
“Tolong! ada orang tenggelam!”
Xena berlari menuju sumber suara, menyusul Evan yang terlihat berlari masuk ke dalam air, ternyata bukan pria itu yang ingin bunuh diri, Evan malah menyelamatkan seseorang. Xena sendiri masih mencoba mengatur napas karena dadanya berdegup kencang. Pundaknya nampak turun, dia lega melihat Evan keluar dari air dalam keadaan utuh. Jelas Evan tidak sendiri, pria itu membopong tubuh seorang wanita yang langsung digelatakan di atas pasir, dan karena teriakan tadi beberapa orang terlihat berlari keluar dari dalam resort untuk melihat apa yang terjadi.
Dari jarak lima meter Evan menoleh Xena yang mematung. Gadis itu membeku, terkejut mendapati siapa wanita yang baru saja diselamatkan oleh suaminya tadi.
“Jihan, dia ada di sini.”
***
Hari berganti pagi, bahkan tiupan angin pantai membuat korden pintu kamar Xena menari. Gadis itu masih bergelung di bawah selimut, bahkan kain tebal itu masih membungkus sampai sebatas lehernya. Xena baru bisa tidur saat jam menunjukkan pukul satu pagi. Urusan perasaan membuatnya tidak bisa memejamkan mata.
Kemarin setelah menyelamatkan Jihan, Evan mendekatinya lalu berkata, jika tidak percaya dengan ucapannya soal wanita itu yang berbohong satu tahun lalu, Xena bisa menanyakannya sendiri. Mumpung Jihan masih hidup siapa tahu besok mau bunuh diri lagi. Namun, Xena tidak merespon dan pergi begitu saja, alhasil dia merasa ada sesuatu yang belum tuntas untuk dibicarakan.
“Xen, dia bahkan bercinta dengan wanita lain saat kamu masih menjadi istrinya, apa pria seperti itu bisa dipercaya?” gumam Xena dengan muka malas.
"Ah … bukankah kamu sebenarnya juga masih menjadi istrinya?” imbuhnya lantas mengembuskan napas lelah, bukannya bangun Xena malah menarik selimut sampai menutupi kepala, hingga tak lama dia tertidur lagi.
_
_
_
_
Beberapa jam kemudian, Xena nampak berjalan menghampiri Prawira, Hana dan juga Evan. Mereka sedang duduk di kursi malas menatap ke arah pantai. Bahkan Evan nampak bertelanjang dada dengan celana pendek di atas lulut.
Terlihat sangat keren? Tentu saja. Tubuh pelukable? Sudah pasti. Membuat horni? Ayo lah Xen, tahan dirimu.
“Xena!”
Hana menegakkan badan dan tersenyum melihat Xena datang. Sebuah balasan senyuman manis gadis itu berikan. Xena sengaja menggerai rambut panjangnya yang indah mirip bintang iklan sampo, dan karena semalam dia kepang pagi itu nampak bergelombang.
“Sepertinya kamu tidur nyenyak sekali, atau malah mungkin kamu lelah?” tanya Hana penuh perhatian.
“Tidak, Tidak lelah. Hanya semalam tidur terlalu larut, saya menikmati suasana di sini sampai lupa waktu,” jawab Xena yang lagi-lagi berbohong kepada Hana.
“Ah … aku baru ingat, apa benar semalam ada orang yang hampir tenggelam?” tanya Prawira, berpikir mungkin saja Xena tahu karena tidur kemalaman.
“Tidak, saya tidak tahu,” jawab Xena dengan enteng, dia tanpa sengaja melihat senyum cibiran di bibir Evan.
“Semalam yang menyelamatkan orang yang hampir tenggelam itu adalah aku,” sambar Evan.
“Benarkah?” Hana terkejut dan bahkan kini memasang wajah penasaran.
“Dia wanita, dan ternyata mantan kekasihku.”
“Aku dulu berselingkuh, maka dari itu istriku menginginkan perpisahan,” imbuh Evan.
“Apa?” Hana kaget dan bahkan geleng-geleng kepala. “Ev, ternyata kamu playboy,” ejeknya.
“Bukan playboy, aku tidak sering bergonta-ganti wanita, karena sangat dekat aku dulu menganggap istriku seperti adik sendiri, dan aku syok ketika orang tua kami malah menjodohkan kami.”
“Lalu kenapa kamu mau menikah jika tidak menyukai perjodohan itu?” tanya Prawira ingin mengulik lebih jauh masalah rekan bisnisnya itu.
“Karena wasiat ibundanya, aku sudah menganggap ibunya seperti mamaku sendiri,” jawab Evan.
Hati Xena terasa sakit kembali mendapati Evan membawa-bawa sang mama yang sudah tidak ada di dunia ini.
“Aku sedang menjalin hubungan dengan mantan kekasihku di saat aku sadar, bahwa ternyata perasaanku ke istriku bukanlah sekadar rasa sayang kakak ke adik, aku mencintainya.”
Prawira dan Hana saling pandang, mereka menoleh Xena karena sejak awal niatan mereka memang ingin menjodohkan gadis itu dan Evan, tapi kini Evan malah mengaku mencintai istrinya. Hana dan Prawira pun menjadi bingung.
“Jika kamu mencintainya seharusnya kamu menunjukkan ketulusanmu, jangan lagi berbohong kepadanya,” ucap Xena.
Evan pun mengangguk lantas menjawab,” Apa menurutmu dia akan percaya padaku jika aku menunjukkan ketulusanku?”
Xena menelan saliva, jelas sebuah kecurangan menanyakan hal ini di depan Prawira dan Hana, karena mereka belum mengetahui status hubungan mereka yang sebenarnya.
“Mungkin, siapa tahu dia akan memberimu kesempatan kedua,” jawab Xena asal.
“Ah …. apa kamu juga akan memberikan kesempatan ke dua untuk suamimu yang berselingkuh itu Xen?” tanya Hana memotong percakapan.
Evan menajamkan telinga, dia tahu Xena sudah jujur ke Hana bahwa dia sudah menikah.
“Ayo jawablah Xen, Jawab,” gumam Evan di dalam hati.
_
_
_
_
Tidak ada yang membuatku semangat Up di sini selain kleyan
Jadi jangan lupa tinggalkan komen dan like