Suami Palsu - 40 Days Husband

Suami Palsu - 40 Days Husband
Bab 76


Benar saja, kecemasan Xena akhirnya terjadi. Sebuah isu kembali menyebar dan membuatnya ketar-ketir. Padahal baru juga dia tenang karena kantornya kini sudah terlihat layak dan dia ingin mulai fokus dengan tujuannya, seperti apa yang tertuang dalam proposal dana CSR yang dia terima.


Namun, siapa yang tidak tahu kekuatan media. Yang tidak benar disulap sedemikian rupa seakan itulah kenyataan yang terjadi. Melihat itu Xena jadi tak tega pada Evan. Karena gosip yang semakin parah ini pastilah akan berefek juga pada perusahaan sang suami. Evan pasti akan menjadi bulan-bulanan media, dan jelas Xena tidak ingin itu terjadi.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" gumam Xena, dia lantas keluar dari halaman akun media sosial milik salah satu akun gosip. Gerah hati melihat itu. Di sana terpampang gambar kebersamaan dirinya dan Evan beberapa hari yang lalu. Foto itu menunjukkan betapa mesranya mereka. Berbagai komentar jahat pun berdatangan dan semakin lama semakin menggila.


Tak ingin komentar buruk itu memengaruhi dirinya, Xena pun memutuskan mendatangi Evan. Dia panggil suaminya sembari berjalan menuju ruang kerja Evan. Benar saja, suaminya itu sedang duduk sembari menatap layar laptop.


"Ev, apa yang kamu lakukan?" tanya Xena. Dia mendekat ke meja kerja Evan. “Kamu masih bisa bersantai, Ha?”


"Aku hanya sedang mengurus sesuatu," balas suaminya itu.


"Memangnya kenapa? Apa ingin bermain di sini?" lanjut Evan, matanya mengedip genit sembari memukul pelan meja dengan gaya sensual. Melihat gelagat itu membuat Xena jadi kesal dan berdengkus.


"Saat begini bisa-bisanya dia bercanda," gerutu Xena. Dia lalu menunjukkan layar ponsel ke Evan.


Evan yang tak tahu menahu tentang hal ini pun langsung terbelalak. "Ini, ini kenapa bisa begini?" tanya Evan.


"Ini semua karena kamu," sungut Xena. Dia bersedekap kesal.


"Tapi kita tidak salah, Xen. Tidak seharusnya kita sembunyikan hubungan kita."


"Tapi lihatlah efeknya, Ev."


Evan terdiam, begitu juga Xena. Keduanya saling pandang. Evan yang melihat kecemasan Xena pun berdiri. Dia pegang kedua pundak istrinya itu.


"Sudahlah. Jangan dipikirkan. Besok pagi akan aku bahas ini dengan mereka. Akan aku jelaskan yang sebenarnya kalau ...."


"Kita tidak bisa seperti ini terus, Ev," sela Xena mantap.


Melihat itu alis Evan naik sebelah. "Maksud kamu apa? Tolong jelaskan."


"Xen!" Evan terkejut. Dia tak menyangka kalimat itu akan keluar dari bibir Xena. Dia tahu, yayasan yang akan dibangun dari dana CSR ini adalah impian terbesar istrinya.


"Jangan asal bicara, Xen. Percayalah padaku. Aku akan mengurusnya. Tidak perlu mundur," tutur Evan yang mencoba mendamaikan hati Xena. Dia yakin Xena begini karena sedang tidak tenang karena berita itu.


"Tidak bisa, Ev. Aku akan mundur," balas Xena, bahkan terdengar lebih mantap dan yakin. “Aku akan mundur dan mengembalikan dana itu,” ulangnya.


"Xen?"


"Aku tidak ingin seperti ini. Membangun yayasan memang keinginanku sejak dulu. Tapi jika harus menyulitkanmu, aku tidak mau."


"Xena ...”


"Ev." Xena memegang kedua belah tangan Evan. Dari sorot mata itu Evan bisa melihat kesungguhan sang istri.


"Aku serius akan mundur," terang Xena lagi. “Aku tidak mau membahayakan perusahanmu, banyak orang yang bergantung di perusahaan, semua orang sepertinya tidak tenang karena masalah ini, jadi lebih baik aku mundur, ini keputusan terbaik.”


_


_


_


Next


like


komen