
Xena memilih tak memerdulikan gunjingan tak beradab tentang dirinya yang disangka selingkuhan Evan. Ia mencoba fokus untuk mengikuti pelatihan itu sampai selesai, meski kupingnya terasa gatal dan mulutnya ingin menyanggah setiap tuduhan kejam dua orang yang duduk di dekatnya.
Mengemasi alat tulis dan mematikan laptop yang dia gunakan, Xena menolak ajakan dari dua kenalan barunya untuk makan malam bersama. Cukup baginya mendengar mereka berjulid ria tadi.
_
_
_
“Apa pelatihanmu lancar,” tanya Evan sesaat setelah Xena masuk ke dalam kamar yang mereka tempati. Pria itu terlihat sangat rupawan, memangku laptop dengan kacamata yang membuatnya terlihat seperti orang yang pintar.
Mengangguk, Xena seolah tidak memiliki tenaga untuk menjawab pertanyaan Evan meski hanya dengan kata ‘iya’. Ia meletakkan tasnya di samping nakas lantas mengambil bajunya di dalam koper. Dengan langkah gontai, Xena masuk ke dalam kamar mandi. Evan yang melihat sikapnya pun dibuat mengerutkan dahi.
“Apa dia pusing karena budget dan angka? Dasar Xenxen, kamu memang lebih pantas memegang kuas dan kanvas?” Evan tersenyum sendiri karena tingkah sang istri.
***
Jam baru menunjukkan pukul tujuh malam, tapi Xena sudah berbaring di atas ranjang dan memejamkan mata. Evan yang baru selesai mandi pun seketika mendekat dan berdiri tepat di samping Xena berbaring.
“Hei, apa kamu sudah tidur? Kamu bahkan belum makan malam, ayo bangun kita makan dulu,” bujuk Evan.
Xena perlahan menjauhkan kelopak matanya, dia hanya bisa melihat bagian bawah tubuh Evan yang ternyata hanya berbalut handuk berwaran putih. Gadis itu tiba-tiba saja tersentak kaget, dia bahkan langsung bangun dengan mata yang sudah melotot tajam.
“Kamu sengaja ‘kan?” tuduh Xena.
“Cih … aku pikir kamu sedang sakit atau apa, ternyata-“ Evan tak menggubris pertanyaan Xena, dia malah dengan sengaja melepas handuk dan sontak membuat Xena ternganga.
“Evan Dimitri kamu benar-benar.” Xena menutup muka dengan bantal, matanya baru saja ternodai dengan tampak belakang badan Evan yang polos.
“Kamu bahkan sudah pernah melihat semuanya, kenapa harus malu?” Evan dengan entengnya mengenakan baju di depan Xena. Pria itu masih memunggungi sang istri, hingga Xena perlahan menjauhkan mukanya dari bantal, mengintip sedikit dan semoga saja matanya tidak bintitan.
“Ayo kita keluar makan”
“Kita memang memiliki hubungan, bukankah kita suami istri yang sedang pacaran?”
Xena seketika mengangkat kepala, dia hampir menyanggah ucapan Evan tepi lebih dulu terkejut karena pria itu sudah duduk tepat di depannya. Bahkan aroma tubuhnya menguar membuat fantasi liar berlarian di dalam kepala Xena.
“Jika kamu tidak mau makan aku akan membawakan makanan ke kamar, kamu pasti lelah.” Suara Evan begitu lembut membuat iman Xena mulai goyah. Temaram lampu kamar, hati yang memang masih memiliki perasaan ke pria itu membuat logikanya kalah.
“Mereka melihat kita datang bersama dan mereka pikir aku adalah selingkuhanmu,” ucap Xena mencoba mencurahkan isi hatinya.
“Siapa yang berkata kamu selingkuhanku?”
“Ada, peserta pelatihan,” jawab Xena sambil menatap mata Evan dalam-dalam.
“Biarkan saja!" ucap Evan yang terlihat berpikir. "Tapi untuk mematahkan anggapan itu, kenapa tidak kamu tunjukkan saja kalau sebenarnya kamu adalah istriku.” Evan mengangsurkan tangan, mengusap sisi pipi Xena dan membuat istrinya terkesiap.
Namun, entah kenapa Xena tidak bisa menolak. Ia memang membutuhkan kasih sayang seperti ini. Keduanya bersitatap, hingga tanpa Evan duga Xena melingkarkan tangan ke pingangganya. Kini, giliran Evan yang dibuat kaget.
_
_
_
_
_
Geng aku mau bagi info kalau aku juga punya novel yang bisa dibaca gratis sampai tamat. Kepoin aja Instagram aku, infonya ada di sana.
Tenang aja, Xena Evan akan tamat di sini nggak mungkin pergi-pergi. Jangkar titanic ada di tangan kleyan hohohoho