
“Apa? menemani bekerja?”
Permintaan Evan itu jelas sesuatu yang sulit Xena iyakan mengingat di ruang kerja pria itu lah dia melepaskan kegadisannya. Dasar Evan brutal. Meski bukan kali pertama dia datang lagi setelah peristiwa itu, tapi tetap saja ruangan itu akan mengingatkannya tentang …… Ah sudahlah!
“Aku tidak mau!” tolak Xena sambil memalingkan muka, ada rasa aneh di dalam dadanya jika mengingat ruang kerja pria, yang kini sudah melepaskan sabuk pengaman dari tubuhnya.
“Apa kamu yakin? Rapatku hanya sebentar, apa kamu tidak ingin mengetahui keputusan akhir perihal dana CSR itu? ya sudah, kamu bisa pulang dan cari informasinya sendiri nanti, aku tidak akan memberitahumu,” ancam Evan dengan sedikit menahan rasa sakit saat turun dari dalam mobil.
Xena pun terdiam, hingga suara klakson mobil yang berhenti tepat di belakang membuatnya kaget. Ia pun melajukan mobil itu, membuat Evan sedikit kesal karena merasa ancamannya tidak berhasil.
Namun, siapa sangka saat tangan Evan hampir memencet tombol lift, sebuah tangan terlebih dulu menekannya. Pria itu menoleh kaget dan tidak bisa menyembunyikan senyumannya mendapati wanita cantik yang dia harapkan ternyata ikut masuk ke dalam gedung kantornya.
“Janji kamu harus memberitahu hasilnya langsung setelah rapat selesai,” ujar Xena.
Evan pun menganggukkan kepala, rasa perih akibat luka di tubuhnya sudah tidak lagi terasa tergantikan dengan rasa suka cita.
_
_
_
_
Setelah memastikan Xena duduk dengan nyaman di ruang kerjanya, Evan pergi ditemani sekretarisnya menuju ruang rapat. Sambil menunggu Evan selesai dengan urusannya Xena hanya duduk dan bermain ponsel, hingga dia penasaran melihat sebuah pigura di meja kerja, di mana bagian belakangnya saja yang terlihat. Sejak datang lagi ke ruangan itu Xena sebenarnya penasaran.
Berhenti tepat di depan meja itu, Xena meraih pigura dan membaliknya. Matanya membeliak, dia terkejut mendapati foto masa remajanya bersama Evan.
“Dia, sepertinya lebih suka menjadi kakakku dari pada menjadi suami,” gumam Xena. Ia letakkan kembali pigura itu, embusan napasnya yang berat seolah memberi tanda bagaimana perasaannya sekarang.
Xena mendekat ke arah jendela di belakang kursi kerja Evan, di mana dari sana pemandangan gedung-gedung pencakar langit bisa terlihat dengan jelas. Ia mulai menerka isi hati Evan, bahwa pria itu sebenarnya tidak ingin menjalin hubungan yang lebih dari sekadar pertemanan dengannya, mungkin bagi Evan sangat aneh menikah dengan gadis yang sudah dia anggap seperti adik sendiri.
Mungkinkah hal ini yang membuat Evan berubah sikap dan begitu dingin di awal pernikahan mereka? entah lah lagi pula menanyakan hal ini ke Evan tidak begitu penting lagi bagi Xena. Dia merasa tidak ada harapan menghabiskan hidup bersama dengan Evan kembali, hatinya memang menginginkan Evan. Sikap pria itu juga jelas mengisyaratkan keinginan untuk membangun rumah tangga kembali dengannya. Namun, Xena ragu. Masih ada ganjalan yang susah untuk dia jabarkan, dia hanya takut bahwa keinginan Evan untuk kembali bersama dengannya hanya sebuah keinginan semu, dia tidak ingin terluka lagi dan lagi.
Tersadar dari lamunan, Xena buru-buru kembali ke tempat duduknya. Dia tidak ingin tiba-tiba saja Evan masuk dan menanyakan apa yang sedang dia lakukan. Gadis itu kembali meraih ponselnya, dia kaget melihat sebuah pesan dari Devgan.
[Aku melihatmu datang bersama Evan]
[Aku hanya mengantarnya dan menungguinya selesai rapat, dia sedang terluka, jatuh dari sepeda]
[ruangan Ev]
[Mau minum kopi]
Xena tersenyum kecil lantas menggenggam ponselnya, senyum riang tergambar jelas di wajahnya saat Devgan menawari ngopi bersama, seolah tak sabar dia berlari kecil setelah lift terbuka. Devgan sudah berdiri di depan menunggunya.
“Apa kamu tidak ikut rapat?” tanya Xena penasaran.
“Rapat apa? soal dana CSR perusahaan? Aku tidak ada kepentingan di sana.”
Xena tersenyum lantas menunduk, dia malu karena menanyakan hal itu, seharusnya dia mengingat juga jabatan Devgan.
“Kepentinganku membuatmu senang, kalau bisa segera lepas dari Evan.”
“Apa?” Xena kaget mendengar kalimat Devgan, hingga pria itu nampak salah tingkah dan berjalan mendahului langkah kakinya.
“Apa? aku tidak bicara apa-apa."
_
_
_
_
_
Geng I am not feeling well
Semoga kalian sehat² selalu
Doain Na Sehat ya
Love you