Suami Palsu - 40 Days Husband

Suami Palsu - 40 Days Husband
Bab 66


Temaram lampu kamar tak membuat Evan dan Xena yang baru selesai mendayung nirwana mengantuk, masih berpelukan di bawah selimut dengan tubuh polos. Evan melingkarkan tangan ke pinggang sang istri yang memunggunginya. Wanita itu masih menatap lukisan yang Evan berikan sebagai hadiah.


“Sebegitu menarikkah lukisan itu hingga kamu lebih senang memandanginya dari pada aku?” Evan mencium punggung mulus istrinya yang diam-diam menertawai ucapannya.


“Apa kamu sedang cemburu dengan lukisan?”


“Hem … hanya iri, bagaimana bisa dia sangat menarik perhatianmu sementara aku yang setampan ini tidak?” ucap Evan yang malam itu merasa dirinya adalah pria paling bahagia di dunia.


Akhirnya Xena memutar tubuh, membuat kepalanya sejajar dengan kepala Evan yang tengah menatap ke arahnya. Ia memulas senyum lantas menyentuhkan tangannya ke pipi Evan.


“Apa kamu bahagia?” tanya Evan tiba-tiba.


“Kenapa?”


“Karena mulai sekarang kebahagiaanmu adalah prioritasku,” lirih Evan. “Xen …”


“Hem … “ lekat Xena memandang wajah sang suami. “Ada apa? pasti kamu sedang memikirkan hal yang tidak-tidak.”


Evan menggeleng, dia balas menyentuhkan tangannya ke pipi sang istri. “Aku hanya ingin kamu tahu kalau aku benar-benar bersyukur kamu mau memberikan kesempatan kedua, aku juga ingin mengucapkan terima kasih berkali-kali.”


“Cukup berikan cintamu hanya untukku, dan jangan melakukan kesalahan lagi, itu sudah cukup untukku.”


Evan menipiskan bibir lantas mencium bibir Xena, dia menarik tengkuk wanita itu dan membawanya ke dalam dekapan. Xena terlihat menghela napas panjang. Ada kelegaan di dalam hati. Ia semakin mengeratkan pelukan ke Evan saat suaminya itu juga memeluknya erat.


***


Pagi itu, suara rintihan dan ******* kembali terdengar. Namun, bukan dari arah ranjang. Xena dan Evan kembali bergumul di dalam kamar mandi. Niat hati ingin segera berangkat kerja, apa daya nafsu menguasai. Mereka berdua menyatu di dalam bath tub yang dipenuhi busa. Xena terlihat menghentak dan meliuk di atas tubuh Evan yang sibuk menciumi pundak, dada bahkan ceruk lehernya.


Mengeringkan rambut setelah mandi dan mendapatkan asupan pagi. Dari pantulan cermin, Xena menatap Evan yang berjalan ke arahnya sambil mengancingkan kemeja. Pria itu berhenti tepat di belakangnya dan langsung mencium ubun kepalanya.


“Sini aku bantu!” Xena meletakkan pengering rambut ke atas meja rias, memutar badan dan meraih lengan tangan Evan.


“Seharusnya aku ambil cuti hari ini jika tidak ada rapat direksi, sial!”


Xena tersenyum mendengar keluhan sang suami, kesialan yang Evan sebutkan menjadi keberuntungan baginya karena jika tidak, Xena yakin seharian dia hanya akan terkurung di kamar dan memuaskan nafsu Evan di atas ranjang.


“Aku akan berbelanja hari ini, apa kamu mau aku bawakan makan siang ke kantor?” tanya Xena, ia dongakkan kepala setelah selesai mengancingkan kancing di ujung kemeja Evan.


“Apa kamu tidak sibuk? Bagaimana sekolah gratismu itu? kamu harus segera membangunnya karena kamu harus membuat laporan pertanggungjawaban untuk dana CSR itu.” Evan sentuh pipi Xena kemudian mendaratkan ciuman di bibir wanita itu. “Rasanya candu, bagaimana bisa aku seperti ini padamu?”


“Mungkin karena aku terlalu manis, dan kamu terlambat menyadari.” Sombong Xena.


“Aku sangat suka dengan rasa percaya diri yang kamu miliki. Ini lah Xenaku,” puji Evan.


“Ingat tuan Evan Dimitri! Xenamu ini akan pergi jika kamu berani macam-macam lagi.” Sorot mata Xena benar-benar mengancam, terlebih dia mengucapkan kalimat itu sambil menarik dasi Evan hingga ke ujung kerah.


Evan tertawa, lantas merangkum pipi Xena. “Tapi macam-macam yang ini jelas pengecualian.” Pria itu menekan dalam-dalam bibirnya ke bibir sang istri, nampak jelas Xena tersenyum. Ia pegang erat kedua sisi kemeja Evan hingga kepalanya bergerak ke sana kemari mengimbangi setiap irama bibir suaminya.


“Kamu akan terlambat pergi,” gumam Xena dengan bibir yang masih bertaut dengan bibir Evan.


Pria itu menjauhkan muka dan dengan jemawa menjawab, “Aku bosnya, terlambat pun tidak akan ada yang berani memecatku.”


“Papa Dimitri akan memecatmu!” seloroh Xena, tapi Evan sudah memeluk pinganggnya, mendorong perlahan berjalan menuju arah ranjang, sehingga mau tak mau Xena mengikutinya.


“Ev … kamu sudah rapi!” teriak Xena yang sadar dia akan kesiangan jika setiap hari terus seperti ini.


Evan tak peduli dan malah semakin liar mencumbui.


"Ev, ayolah! rasanya masih kebas."


_


_


_


_


like


komen


Note : Geng kalau aku ga up ENaa cari aku di novel lain ya, aku ada novel gratis di F-i-z-zo (ilangin aja stripnya) sampai tamat GRATIS. Aku mau Gift away Mini gold di sana. Info follow aja IG aku yess


mamacih 😘😘😘