Suami Palsu - 40 Days Husband

Suami Palsu - 40 Days Husband
Bab 36


Xena membuka mata pagi itu, merasakan sebuah tangan melingkar di perutnya. Ia bertahan beberapa menit, mencoba menstabilkan detak jantungnya yang bertalu merdu. Tangan itu tak lain milik pria yang membuatnya harus memasak nasi goreng larut malam kemarin.


Gadis yang memiliki bakat melukis itu mencoba berpura-pura kembali memejamkan mata saat Evan bergerak, toh Pria itu tidak bisa melihat ekspresi wajahnya karena dia tidur memunggungi. Namun, bukannya menjauh Evan malah terasa mencurukkan kepala ke punggungnya, membuat dada Xena semakin berdebar tak karuan.


"Aku ingin jujur ke Bu Hana tentang statusku, tapi aku tidak ingin mengakui bahwa kamu adalah suamiku, aku takut dia berpikiran yang macam-macam." Xena mengingat perbincangannya dengan Evan semalam.


"Sepertinya kamu memang benar-benar tidak menganggapku, kamu ingin mengaku sudah memiliki suami tapi tetap tidak mau mengakuiku, itu sama saja. Lalu bagaimana dengan 40 hari yang kamu janjikan padaku?"


"Aku akan tetap menepati janji itu, tapi setelahnya.... "


"Tidak usah diteruskan, aku sudah tahu. Jika seperti ini, aku akan membuat bucket list, " ucap Evan. "Aku akan menulis semua hal yang ingin aku lakukan bersamamu dan kamu harus mengabulkannya tanpa terkecuali."


"Lakukan saja!"


"Baiklah, yang pertama biarkan aku memelukmu saat tidur."


Xena menghela napas, dia bahkan tidak bisa menolak bucket list pertama Evan. Hatinya terus saja menang melawan logikanya.


_


_


_


Saat sarapan, Hari masih menunjukkan ekspresi tak bersahabat ke Evan. Meski pria itu tak mengeluarkan kata-kata, tapi Evan tetap saja salah tingkah sampai tersedak nasi yang dia makan karena tatapan tajam sang mertua.


Xena memilih tidak menunjukkan perhatian, dia membiarkan pembantu rumah papanya yang menuangkan air minum untuk Evan.


"Apa kamu akan pulang bersama dia?" tanya Hari melotot pada Evan, padahal jelas jika pertanyaannya itu ditujukan untuk sang putri.


"Kami akan sering berkunjung," jawab Evan cepat, tatapan matanya bertubrukan dengan Hari, nada suara yang pada awalnya tinggi pun menjadi rendah.


"Papa tenang saja!" Evan menunduk, mengaduk makanan di piring, merasa bersalah karena menjawab pertanyaan yang sejatinya bukan ditujukan untuknya.


"Aku akan pulang tapi tidak dengan Evan."


Xena mengangguk mantap membuat Hari bahagia mendengar jawabannya. Pria itu melirik Evan yang terlihat kecewa dengan cibiran di wajah. Namun, Hari merasa malu karena ternyata Xena belum selesai berbicara.


Evan seketika tersenyum bahagia, tapi tidak dengan Hari yang langsung memasang muka masam. Pria itu bahkan membuang muka saat Evan menatap ke arahnya. Menganggap sang menantu adalah musuh yang tidak bisa dengan mudah dimaafkan.


***


Xena sampai ke rumah tak berselang lama setelah Evan sampai, bukannya bergegas mengganti baju dan bersiap untuk berangkat kerja. Pria itu malah menunggu Xena di depan pintu rumah.


"Apa kamu tidak berangkat kerja? kenapa malah berdiri di sini dan tersenyum seperti orang gila?" sarkas Xena.


"Aku hari ini tidak akan berangkat kerja," jawab Evan enteng saat sang istri dengan cuek melewatinya.


Xena pun menghentikan langkah kaki, menoleh dengan alis yang hampir menyatu menunggu Evan memberikan alasan kenapa berniat bolos kerja hari itu.


"Aku ingin mengajakmu ke peternakan Papa, aku ingin membuatnya terkesan agar dia merestui hubungan kita."


Xena semakin heran, jika berniat seperti itu lantas kenapa Evan repot-repot pulang ke rumah dan bukannya langsung ke peternakan.


"Agar kita bisa satu mobil dan kamu tidak memiliki alasan lari dariku." Evan tertawa seolah apa yang dilakukannya adalah sesuatu hal yang luar biasa.


"Bagitukah?" Xena tersenyum miring mendapati tingkah Evan yang semakin aneh.


"Bucket list ke dua, memerah susu Sena di depan Xena."


"Apa?"


_


_


_


tap jempolnya


kasih komen jangan lupa ✌