
"Kamu yakin?"
Xena mengangguk mantap. Melihat kesungguhan itu Evan tidak bisa apa-apa. Dia mengembuskan napas panjang dan kembali duduk. Dia juga memegang dahi yang mendasari terasa pening.
"Tapi, sebagai gantinya pinjamkan aku uang. Aku akan memulai segalanya sendiri," lanjut Xena.
Evan yang tadinya menunduk sontak mendongak, melihat wajah serius Xena sambil bertanya dalam benak, "Apa aku salah dengar?"
"Pinjamkan aku uang, Ev. Aku akan menggantinya nanti. Jika tidak percaya, kita bisa membuat perjanjian hitam di atas putih," lanjut Xena.
Lagi, Evan terdiam. Dia tak habis pikir. Bisa-bisanya Xena berpikir untuk berutang padanya. Padahal jika meminta pun pasti akan dia beri. Berapa pun nominalnya akan dia sanggupi.
"Kamu yakin?" tanya Evan.
"Iya, aku akan memulai segalanya sendiri. Sepertinya itu jalan terbaik untuk saat ini."
Evan hanya diam. Dia masih mencerna dan menelaah semuanya. Ketika melihat keyakinan Xena, dia pun mengangguk setuju.
"Kamu mau kan meminjamkan aku uang?" tanya Xena lagi. Harap-harap cemas, takut Evan menolak.
CSR merupakan kebijakan mutlak perusahaan. Perusahaanlah yang memutuskan siapa yang berhak dan layak menerima dan banyak yang menyayangkan keputusan Xena yang hendak mundur.
Namun, karena tekad Xena sudah bulat, perusahaan pun tidak bisa apa-apa. Mereka mengabulkan permintaan itu dan memilih lembaga yang layak menerima dan bisa menggantikan Xena.
"Jadi apa yang harus kami lakukan sekarang, Bu?" tanya Ridwan. Agak ketar-ketir Karena baru diterima bekerja beberapa hari dia sudah dipecat.
"Kalian tenang saja," sahut Xena. Dia yang sedang duduk di kursi menatap dua karyawannya secaca bergantian. "Kita akan tetap berusaha membangun yayasan ini."
"Soal dananya?" Kini Tika yang bertanya.
"Kalian jangan khawatir, walaupun dana CSR sudah dibatalkan aku akan tetap berjuang untuk membangun yayasan ini. Aku meminjam uang Evan," jelasnya tanpa sungkan.
Spontan Ridwan dan Tika tersenyum. Mereka tak habis pikir dengan isi kepala Xena.
"Bukankah mereka suami istri?" batin Tika. Begitu pun Ridwan. Namun, mereka tetap menghormati keputusan Xena dan akan membantu Xena mendirikan yayasan itu.
"Oiya, Bu. Apa saya boleh bertanya?" tutur Tika setelah matanya menangkap satu lukisan yang ada di dinding kantor. Bahkan sejak masuk tadi dia sudah penasaran dan baru sempat bertanya sekarang.
"Tanyakan saja," balas Xena.
"Lukisan itu, di mana Ibu mendapatkannya?" tanya Xena sembari melihat lukisan yang ada di dinding dekat Xena duduk.
"Itu?" Xena berdiri, dia tatap lukisannya sendiri sembari tersenyum kecil. "Ini lukisanku. Kenapa? Terlihat buruk, ya?"
"Bu Xena pelukis?" Sekarang Ridwan yang bertanya. Penuh antusiasme.
"Ya, saya memang suka melukis dan rencananya yayasan yang akan saya bangun ini akan mendanai siswa berbakat yang kurang mampu."
"Wah, Bu Xena hebat," balas Ridwan. Decak kagumnya terdengar.
"Kalau begitu apa Bu Xena juga menjualnya?" tanya Tika yang dibalas Xena dengan gelengan kepala.
"Aku tidak menjual lukisan, Tika. Bahkan lukisanku menumpuk di rumahku, di rumah papaku juga banyak," balas Xena.
"Apa Ibu tidak berniat menjualnya?" lanjut Tika. Rasa penasarannya semakin tinggi. Baginya lukisan ini bisa diuangkan jika Xena tidak keberatan.
"Menjual?" Xena terlihat berpikir. Keinginannya memang dari dulu adalah menjadi seniman yang lukisannya di beli dan dihargai. Hanya saja mengingat keterampilannya sekarang, dia ragu untuk melakukan itu. Dia pun menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan Tika.
"Entahlah, aku tidak yakin apa akan ada yang akan beli," sahutnya kemudian.
"Bu Xena, lukisan Ibu ini sangat indah, penuh makna dan saya yakin akan ada yang membelinya," tutur Tika yang dibenarkan Ridwan.
"Apa begitu?" Xena memegang dagu, lalu menatap kembali lukisannya. Itu adalah lukisan anak kecil berambut pirang dan keriting yang sedang bermain gelembung di taman.
"Iya, saya yakin jika di jual maka akan menghasilkan. Jika menghasilkan maka kita bisa mendonasikan beberapa persen untuk kebutuhan yayasan."
Ide itu spontan diberi anggukan oleh Ridwan. Dia pikir ide Tika tidak buruk. Pun Xena, dia juga berpikiran sama. Ide Tika brilian. Ketiganya saling tatap dan akhirnya Xena pun memutuskan.
"Baiklah, kita coba. Kamu persiapkan segalanya. Kita akan mencoba menjualnya," kata Xena yang dibalas Tika dan Ridwan dengan anggukan dan tatapan semangat.
Setelah mendapat persetujuan Xena, Tika pun mulai melakukan langkah-langkah untuk menjual. Dia membuat media sosial dan website untuk memasarkan lukisan-lukisan Xena.
Sementara Xena, dia bergegas menuju rumah sang ayah untuk mengumpulkan semua karyanya yang menumpuk.
_
_
_
next
like
komen