Suami Palsu - 40 Days Husband

Suami Palsu - 40 Days Husband
Bab 41


Hana dan Prawira terlihat sangat romantis malam itu, mereka bahkan memakai sweter yang sama persis, membuat Xena sesekali tersenyum sambil menyantap hidangan. Namun, sejujurnya gadis itu sedang menahan hawa dingin, Ia tak tahu akan ada acara makan di pinggir pantai malam-malam seperti ini, meski Hana sudah memintanya memakai jaket tadi, tapi dia memang tidak membawa dari rumah.


“Apa kamu kedinginan? pakai ini!"


Evan seketika berdiri, penuh perhatian melapas jaket yang dia pakai dan mengenakannya ke tubuh Xena, hingga gadis itu kaget dan langsung meletakkan alat makannya cepat-cepat.


“Tidak perlu! repot-repot.” Sedikit membentak di awal tapi Xena menurunkan nada bicaranya setelah sadar bahwa Hana dan Prawira menatap.


“Tidak repot, aku hanya tidak bisa melihat seorang wanita kedinginan,” ujar Evan dengan senyuman manis.


“Terima kasih.”


Xena menarik bagian jaket Evan yang berada di pundak, menunduk untuk mengurai rasa canggung yang mendera. Mereka pun kembali melanjutkan makan malam dengan tenang, hanya suara deburan ombak yang terdengar, sampai Hana menanyakan perasaan Xena, apakah dia senang berada di pulau Kilikili.


“Aku tidak sabar bermain di pantai besok,” jawab Xena dengan wajah ceria, sedangkan Evan tak henti-hentinya menatap wajah ayu gadis itu. Xena mengepang rambut panjangnya, dia terlihat begitu sederhana tapi tetap cantik dan anggun di mata Evan.


Meski makan malam sudah selesai sejak tadi tapi mereka masih saja berbincang, hingga Prawira melihat sang istri mengantuk, mereka pun pamit lebih lebih dulu untuk kembali ke resort.


Tak lama setelah Prawira dan Hana menjauh, Xena berdiri dari kursinya kemudian melepas jaket Evan dan memberikannya kembali dengan cara meletakkannya ke pangkuan pria itu.


“Xen!”


Langkah kaki Xena terhenti karena panggilan Evan, dia menoleh tanpa berniat mendekat ke suaminya yang nampak sudah beranjak dari kursi. Evan mendekatinya dan kembali mengenakan jaket itu ke pundaknya.


“Kenapa?” tanya Xena heran.


“Tinggalah bersamaku sebentar lagi sebelum kembali ke resort, aku dengan tulus memintanya, ada yang ingin aku bicarakan,” ucap Evan dengan binar keseriusan yang terpancar, wajah sumringah Evan tunjukkan saat Xena tanpa penolakan menganggukkan kepala.


Keduanya pun berjalan menyusuri bibir pantai tanpa arah, Xena hanya menunduk dan sesekali melirik kaki Evan yang terus saja melangkah padahal jelas pria itu berkata ingin mengajaknya berbicara tadi.


“Ev!”


“Xen!”


Xena menghela napas, menghentikan langkah dan kini berdiri berhadapan dengan Evan. Pantai itu agak terang karena pencahayaan yang cukup dari pengelola resort dan juga cahaya rembulan yang malam itu nampak bersinar terang.


“Katanya tadi kamu mau bicara sebentar? Tapi kenapa malah berjalan terus dan tidak segera bicara, lihat! kita sudah jauh berjalan,” ucap Xena sambil menunjuk tempat mereka makan tadi dengan dagunya.


“Aku sengaja, agar bisa lebih lama bersamamu.”


Xena tertawa, tapi jelas tawanya bukan tawa menghina ucapan Evan, pipinya merona merah. Ia tersipu malu.


“Hentikan rayuanmu!"


Xena yang kembali membuang napas, kini dia menghadap ke arah laut, matanya menerawang jauh begitu juga dengan Evan.


“Kalau kamu belum mau bicara, biar aku dulu yang berbicara, aku ingin bertanya satu hal kepadamu.” Tanpa menoleh, Xena mengatakan hal yang tiba-tiba membuat Evan resah.


“Tanyakan saja!”


“Di dunia ini apa yang membuatmu bahagia?”


“Mengenalmu.” Tanpa berpikir Evan bisa menjawab pertanyaan gadis itu dengan mudah, meski malah tawa cibiran yang dia dapat dari Xena.


“Bohong! Kamu bahkan berselingkuh dengan Jihan saat aku masih menjadi istrimu.”


“Maaf!” potong Evan cepat. “Sebenarnya ini lah yang ingin aku bicarakan, tapi aku takut kamu tidak akan percaya. Semua yang aku katakan meski itu jujur sepertinya kamu juga tidak akan percaya, tapi ketahuilah aku tetap ingin mengatakannya, karena aku tidak ingin kehilangan kesempatan lagi seperti aku kehilanganmu setahun yang lalu.”


Xena membeku, dia hanya bisa menyelam dalam ke mata Evan yang bersungguh-sungguh mengatakan itu lalu menganguk. “Kalau begitu katakan!”


“Jihan dan aku memang berkencan, tapi kami tidak pernah melakukan hal yang seperti kamu pikirkan. Aku yakin kamu pasti mendengar dari seseorang, kalau aku dan dia sering terlihat bersama di hotel. Aku memang beberapa kali menemaninya menemui produser karena dia takut,” ungkap Evan.


“Takut?”


“Ya, sering kali pria yang dia temui melakukan hal yang tidak sepatutnya dilakukan.”


“Kamu benar-benar melindungi dia, kamu pasti benar-benar mencintainya,” sindir Xena yang hatinya merasa terluka.


“Tidak, yang aku cintai hanya kamu.”


Pernyataan cinta Evan terdengar seperti gurauan di telinga Xena, gadis itu melepas jaket Evan dan menyerahkannya kembali. “Masih ada tiga puluh lima hari, sebaiknya tidak perlu memberi perhatian palsu lagi padaku!”


“Apa kamu akan percaya padaku kalau Devgan berusaha membuatmu benci padaku?” tanya Evan dengan suara kencang karena Xena sudah berjalan menjauh darinya. Pertanyaannya sukses membuat istrinya berhenti, tapi tidak menoleh.


“Dia ‘kan yang bercerita padamu kalau aku bersama Jihan di hotel dan bahkan tidak mencaritahu lebih dulu untuk apa? apa kamu juga tahu bahwa dia juga yang meminta Jihan berbohong hamil anakku dan datang di hari itu? di hari yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan kita?”


Berondongan pernyataan dari Evan cukup membuat Xena kaget. Gadis itu tetap mematung tanpa berniat sedikit pun untuk menoleh. Xena bingung harus mempercayai ucapan Evan atau tidak.


“Haruskah aku menunjukkan bahwa aku tidak bohong dengan cara mati di depanmu?”


Xena seketika syok dan menoleh, dia menatap heran Evan yang menjatuhkan jaket dan melepas alas kakinya, pria itu berjalan mundur ke arah pantai masih dengan tatapan tertuju pada Xena.


“Pria gila apa yang mau kamu lakukan?”


_


_


_


_


_


Terima kasih


Jangan lupa Like dan Komen


Love you ❤