
“Aku tidak bisa berbaring ke kiri, lutut dan sikuku sakit Xenxen.” Evan merajuk saat dia dan Xena sudah tidur di ranjang untuk mengistirahatkan raga.
Xena baru saja protes, dia meminta Evan miring ke sebelah kiri karena dia pegal dengan posisinya yang tidur miring ke kanan, dia juga ingin miring ke kiri, tapi dengan posisi sekarang mereka akan berhadapan dan itu membuat Xena tidak suka.
“Aku juga pegal, kalau begitu aku pindah kamar saja.” Xena hampir bangun tapi Evan menariknya kencang hingga terbaring lagi.
“Xen aku ingin bicara, jangan pergi kemana-mana!”
“Bicara apa? bicara saja, aku akan mendengarkannya,” sewot Xena tapi akhirnya memilih berbaring juga.
Mata Xena mengerjab, dia mulai salah tingkah dengan sikap Evan yang dirasanya mulai akan meluncurkan jurus gombalan maut. Tetap waspada, jangan mudah terpengaruh dengan bujuk rayunya. Xena membentengi hati.
“Bukankah kamu sudah tahu fakta yang sebenarnya? Jihan tidak pernah hamil.”
“Tapi faktanya kamu pernah tidur dengannya, semua pria sama saja. Andai saja ada ilmuwan yang menemukan alat penditeksi keperjakaan, aku pasti akan membelinya satu agar bisa menyeleksi semua pria yang ingin mendekatiku.” Dua kalimat dari Evan dibalas Xena dengan untaian kata sepanjang gerbong kereta.
“Maaf, untuk ketidaksetianku saat itu. Aku hanya bisa minta maaf, aku menyesal.”
Xena tercekat mendengar permintaan maaf Evan. Bukankah pria itu salah? tapi kenapa sekarang dia juga ikut merasa bersalah?
“Itu-“
Xena belum sempat mengungkapkan apa yang ada di dalam pikirannya, karena Evan dengan berani lebih dulu membelai pipinya, sikap pria itu berhasil membuat pipinya bersemu merah.
“Ev!”
Hampir saja menjauhkan tangan pria itu dari pipinya, tapi secepat kilat Evan mencekal tangannya.
“Katakan padaku! apa kamu benar-benar tidak mencintaiku? Xen, meski kurang dari empat puluh hari lagi, bisakah kita menjadi pasangan yang sebenarnya selama sisa waktu itu?” tanya Evan.
“Jangan menolakku! Kita jalani saja layaknya seperti pasangan yang sedang bepacaran.”
“Apa manfaatnya untukku? Apa keuntungannya?”
Xena masih berpura-pura dungu.
“Aku tahu kamu masih mencintaiku, tapi kamu ragu untuk menjalaninya. Bagimu hubungan kita abu-abu, kamu tidak ingin berakhir pilu.” Ucapan Evan tepat menghujam ke hati Xena, entah hanya tebakan atau memang pria itu bisa merasakannya.
“Xen, beri aku kesempatan ke dua. Sisa hari yang kamu berikan aku janji akan menggunakannya dengan sebaik-baiknya, selama ini aku bodoh. Aku menganggap kamu hanya adik, aku membencimu padahal bukan salahmu kita dijodohkan, aku terlambat sadar bahwa ternyata aku mencintaimu,” imbuh Evan.
Mulut Xena serasa terkunci, ia bahkan tersentak kaget saat melihat buliran kristal menetes dari sudut mata Evan.
Evan menggeleng, tapi kemudian membalikkan badan memunggungi Xena.
“Katanya lutut dan siku kirimu sakit? Kamu bohong!” Xena menghardik.
Tanpa berucap, Evan kembali berbalik menghadapnya. “Memang sakit,” ujarnya bak anak kecil. Pria itu tidak mau memandang wajah Xena kembali.
“Baiklah, aku akan memberikan kesempatan yang kamu mau.”
Evan mendongak kaget, dia tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar dan meminta Xena untuk mengulanginya lagi.
“Masih ada sisa tiga puluh satu hari lagi ‘kan?”
“Jangan curang, yang benar tiga puluh dua,” sanggah Evan.
Xena pun tak bisa menahan tawa, dia mengangguk dan mengiyakan perkataan Evan.
“Jadi kita resmi pacaran mulai malam ini,” ucap Evan. “Sebagai tanda jadian aku akan memberimu sesuatu.”
“Ap-“
Belum selesai Xena menanyakan apa, Evan sudah mendaratkan bibir ke keningnya, sontak saja dia kaget. Mata gadis itu berkedip-kedip dengan gemuruh dan letupan aneh di dalam rongga dada.
“Selain ini, sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku berikan kepadamu juga, tapi sepertinya lebih baik aku tunjukkan besok saja.”
_
_
_
_
_
Geng apa kabar?
jangan lupa tinggalkan like dan komen
thank you