Suami Palsu - 40 Days Husband

Suami Palsu - 40 Days Husband
Bab 33


Evan memilih bersikap biasa, dia tidak ingin termakan rayuan Xena. Jelas gadis itu bersikap manis karena ada maunya.


“Serahkan sebelum makan siang, jika tidak selesai aku tidak akan membantumu, dan soal 40 hari tetap harus kamu jalani bersamaku meski nantinya kamu tidak bisa tepat waktu menyelesaikan anggaran itu, dan gagal mendapat dana CSR perusahaanku.”


“Hem … aku janji.”


Xena mengulurkan jari kelingking, tapi bukannya mengaitkan jarinya ke jari gadis itu, Evan malah hampir saja memasukkan kelingking Xena ke dalam lubang hidungnya.


“Evan!” pekik Xena kesal.


“Lebih baik kamu cepat kerjakan dan jangan bermain-main dan malah mengedit fotoku dengan foto pria lain,” ucap Evan sambil menyembunyikan tawanya. “Aku akan menagihnya nanti.”


Xena bersikap santai dan menganggukkan kepala. Namun, tepat setelah mobil Evan keluar halaman, dia berlari menuju ruang kerja pria itu dan kembali menyusun anggaran yang belum dia selesaikan.


Xena benar-benar fokus menghitung dan menyesuaikan, hingga tak terasa jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang.


Dengan senyuman lebar, dia mengirimkan pesan ke Evan. Berbangga diri bahwa dia sudah menyelesaikan anggarannya bahkan sebelum makan siang. Sayang, teks balasan dari Evan membuatnya melotot tak percaya.


[ Selain kamu kirim via email, kamu juga harus mencetak dan membubuhkan tanda tangan, antar ke kantor sebelum jam dua belas siang ]


“Apa?” Xena menggaruk kepala frustasi, dia bahkan belum mandi. “Ah … dasar pria itu," gerutunya.


Xena pun buru-buru menghidupkan printer dan menyusun tata letak dokumen yang harus dia cetak. Untuk menghemat waktu gadis itu bahkan menggosok gigi sambil menunggui hasil cetakan anggarannya.


“Ev, apa kamu sengaja mengerjaiku?” gumam Xena. Dia bahkan mandi ala bebek. Yang penting badannya wangi. Soal muka, dia bisa menutupinya dengan pulasan make up.


_


_


_


_


Bak dikejar setan, Xena buru-buru datang ke kantor Evan. Apa lagi pria itu berkali-kali menghubunginya, menakut-nakuti jika tidak bisa tepat waktu dia tidak akan bisa membantu.


Xena sampai berlari, mencegat lift yang akan naik ke ruangan Evan dengan kakinya. Orang yang melihat tingkahnya pun sampai kebingungan. Ia mendekap map plastik ke dada seolah benda itu adalah nyawanya. Xena tidak peduli dengan pandangan aneh orang yang berada satu lift dengannya, dia memilih mengatur napas dan merapikan rambut yang berantakan.


“Satu.”


“Dua.”


“Ti-“


Evan tersenyum lebar. Pria itu menggerakkan kursi yang dia sandari ke kiri dan kanan mendapati Ricky membuka pintu ruangannya dengan Xena yang nampak tergesa masuk ke dalam.


“Selesai,” ucap Xena meletakkan map yang dia bawa ke atas meja Evan, tapi bukannya melihat isinya, Evan malah berdiri dan mendekat ke arah Xena dengan masih terus memulas senyum di bibir.


“Ha … apa?”


Xena kebingungan karena Evan malah berjalan ke luar ruangan, gadis itu menatap kertas anggaran yang dia bawa lalu menoleh pria yang seenak jidat memerintah dan membuatnya terburu-buru tadi.


“Lalu anggaranku?” Xena berlari mengejar Evan keluar, menatap punggung kekar pria itu yang terus melenggang seolah tidak memerdulikan usahanya. “Ev, apa kamu tidak mau mengeceknya dulu?”


“Ada Ricky yang akan mengeceknya,” jawab Evan tanpa beban, berusaha menutupi senyuman yang sejak tadi minta diloloskan kembali dari bibir.


“Ev, apa kamu sedang mengerjaiku?” Xena menolehkan badan, mendongakkan kepala menatap kesal Evan.


“Mengerjai apa? anggaran itu memang harus secepatnya masuk ke tim.”


“Iya secepatnya masuk tapi tidak hari ini, benar ‘kan?” Tanya Xena sewot.


Evan menundukkan sedikit kepala lalu memindai wajah Xena. Ia bahkan menatap bibir merah muda gadis itu. Membayangkan kalau rasanya pasti sangat manis jika dia hisap.


“Tidak hari ini untuk lembaga lain, tapi untukmu harus hari ini,” jawabnya enteng.


“Ev … kamu!”


“Apa? aku tampan ‘kan? karena itu kamu menciumku pagi ini,” goda Evan yang membuat pipi Xena bersemu merah. “Lihat! pipimu merona.”


Mata Xena membeliak lebar, dia dorong bahu Evan dan memilih bergegas mendahului pria itu masuk ke dalam lift. Mukanya masam melebihi rasa jeruk nipis. Selama lift itu turun ke bawah, Xena memilih diam. Dia kesal karena Evan berhasil mengerjainya. Hingga terkesiap karena pria itu tiba-tiba meraih telapak tangan dan mengaitkan jemarinya.


“Bukankah kamu masih istriku? Tidak haram menggandeng tangan istri seperti ini. Lagi pula hanya butuh menyembunyikannya dari Bu Hana dan Pak Prawira 'kan? kenapa kamu tidak jujur saja ke mereka agar kita bisa menjadi pasangan normal,” ujar Evan tanpa menatap wajah Xena.


“Jujur katamu? Jujur jika aku memang berniat hidup bersamamu, Tuan Evan Dimitri sepertinya Anda lupa, apa perlu saya ingatkan kalau waktu kebersamaan kita hanya tinggal 37 hari lagi,” ketus Xena tapi dia tidak berniat melepaskan tangannya dari genggaman Evan.


Evan pun tersenyum, dan malah semakin mempererat genggaman tangannya. Hingga lift itu terbuka di lantai yang dituju, Xena dan Evan kaget melihat sosok yang sudah berdiri tepat di hadapan mereka.


“Kalian-“


_


_


_


_


Kalian???


kalian udah komen, vote dan bagi hadiah belum


Enaaaa eh salah eyaaaaaaa 🤣