
Kejam, begitulah perbuatan Evan ke Xena. Dia memaksa putri Hari itu untuk melakukan hal yang tidak pernah terpikirkan oleh Xena sebelumnya.
“Ev.”
Muka Xena sudah kusut, gurat kelelahan jelas nampak di wajah. Ia duduk di kursi empuk Evan, sedangkan pria itu dengan santainya rebahan di sofa dengan meluruskan kaki dan bermain ponsel.
“Kamu pikir mudah mendapat dana CSR?” Evan bertanya tanpa beban setelah meminta Xena untuk menyusun budget dari dana CSR yang akan dia berikan. Parahnya dia meminta susunan anggaran bernilai miliaran rupiah itu selesai sebelum matahari terbit.
“Kamu bilang akan meminta Ricky dan tim membantuku, tapi apa? seharusnya aku sadar kalau sejak dulu kamu memang pembohong.”
“Ricky dan tim tetap akan membantu, tapi mau untuk apa uang itu ‘kan hanya kamu yang tahu,” jawab Evan santai karena hal itu memang fakta, untuk apa dana CSR hanya si penerima hibah lah yang paham.
Xena merebahkan kepala di depan laptop Evan yang menyala, matanya terasa perih melihat deretan kolom dan harus memasukkan angka ke dalamnya. Tangannya bergerak menutup lembar kerja, lalu melihat wallpaper pada laptop itu di mana Evan sengaja memasang foto pernikahan mereka.
“Dasar, sok romantis. Paling juga kamu baru memasangnya setelah aku kembali, pembual,” gumam Xena dalam hati.
Evan tersenyum. Karena penasaran dia mengangkat sedikit kepala untuk melihat apa mungkin Xena tertidur. Namun, ia terjingkat karena gadis itu menggebrak meja dan berdiri.
“Mau ke mana? Apa kamu mau menyerah?” Evan mengedipkan matanya melihat Xena bertingkah aneh seperti itu.
“Tidak, aku mau ke bawah untuk membuat kopi. Aku tidak akan dengan mudah menyerah.”
Xena berlalu keluar dari ruang kerja Evan, meninggalkan suaminya itu dengan seringai lebar di bibir, Evan benar-benar sukses membuat Xena tidak bisa tidur nyenyak malam itu.
_
_
_
Sepanjang malam, Xena menyusun anggaran untuk memenuhi persyaratan dana CSR perusahaan tambang Evan, gadis itu berpikir bahwa sudah berjalan sejauh ini, bahkan rela kembali ke kandang buaya, jadi tidak mungkin dia akan menyerah begitu saja.
Sementara Evan masih nyaman berbaring di sofa, memiringkan badan agar bisa menatap wajah Xena yang sibuk bekerja. Gadis itu bahkan sampai menggunakan bantuan alat hitung untuk menyusun anggaran yang dimintanya.
Tak masalah bagi Evan jika Xena menganggapnya kejam, tapi bisa melihat wajah gadis itu dari jarak dekat sungguh keberuntungan, meski kemarin tidur bersama tapi Xena terus memunggungi, bahkan sebelum dia bangun Xena sudah tidak ada di sampingnya.
Kembali fokus ke deretan angka-angka yang tertera di layar laptop, Xena mulai berpikir bahwa melukis lebih mudah dari pada kerja kantoran. Sejak tadi dia bingung bagaimana membuat angka itu pas dengan anggaran yang akan diberikan oleh perusahaan Evan. Hingga tak lama mata Xena tidak bisa untuk diajak bekerjasama lagi. Ia tertidur dengan laptop yang masih menyala, begitu juga dengan Evan yang akhirnya terlelap di sofa.
_
_
_
Tengah malam Evan terbangun. Mengusap wajahnya kasar, dia merasa bersalah melihat posisi Xena masih duduk di kursi kerjanya. Punggung gadis itu pasti sakit jika terus dibiarkan tidur dengan posisi membungkuk.
Perlahan Evan mendekat, dia menggeser kursi dan mengangkat tubuh Xena. Ia ingin menggendong dan membawanya ke kamar, tapi urung. Evan memilih menidurkan Xena di sofa dulu, dia ingin mengecek pekerjaan gadis itu, terlalu penasaran apakah Xena bisa menyelesaikan anggaran yang dia minta.
“Ah … dasar XenXen,” gumam Evan.
Bukannya menyelesaikan budget yang dia minta, Xena ternyata malah membuka aplikasi untuk mengedit gambar. Gadis itu mengganti mukanya di foto pernikahan mereka dengan muka orang lain.
“Siapa pria ini? apa pria yang dia temui di Inggris?” Evan bertanya-tanya sendiri. “Tapi wajahnya seperti orang Asia.”
Evan menggaruk kepala, dia tidak tahu bahwa Xena penggemar berat aktor Korea bernama Kim Seon Ho.
_
_
_
Like
Komen
Ini baru hari ke dua jangan nunggu ENaa oh yes oh no dulu ya Mahahiya Zeyeng