
“Mau kemana berpenampilan rapi?” tanya Evan melihat Xena keluar dari kamar ganti menggunakan blush cantik.
“Aku ingin bertemu dengan Bu Hana.”
“Apa kamu ingin mengaku kalau kamu memang sudah menikah hari ini, apa kamu akan menyebut namaku?” Evan sampai menghentikan tangannya yang sibuk mengikat tali sepatu, menatap Xena yang nampak memoleskan lipstik ke bibirnya.
“Iya, tapi jangan harap aku akan mengakui kalau kamu suamiku.”
Xena menoleh dengan ekspresi datar lalu masam, meski dia merasa tidak enak hati mendapati wajah Evan yang berubah sendu. Pria itu lantas memilih menunduk untuk melanjutkan mengikat tali sepatu, tak ingin membalas ucapan sang istri.
Xena sudah memegang gagang pintu kamar untuk pergi, sebelum akhirnya berbalik memandang Evan yang sudah berdiri dan kini sibuk mengenakan jasnya.
“Ev, berhemat lah sedikit! sepertinya baru kemarin sabun mandi terisi kenapa sudah habis lagi.” Xena sengaja menyindir Evan, gadis itu bahkan tertawa karena berhasil membuat pria itu membeku dan malu.
“Ka-ka-kamu pikir apa yang aku lakukan dengan sabun mandi itu? meminumnya? Hah!” Evan berkacak pinggang, sedangkan Xena terus berusaha menahan tawa.
_
_
_
Hari itu sinar Mentari cukup cerah, bahkan langit terlihat berwarna biru. Namun, entah kenapa hati Xena berwarna abu-abu. Meski sudah memantapkan diri untuk datang menemui Hana di kediaman wanita itu, tetap saja ada rasa cemas di hati
Tapi tidak bisa, Xena sudah memutuskan untuk mengakui bahwa dia sejatinya memang sudah menikah. Ia bukan seorang wanita single.
Setibanya di istana Hana, Xena disambut dengan senyuman hangat wanita itu, tapi sepertinya dia tidak bisa mengungkapkan rahasianya sekarang karena ternyata wanita itu kedatangan seorang guru merangkai bunga.
“Kita belajar dulu ya, aku sudah menyiapkan satu set untukmu,” ucap Hana dengan senyuman lebar. Xena pun hanya bisa mengangguk, membiarkan wanita itu menggandengnya masuk ke dalam rumah.
Xena hanya bisa mengikuti kegiatan yang dilakukan Hana, ia berusaha menikmati sesi belajar merangkai bunga itu dengan sepenuh hati, tapi nyatanya tidak bisa. Xena malah sibuk melamun hingga berkali-kali Hana harus menyenggol tangannya.
“Ada apa? apa ada masalah?” tanya Hana sambil terus merangkai bunga-bunga miliknya ke dalam vas, wanita itu memotong dan merapikan batang sesuai dengan petunjuk sang guru.
“Kita bisa minum teh di halaman belakang setelah ini.”
“Ba-baik,” jawab Xena sambil menganggukkan kepala, dia merasa serba salah sendiri.
***
Setelah kelas merangkai bunga itu selesai, Hana benar-benar mengajak Xena meminum teh. Mereka duduk berhadapan sambil menikmati hamparan bunga-bunga yang bermekaran di kebun rumah.
“Apa ada yang mengganjal? Kenapa kamu sepertinya tertekan?” tanya Hana sembari menyesap tehnya.
“Sebenarnya, saya ingin jujur.”
“Jujur?” Hana kaget dan seketika menegakkan badan, dia letakkan cangkir ke atas tatakan dengan gaya elegan.
Xena mengangguk, dia yang sedari tadi menunduk lantas menegakkan kepalanya untuk melakukan kontak mata dengan wanita yang masih saja anggun meski sudah terbilang lanjut usia itu.
“Tentang status saya, saya tidak single. Saya sudah menikah.” Seketika ada kelegaan yang menyeruak di hati Xena, dia bahkan menghela napas lega setelah mengucapkan kebenaran itu ke Hana. “Saya memiliki suami, tapi kami sedang ada masalah, maaf saya berbohong,” imbuhnya.
_
_
_
_
Like
komen dulu
Baru Scroll ke bawah