
"Loh, Xen. Ini kenapa dikeluarkan?"
Evan yang sudah rapi dengan setelan kantor menatap heran Xena yang sedang menginstruksikan ke beberapa orang pembantu agar membantunya mengeluarkan lukisan dari studio mini milik Xena.
"Iya, Ev. Semua ini mau aku bawa ke kantor," sahut Xena sekenanya.
"Kantor?" Evan refleks mengulang dan mendadak perasaan tidak enak menggerayangi dadanya.
"Iya, kantor."
"Sebentar." Evan pun menarik tangan Xena dan menuntunnya menjauh dari pembantu yang sibuk berlalu lalang. Sebenarnya tidak masalah bagi Evan tentang apa yang akan Xena lakukan ke lukisan-lukisan tersebut. Hanya saja ini agak mendadak dan dia bingung. Mustahil semua lukisan itu akan di pajang di kantor yang tidak seberapa besar itu.
Ya, dipajang. Itulah isi kepala Evan.
"Xen, itu semua mau kamu bawa?" tanya Evan lagi. Kini dia dan Xena berada di ruang tengah.
"Iya, semua."
"Tapi untuk apa?"
"Untuk di jual, Ev. Bahkan lukisan yang di rumah Papa juga sudah aku bawa ke kantor."
Mata Evan langsung terbelalak. Dia heran seheran-herannya. Saking tak percaya lelaki berkemeja biru navy itu sampai menyentuh kuping, takut salah dengar.
"Kamu serius mau jual lukisan kamu? Tapi bukannya kamu bilang ingin mengadakan pameran khusus karya kami sendiri suatu saat nanti?" cecar Evan. Dia benar-benar tidak habis pikir.
Xena yang mendengar itu pun menghela napas. Ucapan Evan memang benar adanya. Dia memang ingin melakukan pameran nanti, suatu saat. Namun, mengingat keadaan sekarang dia jadi ragu apa bisa mewujudkan keinginan itu.
"Tidak apa-apa, Ev. Aku sudah berubah pikiran. Lebih baik ini di jual," jelas Xena dengan mimik agak menyesal. Melihat itu Evan jadi makin bingung. Jika sayang lalu untuk apa dijual?
"Tapi untuk apa? Apa kamu kekurangan uang? Ayolah, Xen. Jangan begini. Aku tidak setuju kamu menjual lukisan-lukisan itu. Aku tidak suka!"
"Tapi aku memang butuh uang, Ev. Aku butuh uang buat bayar hutang ke kamu."
"Ev?"
Evan menyugar rambutnya frustrasi, lantas memegang kedua belah pundak Xena. Istrinya itu terlihat kentara sekali tengah terkejut.
"Maafkan aku, aku hanya kaget. Kamu, kamu rela jual barang berharga milikmu demi bayar aku?" ulang Evan dengan nada setengah geram.
Xena pun mengangguk.
"Ayolah, Xen. Apa aku pernah bilang kalau uang itu aku pinjamkan? Tidak, 'kan? Jadi kamu tidak berkewajiban untuk membayar," jelas Evan lagi. Lebih menggebu-gebu. Dia kesal pada Xena yang seakan tak menghargai niat baiknya.
"Tapi aku harus tetap membayar, Ev. Itu uang kamu," balas Xena yang masih bersikukuh dengan pendiriannya.
"Xena!" Evan yang kesal jadi makin tambah kesal. Dia bahkan meninju angin. Setelah itu menatap Xena yang memasang wajah tak berdosa. Jika dipikir, beginilah Xena. Dia bukan wanita manja.
Memikirkan itu Evan semakin gera,. Dia tahu karakter Xena, tapi jika harus menjual lukisan demi membayar utang itu sama saja tak menghargainya sebagai suami. Itu melukai harga dirinya sebagai seorang pria.
"Ev, kamu marah?" tanya Xena. Dia mengerjap heran.
Alih-alih menjawab Evan justru berdengkus. "Sudahlah, aku pergi!" ketusnya.
Setelah itu Evan melengos pergi. Dia melangkah membawa kegondokan hati yang hakiki. Ia masih tidak mengerti dengan pemikiran istrinya, untuk apa memiliki suami kaya ray ajika tidak dimanfaatkan, begitu pikir Evan.
_
_
_
Next
jangan lupa Like Komen