
Xena mencium bibir Evan, dia bahkan mengendalikan permainan. Membuat Evan sampai kesusahan untuk mengimbangi permainan lidahnya. Xena menyudutkan Evan ke tembok, berjinjit agar bisa mengimbangi tinggi badan suaminya itu.
Melupakan masalah yang sedang menimpanya, Evan mengusap lembut punggung Xena dan mulai melepaskan celemek yang dipakai sang istri.
Mereka masih saling mencumbu hingga Evan mendorong lembut tubuh Xena. Keduanya masih bercumbu sambil berjalan hingga berhenti tepat di depan meja kerja yang ada di ruangan itu. Seperti yang Xena minta, Evan mulai melucuti pakaiannya sendiri juga pakaian sang istri. Setelahnya merebahkan setengah tubuh Xena ke atas meja kerja itu. Evan tidak langsung melepaskan titanic-nya ke samudera, dia sasar leher dan dada istrinya itu sampai Xena belingsatan. Bibir Evan tersenyum mendapati pujaan hatinya itu memejamkan mata dan menggeliat. Hingga dia menjauhkan kedua kaki Xena dan memulai aksinya. Titanic pun berlayar hingga ke samudera lepas, membawa keduanya terhempas hingga ke ujung nirwana.
“Pinggangku!” keluh Xena setelah Evan puas menikmati tubuhnya, dia berdiri tanpa busana di depan Evan yang juga terlihat sama polosnya. Xena memijat pinggang, memunguti baju dengan memasang muka masam. “Aku tidak akan coba-coba melakukannya lagi di atas meja kerja,” gerutu Xena.
***
Malam harinya Xena nampak berkemas, dia berencana pindah ke rumah papanya dulu sampai berita mengenai dirinya dan Evan mereda. Tidak suka dengan keputusan Xena, Evan hanya duduk di tepian ranjang sambil menyilangkan kedua tangan.
“Ev, jangan cemberut seperti itu. Kita masih bisa bertemu nanti. Aku tidak ingin menjadi batu sandungan dalam karirmu.”
Ucapan tulus Xena malah terdengar menyakitkan di telinga Evan. Pria itu berdiri dan mengekor sang istri yang sejak tadi keluar masuk ruang ganti. Ia peluk pinggang Xena dari belakang saat istrinya itu hendak meraih baju yang ada digantungan.
“Ini aneh, bagaimana bisa kita harus sembunyi-sembunyi dalam berhubungan. Kapan aku bisa menggandengmu dengan bebas, kapan kita bisa keluar makan dan jalan-jalan tanpa takut dengan pandangan orang?” Evan memberondong Xena dengan banyak pertanyaan.
“Sebentar lagi, setelah sekolah dan galeriku berdiri,” jawab Xena.
“Kenapa? apa alasannya?” Evan memutar tubuh Xena, menangkup pipi istrinya itu dan menyelam jauh ke dalam netranya.
“Aku tidak bisa mengatakan alasanku untuk saat ini, tapi aku bisa pastikan bahwa ini tidak akan berpengaruh ke hubungan kita.”
“Kamu selalu seperti ini, membuatku tidak bisa tenang.” Evan kembali memasang muka masam, hingga Xena menunjuk-nunjuk hidung dan pipinya menggoda.
“Tenang saja! aku tidak akan pergi kemana-mana, aku juga tidak akan mungkin pergi ke Inggris lagi, asal kamu tidak mengulangi kesalahan yang sama,” ucap Xena setengah menyindir.
Pipi Xena bersemu merah, hatinya menghangat mendengar Evan membahas perihal anak dengannya. Xena pun memeluk pinggang Evan, memiringkan kepala ke kiri dan ke kanan membujuk suaminya itu agar mau tersenyum.
“Ev! Ayo senyum! Kamu jauh lebih tampan saat tersenyum,” goda Xena.
Bukannya melakukan apa yang sang istri minta, Evan malah menyambar bibir Xena sekilas lantas menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukan.
“Tapi aku takut papamu akan salah paham dan marah lagi padaku,” bisik Evan yang merasa sangat khawatir.
“Aku akan menjelaskan ke papa, ini hanya untuk sementara sampai semua berita itu mereda dengan sendirinya,” jawab Xena yang nyaman mencurukkan kepala ke dada sang suami.
“Boleh aku mengantarmu besok?”
“Tidak boleh! aku takut ada yang memata-matai kita!”
_
_
_
_
mata2nya adalah mahahiya 🤗
boleh donk komen dan like 😘