
Sementara itu, Xena terdiam sesaat setelah melihat Evan pergi begitu saja. Namun, perasaan mengganjal itu dia usir jauh-jauh, dia lantas kembali ke kamar yang berubah menjadi studio mini tempatnya menyimpan lukisan. Seakan-akan tak terjadi apa pun, Xena kembali sibuk mengarahkan para pekerja agar hati-hati membawa semua lukisannya.
Tika dan Ridwan tengah sibuk memotret lukisan Xena dan bersiap mempostingnya di kantor. Namun, tindakan itu urung dilakukan karena Xena yang baru tiba langsung menginterupsi. Dia melihat detail tulisan yang hampir di post oleh Tika.
"Kenapa, Bu? Apa gambarnya kurang bagus?" tanya Xena yang sedang duduk di depan laptop. Sementara Xena, dia memegang dagu sembari menunduk melihat lamat layar itu.
"Tidak, gambar yang kalian ambil sudah bagus. Pencahayaannya juga cukup. Hanya saja aku tidak ingin menggunakan nama asli," tutur Xena. Setelah itu dia berdiri mondar-mandir di belakang Tika yang saling tatap dengan Ridwan.
"Lalu, kita pakai nama apa, Bu?"
"Sebentar, biarkan aku berpikir."
Hening, Tika dan Ridwan hanya bisa menatap Xena yang masih bolak-balik sembari memegang dagu. Hingga akhirnya mereka terkejut saat mendengar teriakan Xena yang melengking. Bos mereka itu terlihat sangat bersemangat.
"Aku sudah punya nama yang bagus. Aililea De Luna. Aku akan pakai nama itu. Bagaimana? Bagus tidak?" Xena menatap secara bergantian Tika dan Ridwan. Kedua karyawannya itu tampak serius hingga membuat Xena agak khawatir, apakah nama yang dipilihnya itu aneh?
Namun, perasaannya kembali membaik saat melihat senyum Tika.
"Nama yang bagus," ucap Tika.
"Ya, saya pikir juga nama itu akan memberi kita hoki," timpal Ridwan.
"Bagus, aku harap nama itu akan memberi kita keberuntungan," gumam Xena, senyumnya mengembang. Sangat berharap lukisan-lukisan itu laku.
Di saat Xena, Ridwan dan Tika sedang berusaha keras menjual lukisan, ada sosok laki-laki dewasa yang uring-uringan di kantornya. Dia adalah Evan, perdebatannya dengan Xena tadi pagi berefek dengan kinerjanya hari ini. Karena Xena dia tak bisa fokus dengan apa pun. Bawaannya hanya ingin marah, tapi bingung melampiaskan pada siapa.
"Kamu keterlaluan, Xen. Apa aku orang lain? Kenapa harus menjual lukisan demi uangku. Aku suamimu. Uangku ya artinya uangmu juga. Kenapa harus dibayar segala," gerutu Evan. Dia kembali menyandarkan kepala di kursi lantas memukulnya pelan dengan punggung tangan.
Setelah agak lama, dia kembali duduk tegak dan meraih ponsel yang tergeletak di meja. Dia menyentuh layarnya dan berharap Xena menghubungi. Hanya saja itu hanya angan-angan, sebab tidak ada satu pun pesan ataupun panggilan dari Xena. Melihat itu perasaan Evan jadi makin kacau, dia usap wajahnya yang gusar dengan sebelah tangan, lantas menatap foto kebersamaan dirinya dan Xena yang ada di atas meja.
"Apa aku tak layak jadi suami kamu? Apa aku hanya suami palsu untukmu, Xen? Apa begitu?" gumam Evan frustrasi.
Sepulang dari kantor Evan berusaha mencari keberadaan Xena, berharap bisa berbicara empat mata, hati ke hati, akan tetapi nihil. Istrinya itu tak kelihatan batang hidungnya. Dari teras sampai dapur, tak didapatinya keberadaan Xena.
"Mana Nyonya?" tanya Evan pada pembantu rumah tangga yang kebetulan sedang mengangkat jemuran di taman samping.
"Nyonya Xena belum pulang, Tuan."
"Belum pulang? Jam segini?" Evan terkekeh hambar. Kenyataan bahwa Xena tidak ada di rumah saat dia pulang kerja membuat hati Evan makin remuk. Dia merasa Xena benar-benar mengabaikannya.
"Apa mau saya siapkan makan malam?"
"Tidak perlu. Lanjutkan saja pekerjaan kamu."
*
Sepulang kantor Xena sudah mendapati rumah sepi, bahkan beberapa lampu telah padam. Kesibukan menjual lukisan membuatnya lupa waktu hingga pulang larut malam.
"Mana Tuan? Apa sudah pulang?" tanya Xena pada pembantu rumah tangga yang membukakan pintu untuknya.
"Sudah, Nyonya. Sudah sejak sore."
Xena mendesah berat kala teringat perdebatannya dengan Evan tadi pagi.
"Apa dia sudah makan malam?" tanya Xena lagi.
"Belum Nyonya. Sepulang kantor Tuan langsung masuk kamar dan tidak keluar lagi."
Kembali Xena mendesah berat, kepalanya agak mendongak melihat pintu kamar mereka yang ada di lantai dua. Dia yakin suaminya itu pasti merajuk dan kecewa.
"Ya sudah, istirahatlah! aku sendiri yang akan mengajaknya makan."