
Evan yang merasa bersalah karena membuat Xena sedih pun memutuskan menemani Xena di kantor. Dia belai rambut Xena dan membiarkan istrinya itu merebahkan kepala di pangkuannya. Di sofa berwarna ungu muda bermotif polkadot di sana mereka saling berpegangan tangan.
"Xen, apa tidak bisa kamu pikirkan lagi? Aku itu serius ingin membantu," ucap Evan hati-hati. Dia tatap wajah Xena yang sedari tadi serius memutar cincin pernikahan yang tersemat di jarinya, lantas membelai pipinya pelan.
"Terima, ya. Aku tidak bisa diam saja saat istri yang aku cinta sedang kesulitan," lanjut Evan.
Xena yang tadinya asyik memutar cincin di jari Evan pun mengalihkan pandangan, lalu tersenyum kecil.
"Aku tau, Ev. Aku tau kamu serius, tapi ...."
"Tapi apa?" Evan berhenti mengusap pipi Xena. Matanya semakin lekat menatap sang istri yang masih merebah di paha.
"Karena ini cita-cita aku dari dulu jadi aku sendirilah yang harus mewujudkannya."
"Sayang ....." Evan mengusap wajah Xena dengan sebelah tangan. Dia gemas dan tak habis pikir pada Xena yang begitu keras kepala.
Xena yang melihat kegusaran suaminya pun memutuskan membenarkan posisi dan duduk dengan tenang. Di sebelah Evan dia mendesah panjang.
"Ev, ngerti aku, ya."
"Iya, aku ngerti. Tapi masalahnya kenapa tidak ingin bantuanku. Aku suamimu, Xen. Wajar kan jika membantu?"
Xena diam. Dia menunduk. Sebenarnya tawaran Evan itu menggiurkan. Lagi pula siapa di dunia ini yang menolak kemudahan dan memilih jalan sulit. Hanya saja dia ragu ragu kalau ....
"Xena, tatap aku." Evan genggam tangan Xena yang otomatis membuat sang istri menatap heran.
"Tujuan kamu membuat yayasan ini apa?" tanya Evan. Nada suaranya setengah ditekan karena tidak ingin Xena salah paham dan mereka kemblai bertengkar.
"Aku ingin mewujudkan impianku, Ev. Membuka galeri. Aku juga ingin membantu anak-anak berbakat yang kurang mampu dari sekolah yang akan aku bangun ini," jelas Xena. Ada helaan napas panjang setelahnya.
"Nah, lalu sekarang masalahnya apa? Aku salut sama kamu, niat kamu ini sangat baik, bahkan sangat mulia. Lalu kenapa harus di tunda? Niat baik harus di segerakan, Xen."
Xena kembali bungkam. Perkataan Evan memang benar. Niat baik harus disegerakan, tapi ....
"Xena, lihat aku!"
Xena menurut. Dia melihat ada keseriusan di mata Evan.
Xena menggeleng. Dia tahu, Evan bukan tipe laki-laki tidak bertanggung jawab. Hanya saja ....
"Lalu, kenapa tidak mau?" tanya Evan lagi. Setengah habis kesabaran di dada.
"Aku hanya tidak yakin," balas Xena. Setelah itu dia menarik napas panjang, lalu memejamkan mata beberapa detik. Kini, dia tatap Evan yang kebingungan karena ucapan darinya barusan.
"Maksud kamu apa? Apa yang kamu tidak yakin? Kamu tidak yakin dengan kinerjaku?" cecar Evan lagi.
"Bukan," balas Xena disertai gelengan kepala.
"Lalu?" Alis Evan naik sebelah.
"Aku hanya takut terjadi hal yang tidak diinginkan nanti. Kita tidak bisa memprediksi masa depan, Ev. Bisa saja kan kita pisah lalu kamu merampas galeri yang sudah susah payah aku bangun."
"Hah?" Evan kehabisan kata. Dia cuma bisa melotot mendengar alasan dibalik penolakan Xena.
"Ja-jadi kamu berniat pergi? Kamu ingin kita bercerai?" tutur Evan, setengah terbata. Dia benar-benar tak habis pikir pikiran Xena sudah sejauh itu, padahal dia saja tidak pernah memikirkannya.
"Bukan. Bukan begitu. Hanya saja kita tidak bisa memprediksi. Hati seseorang bisa berubah. Siapa tahu nanti kamu yang tidak tahan denganku lalu minta cerai. Atau malah sebaliknya."
"Xena! Jahat sekali isi kepalamu itu. Aku tidak akan seperti itu," balas Evan, gregetan. Dia sampai mengepalkan tangan.
Sekarang Xena makin lekat menatap Evan. "Ev, kita realistis saja. Kamu pernah selingkuh dan begitu mencintai wanita itu. Siapa yang bisa menjamin kamu tidak akan jatuh cinta dengan wanita lain lagi?"
"Xena!" nada suara Evan meninggi. Dia sungguh kesal dengan penuturan Xena yang seolah secara tidak langsung menganggapnya bajingan.
Ya, dia akui dulu pernah berselingkuh tapi kan itu dulu, dan dia tidak ada niatan mengulang hal itu.
_
_
_
next