca jendela mobil sambil memasang muka malas. "Apa yang ingin kamu katakan! aku tidak punya banyak waktu."
"Berikan dana CSR itu untuk galeri dan sekolahku, sebagai imbalannya aku akan melakukan permintaanmu satu tahun yang lalu," ucap Xena.
"Permintaan apa?"
"Menjadi istrimu selama 40 hari."
"Jangan bercanda! aku sudah tidak memikirkan itu," ketus Evan mencoba menyembunyikan kegembiraannya.
"Kalau begitu, jadi lah suamiku selama 40 hari," ucap Xena cepat.
Evan pun terbahak-bahak tapi beberapa menit kemudian mukanya berubah dingin lagi, dia menutup kaca jendela mobil, menyalakan mesin dan menginjak pedal gas. Evan meninggalkan Xena sendirian dengan rasa malu dan perasaan kesal.
"Kamu!" Xena menghentakkan kakinya ke tanah berulang, ingin rasanya menjambak rambut Evan.
_
_
_
_
_
Like
Komen