Suami Palsu - 40 Days Husband

Suami Palsu - 40 Days Husband
Bab 47


“Papa!”


Xena kaget bahkan terlihat gusar, Hari tidak tahu apa permintaan Evan, jika tahu mungkin papanya itu tidak mungkin akan memerintah Evan datang dengan entengnya.


“Dia minta apa ke kamu? duit? Atau apa? bilang sama Papa! Papa akan kasih apa yang dia mau,” ucap Hari dengan tegas.


“Serius Papa mau kasih apa yang dia mau? dia minta dilukis.”


“Oh … kalau itu jelas Papa tidak bisa,” jawab Hari cepat. Pria itu buru-buru masuk ke dalam rumah meninggalkan Xena yang menahan tawanya.


Setelah punggung Hari tidak terlihat, Xena meraih ponsel. Ia mengetikkan sebuah pesan yang melarang Evan untuk datang, karena dia besok juga akan kembali pulang. Untuk malam ini, dia ingin menginap di rumah papanya.


_


_


_


Pagi harinya, Xena benar kembali. Ia turun dari taksi tanpa membawa apa-apa karena sengaja meninggalkan kopernya di rumah sang Papa. Ia disambut dengan suasana riuh, Xena terkejut melihat beberapa pembantu rumah panik, hingga membuatnya ikut panik.


“Ada apa?” tanyanya ke Yayuk, Xena melihat kapas dan obat luka di tangan pembantunya itu.


“Tuan, jatuh dari sepeda.”


Bukannya cemas, Xena malah berjalan santai. Ia tahu dengan jelas Evan memang memiliki hobi bersepeda, jika sampai jatuh bukankah itu hal yang wajar. Namun, pandangannya berubah saat melihat keadaan pria itu.


“Ev!” Xena mendekat tak percaya, bukan hanya lutut dan siku tapi pipi pria itu juga nampak terluka.


Pria itu hanya menoleh dan meringis, sedangkan Xena entah kenapa tiba-tiba saja merasa iba. Ia menggeser kursi tepat di samping sofa di mana Evan menyandarkan punggung dan meluruskan kakinya yang babak belur.


“Bagaimana bisa kamu jatuh?” Xena hanya bertanya, tapi Yayuk malah menyerahkan kapas dan obat ke tangannya, seolah dia lah satu-satunya orang yang berhak mengobati luka Evan.


“Gara-gara ayam sialan! bukannya menghindar dia malah terbang ke depan mukaku,” ucap Evan dengan amarah yang kentara, tapi lagi-lagi dia meringis merasakan perih di lututnya.


Sebenci apa pun Xena ke Evan, hatinya tetap saja menaruh rasa, apa lagi melihat pria itu kesakitan, dia tidak bisa membiarkannya begitu saja. Dengan penuh perhatian, Xena meminta diambilkan air dan cairan antiseptic, dia ingin membasuh luka Evan lebih dulu sebelum mengoleskan obat.


“Agh! Agh!” Evan berteriak kesakitan, dia semakin menjadi-jadi mendapati perhatian Xena kepadanya.


“Mati apa? setelah aku jatuh mahkluk itu berjalan dengan santainya seolah tanpa dosa,” gerutu Evan.


“Syukurlah.”


Evan melotot tak percaya, dia mencoba melihat ekspresi wajah Xena yang menunduk sibuk mengobati lukanya. “Bagaimana bisa kamu bersyukur karena ayam itu selamat, apa kamu tidak kasihan kepadaku yang babak belur?”


Xena tidak membalas, dia lebih fokus dengan luka Evan, tapi setelah selesai dia meninggalkan Evan begitu saja. Meminta pembantunya untuk membersihkan kotoran kapas yang baru dia pakai saat datang membawakan minum.


_


_


_


_


Saat di kamar Evan yang terpincang-pincang masuk ke ruang ganti, berusaha meraih kemejanya yang ada di lemari tapi disambar lebih dulu oleh Xena.


“Terima kasih,” ucap Evan, meraih baju itu kemudian berusaha melepas satu persatu kancingnya.


“Apa kamu tidak mau mandi dulu? Pergilah mandi! Aku akan menyiapkan baju kerjamu.”


Evan tersenyum dalam hati, tak menyangka bahwa Xena akan menjadi perhatian saat dirinya terluka seperti ini. Sepertinya dia harus berterima kasih kepada ayam yang terbang menabraknya tadi.


_


_


_


_


Like dan komen ya


Follow Na di IG @nasyamahila