Suami Palsu - 40 Days Husband

Suami Palsu - 40 Days Husband
Bab 73


Evan hanya bisa menahan rasa malu. Awalnya aman-aman saja menggunakan ranjang milik sepupu Xena itu, tapi karena hasratnya masih menggebu. Ia pun memainkan ronde kedua, Evan meminta Xena menemaninya berlayar lagi, dan saat sedang berada dipuncaknya kaki ranjang yang terbuat dari kayu itu patah sebelah.


Evan ingin tenggelam saja ke samudera, dia begitu malu mengakuinya ke Hantoro yang pagi itu sudah pulang dan heran mendapati dirinya berada di sana.


“Jadi kamu percaya sama tantemu itu? mana mungkin di rumah Om ada ranjang keramas? Anak itu datangnya dari Tuhan Sen,” ucap Hantoro.


Evan yang duduk bersebelahan dengan Xena pun kebingungan, tapi seketika mengangguk-angguk saat sadar Hantoro memang memiliki kebiasaan salah bicara.


“Aku ganti aja deh Om ranjangnya, dari pada nanti pusing saat kak Kirana datang.” Xena menoleh Evan dan suaminya itu setuju dengan idenya.


“Aku akan meminta sekretarisku mencarikan ranjang dan mengirimnya ke rumah Om Han,” sambung Evan.


Mereka bertiga masih berbincang membahas masalah ranjang, hingga suara Soya terdengar dan membuat Xena saling pandang dengan Evan.


“Kok Soya datang pagi-pagi, naik apa?” tanya Xena karena tak mendengar suara mobil tadi.


“Minta naik becak, gempor nggak tuh kaki bapaknya."


Xena dan Evan menoleh, keduanya ketakutan karena ternyata Kirana yang berbicara. Mendapati sang sepupu berada di sana, Kirana pun menyalami Xena dan menanyakan kabarnya.


“Maaf kak sebenarnya kami semalam tidur di kamar kakak, dan kami tak sengaja membuat salah satu kaki ranjang patah.”


Kirana mengerjab, ranjang rusak bukan masalah baginya. Hanya saja kini pikiran wanita itu menjadi sedikit liar. Bagaimana ranjang bisa sampai patah? mungkinkah sepupunya itu melakukan simulasi gempa sama seperti dirinya dan Mike-sang suami dulu.


“Tenang saja! sebenarnya ranjang itu memang sudah pernah patah kakinya, tapi Mike membetulkannya karena malu jika sampai orang rumah tahu,” bisik Kirana.


Evan yang mendengar bisikan kakak sepupu istrinya itu pun berucap,”Aku malah bercerita ke Om Han kalau kami mematahkannya.”


“Tamat riwayat kalian, dia pasti akan membicarakannya saat ada kumpul keluarga.”


Evan menelan saliva, ke mana dia akan menyembunyikan mukanya saat itu benar-benar terjadi. Kirana Menepuk pundaknya, wanita itu menyusul putrinya dan Hantoro yang sudah masuk ke dalam.


“Mama mampir ke pasar,” jawab Kirana sambil berlalu.


***


Merasa bahwa mereka sudah tidak memiliki keperluan di rumah itu, Evan dan Xena pun memilih untuk pulang. Merasa aman, Xena mengiyakan saat Evan memintanya masuk ke dalam mobil. Keduanya saling lirik hingga Xena menyalahkan Evan.


“Ini gara-gara kamu ranjang kak Kirana rusak.”


“Hei … kamu yang menarikku Xen,” elak Evan.


“Tapi kamu yang meminta lagi.” Xena menoleh dan memasang muka masam, dia ingin Evan yang menanggung dosa dan malu akibat rusaknya ranjang keramat itu.


“Tapi jika kamu tidak mengiyakan tentu aku tidak akan melakukannya. Aku melakukannya atas izin darimu.”


Xena menekuk bibir lantas bersedekap. Di dalam hatinya dia memutuskan untuk tidak akan pernah mau menghadiri acara keluarga papanya. Evan tidak tahu saja bagaimana mulut Om-nya jika sudah berbicara. Selain selalu salah ucap juga tidak terfilter dengan baik.


Membuang muka melihat pemandangan di luar jendela. Xena teringat bahwa dia harus segera memutuskan menerima beberapa orang yang melamar untuk bekerja dengannya. Ia tidak ingin ada masalah lagi dengan dana CSR yang dianggap didapat melalui jalur nepotisme.


_


_


_


like


komen ❤