Suami Palsu - 40 Days Husband

Suami Palsu - 40 Days Husband
Bab 30


"Tunggu Ev, aku sudah bilang tidak ingin orang tau tentang status kita, kenapa kamu malah mau mengajakku pergi ke pesta? seperti dulu saat kamu menyembunyikan pernikahan kita dari dunia, sekarang aku juga ingin hal yang sama."


"Xen, pernahkah kamu berpikir bahwa jika kamu tidak pergi ke Inggris, kita pasti sudah punya bayi yang lucu sekarang?"


Xena yang sedang melukis di halaman belakang meletakkan kuasnya. Dia toleh Evan yang tidak biasanya pulang siang.


"Aku memang mengabaikanmu selama lima bulan di awal pernikahan, tapi tidakkah kamu merasakan setelahnya bahwa aku ingin memperbaiki hubungan?" Evan memindai wajah Xena. Bahkan dengan rambut sedikit berantakan istrinya itu masih terlihat sangat cantik.


"Dengan cara memerkosaku di atas meja kerjamu?" Xena kembali sinis, mengingat keperawanannya direnggut Evan dengan brutal.


Evan menghela napas mencoba untuk tenang, tidak mudah menjinakkan Xena. Pria itu memilih mengurai dasinya dan masuk ke dalam, berpikir jika membiarkan situasi terus seperti ini, jelas 40 hari yang Xena minta akan terlewati dengan sia-sia.


"Apa aku perlu menyatakan cinta dengan romantis? apa yang bisa membuatnya yakin? mungkinkah aku harus menyeret Jihan ke depan muka Xena untuk menjelaskan kalau dia tidak hamil? Ah ... kenapa cinta begitu rumit." Evan mengacak-acak rambutnya frustasi.


_


_


_


Evan memilih berdiam di ruang kerjanya hingga malam, memikirkan cara agar Xena mau membuka hati. Dia sudah hampir melewatkan dua hari tanpa kemajuan, benar-benar tidak menyenangkan.


Hingga mau tidak mau dia harus bersiap pergi ke pesta yang diadakan oleh salah satu rekan kerjanya. Evan keluar dari sana dan alangkah terkejutnya dia melihat Xena sudah berdandan cantik mengenakan gaun berwarna putih tulang.


“Kenapa belum siap? Apa kamu tidak jadi pergi ke pesta?” Xena memasang muka kesal, hingga Evan tersenyum dan berlari ke kamar untuk bersiap.


***


Namun, Evan pada akhirnya kecewa saat tahu kenapa Xena mau datang. Ternyata Devgan dan Hana juga berada di pesta yang sama. Ia semakin kecewa karena Xena tadi meminta dia menunggu di mobil, agar dia bisa masuk lebih dulu.


“Apa ini kekasihmu?” tanya Hana melihat Xena menghampirinya bersama Devgan. Gadis itu bingung menjawab dan memilih tersenyum.


Evan sengaja tidak mendekati Xena dan hanya memerhatikan gadis itu dari jauh, hingga Devgan yang melihat keberadaannya dengan sengaja memberi perhatian ke Xena dengan mengambilkan minuman, sampai membetulkan bagian belakang gaun gadis itu.


“Ada Evan,” ucap Devgan. “Aku dengar kamu kembali ke rumah.”


Xena melirik Devgan dan mengajak pria itu sedikit mundur ke belakang, bahaya jika sampai Hana mendengar apa yang mereka bicarakan.


“Kami hanya tinggal serumah lagi, tapi kami tidak kembali menjadi pasangan suami istri,” jawab Xena.


Kening Devgan mengernyit, dia tatap Xena kebingungan. “Tinggal serumah tapi tidak-.” bahunya mengedik heran. “Bagaimana bisa? apa dia tidak mau menceraikanmu?”


“Situasinya rumit Dev, aku tidak bisa cerita sekarang. Aku mohon jangan membahas Evan saat kita berada di sekitar orang-orang!” pinta Xena.


Evan yang kesal pun memilih pulang, dia meninggalkan Xena begitu saja tak peduli apa yang akan dilakukan gadis itu di sana.


_


_


_


_


“Ah … apa dia meninggalkan aku? apa dia pulang duluan?” gumam Xena yang pada akhirnya memilih untuk memesan taksi.


Sesampainya di rumah, Xena bersikap biasa. Meski begitu dia terlihat kaget saat masuk ke dalam kamar dan mendapati Evan duduk bersandar pada kepala ranjang, mata pria itu fokus menatap layar televisi.


“Bagaimana bisa kamu meninggalkanku di pesta itu? bagaimana kalau aku tidak punya uang untuk naik taksi pulang?” tanya Xena sambil meloloskan anting dari lubang telinganya.


“Ada Devgan, kamu bisa meminta dia mengantar. Bukankah bagimu dia lebih berharga dari aku?” ketus Evan.


Xena memilih untuk tidak menjawab Evan dan membahas hal yang lain. “Kenapa kamu tadi tidak menyapa Bu Hana dan Pak Prawira?”


“Malas.”


Xena mengedipkan mata dan menajamkan telinga, tingkah Evan sungguh terlihat bagaikan anak kecil yang sedang merajuk pada ibunya.


“Kamu menikmati pestanya ‘kan? kamu bahkan tertawa riang padahal tidak diundang,” cibir Evan.


“Aku ‘kan ikut kamu,” jawab Xena enteng.


“Kalau kamu ikut aku, kenapa kamu malah menyuruhku menunggu di mobil agar kamu bisa masuk lebih dulu?”


“Lalu kenapa kamu mau?”


Evan melotot tak percaya, kenapa dia bisa mati kata saat berdebat dengan Xena. Ia geram sampai meremas sprei ranjang.


“Xen, aku ini sedang cemburu. Apa kamu tidak mengerti?” kesal Evan.


“Ada gitu orang cemburu ngaku.” Xena berucap tanpa rasa bersalah, sampai Evan mengancamnya dan membuat nyali gadis itu menciut.


“Aku tidak akan membiarkan kamu tidur nyenyak malam ini.”


“A-a-a-apa?”


_


_


_


_


Ga ada gitu yang mau bagi Vote


tega Nian 🤧