Suami Palsu - 40 Days Husband

Suami Palsu - 40 Days Husband
Bab 29


Xena pun mundur ke belakang, dia bahkan sampai hampir terjatuh melihat tatapan mata Evan yang nampak sedikit mengerikan. Hingga gadis itu buru-buru berbalik dan berlari ke luar membuat Evan merasa geli.


“Tunggu! dia benar-benar sudah berubah setelah pulang dari Inggris, dia bahkan sudah bisa berlari menggunakan high heel,” gumam Evan.


Xena masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin, bagaimana pun dia wanita normal, dan Evan sejak dulu selalu keren dan tampan di matanya. Ia takut lagi-lagi terjerat oleh pesona pria itu.


“Jangan Xen, jangan secepat ini please!” Xena berbicara sendiri. “Pastikan dulu semuanya, jangan sampai kamu terjatuh di lubang yang sama untuk yang ke dua kali.”


_


_


_


Sementara putri semata wayangnya sibuk berusaha menolak rasa yang ada. Hari terlihat murung, dia takut jika sang putri akan disakiti lagi, oleh anak pria yang sekarang sedang menemaninya memberi makan sapi.


Meski memiliki banyak pekerja di peternakan, Hari memang sudah biasa memberi makan hewan ternaknya sendiri. Ia menganggap kegiatan ini semacam olahraga agar tubuhnya tetap bugar meskipun sudah tua.


“Ayo lah Har, Evan dan Xena sudah kembali bersama. Apa kamu akan terus membenciku? Bukankah kita ini best friend?” bujuk Dimitri.


Pengusaha itu bahkan tanpa jijik membawa rumput sambil terus mengekori Hari.


“Yang bermasalah itu anak-anak kita, jadi kenapa kamu membenciku. Fatma pasti menangis di surga melihat kamu memperlakukanku seperti ini."


Hari akhirnya menoleh ke Dimitri karena membawa-bawa nama almarhumah sang istri, meski begitu dia tetap memilih diam dan hanya memberi tatapan sinis lalu berjalan kembali, hingga suara yang begitu dia kenal memanggil.


“Kakakmu datang,” ucap Dimitri melihat sosok manusia datang dengan menggendong anak kecil.


Pria yang seumuran dengan mereka itu langsung mendekat dan menurunkan bocah kecil itu dari gendongannya.


“Emp … bau,” pekik bocah perempuan berumur sekitar tiga tahun itu.


“Katanya mau lihat sepi, ya bau donk. Dasar!” Hantoro gemas sampai ingin menjitak kepala cucunya sendiri, dia merogoh kantung celana dan mengeluarkan masker. “Ini pakai, salah siapa tadi bilang mau lihat sepi, Eyang kan udah nginjak ke mall tadi.”


Gadis kecil itu cuek dengan ucapan sang kakek dan berlari mendekat ke kandang, sementara Dimitri dan Hari seketika saling pandang, lidah Hantoro seharusnya disikat menggunakan sikat kamar mandi agar tidak lagi salah ucap, untung saja cucu dari putri tunggalnya itu sangat cerdas.


“Ah … Dimitri juga ada di sini.”


Meski begitu, satu hal yang disukai Dimitri. Hantoro tidak pernah salah menyebutkan namanya.


“Iya, aku sedang membujuk Hari.”


“Kenapa kamu membajaknya? Memang dia sedang marah?” Hantoro menoleh cucunya yang bernama Soya, dia takut bocah itu memasukkan tanggannya ke mulut sapi-sapi Hari atau meremas susunya.


Dimitri nyengir. Hingga lagi-lagi Hantoro membuatnya kehilangan kata-kata.


“Oh ya... Hari bilang anakmu dan Sena rujak kembali? apa benar?”


Dimitri melongo lantas mengangguk, rasanya ingin menggaruk belakang kepala tapi sayang tangannya masih memegang rumput.


***


Setelah bertemu dan berjalan-jalan ke sebuah pameran dengan Hana, Xena mampir ke sebuah apotik untuk membelikan salep pereda nyeri untuk Evan sebelum dia pulang. Xena melihat jam di ponselnya yang menunjukkan pukul satu siang. Ia ingat tadi Evan memintanya pulang paling lambat jam tiga sore.


Sesampainya di rumah, Xena menanyakan kepada pembantu di mana Evan berada, dia juga mengorek sedikit informasi apa yang dikerjakan pria itu selama dia pergi.


“Tuan tidak turun ke bawah sama sekali.”


“Jadi dia belum makan siang?”


Xena mengangguk paham, dia meminta sang pembantu menyiapkan makan siang, kemudian naik ke lantai atas setelah mengucapkan terima kasih.


Menghela napasnya, Xena mencoba pergi ke ruang kerja Evan terlebih dulu, dia mengetuk beberapa kali untuk memastikan Evan tidak berada di sana, sebelum memilih menuju kamar.


Meski bisa dengan mudah membuka pintu dan melongok ke dalam kamar, tapi Xena tidak melakukannya. Dia terus bersikap seolah dirinya dan Evan adalah orang asing yang tidak dekat sama sekali.


Xena pun mengetuk pintu, hingga dia berpikir mungkin Evan sedang tidur dan akhirnya memberanikan diri membuka dan melongokkan kepala. Benar saja, dia mendapati pria itu tidur tengkurap di atas ranjang.


Perlahan Xena mendekat dan meletakkan tas ke nakas. Ia mengambil salep yang dibelinya tadi lalu berjalan ke sisi Evan tengkurap untuk memastikan apakah pria itu benar-benar tidur.


“Ev, apa pinggangmu masih sakit? Aku membelikanmu salep,” ucap Xena dengan suara pelan. “Ev … “


Evan perlahan membuka mata, demi sapi-sapi papanya Xena benar-benar hampir dibuat kejang-kejang melihat wajah Evan yang begitu tampan. Ia menelan saliva, jika saja hubungan mereka tidak retak, barang tentu bermesraan adalah hal yang akan sangat menyenangkan sekarang.


Xena mengerjab, dia menggelengkan kepala mencoba membuang jauh-jauh pikiran aneh itu di otaknya.


“Apa masih sakit?”


Evan mengangguk, dan Xena langsung berlutut di dekat pantat pria itu.


“Jangan berpikir yang tidak-tidak, aku hanya merasa bersalah karena sudah membuatmu seperti ini.” Xena menyibak kaus Evan ke atas dan mau tidak mau menurunkan sedikit celana pendek pria itu.


Evan hanya tersenyum dan menyembunyikan mukanya di bantal, membiarkan Xena mengoles salep dan mengusap pinggangnya.


“Xen.”


“Hem … “


“Untuk dana CSR itu, sepertinya kamu tetap butuh ikut memasukkan proposal lebih dulu, kami tidak mungkin langsung memberikannya kepadamu, karena akan tidak adil untuk lembaga yang lain, tapi tenang saja aku akan meminta Ricky dan tim yang menangani dana itu untuk membantu,”ucap Evan.


“Memang ada berapa lembaga yang akan perusahaan kalian ambil?” tanya Xena yang masih sibuk mengurut pinggang Evan.


“Lima atau enam.”


Xena memilih diam setelah itu, hingga Evan dengan santai menaikkan sedikit pantatnya dan sengaja membuang gas beracun.


“Kamu!” Xena terjengkang karena kaget dan meghindar, dadanya naik turun sementara matanya memelototi Evan yang bersikap kurang ajar.


“Tidak bisa ditahan,” kata Evan tanpa dosa. “Lagi pula penelitian menyebutkan bahwa kentut dari pasangan bisa membuat panjang umur.”


Pria itu bangun dan tertawa, alih-alih membantu Xena berdiri dia malah pergi begitu saja. “Terima kasih, pinggangku sudah sedikit enakan,” ucapnya tanpa menoleh Xena yang kesal.


_


_


_


_


Like


Komen


Bagi hadiah


Vote nya senin boleh lah kasihin pasangan ENaa (maaf kalau a nya satu takut kena sensor)