Suami Palsu - 40 Days Husband

Suami Palsu - 40 Days Husband
Bab 25


Evan melihat pipi Xena merona. Gadis itu memalingkan muka, menghindari kontak mata dengannya. Satu hal yang mungkin membuat Evan jatuh hati ke Xena, istrinya itu terlihat lebih cantik saat pipinya bersemu.


“Tidak, aku tidak mau melakukannya, aku tidak bisa malam ini,” ucap Xena.


Evan pun menjadi gede rasa. Padahal melakukan yang dimaksud Xena adalah persetujuan tinggal bersamanya malam ini juga, sementara dia berpikir gadis yang masih sah menjadi istrinya itu tidak ingin bercinta dengannya malam itu.


“Aku harus minta izin ke Papa, kamu tahu ‘kan Papa sangat membencimu,” lanjut Xena.


Bagai ditabok mahkluk tak kasat mata, Evan sadar bahwa angan-angannya terlalu tinggi. Sebagai seorang pria dewasa seharusnya dia memikirkan cara membuat Xena percaya dulu kepada ketulusannya, terlebih Hari sang mertua. Namun, Evan juga tidak bisa lagi membiarkan Xena lepas dari genggamannya, hal ini merugikan menurut pemikiran Evan, karena ada Devgan yang sepertinya sudah siap merebut Xena darinya.


Biarlah Xena berpikir dia kejam dan arogan, tapi setidaknya tinggal serumah akan lebih mudah menimbulkan rasa cinta kembali.


“Lalu kapan? Keputusan mengenai dana CSR itu tidak bisa menunggu sampai lusa, jika terlalu lama aku benar-benar tidak akan memberikannya untuk mendanai galeri dan sekolah gratismu, terlebih aku juga akan mengadu pada Bu Hana bahwa kamu pembohong. Karirmu sebagai seorang seniman bahkan akan layu sebelum berkembang." Evan terus menakut-nakuti Xena.


“Besok malam, paling lambat besok malam aku akan membawa barang-barangku kembali ke sini, aku janji.” Xena berucap dengan sungguh-sungguh.


“Jadi kamu juga harus berjanji padaku, jangan mengadu pada Bu Hana tentang hubungan kita, juga berjanjilah untuk benar-benar memberikan dana CSR perusahaan tambangmu ke aku.”


“Oke, aku pria sejati tidak akan pernah ingkar janji,” jawab Evan dengan sombongnya.


“Itu artinya satu tahun yang lalu kamu bukan pria sejati karena melanggar janjimu sendiri,” cibir Xena yang membuat Evan mati kata.


-


-


“Apa?”


Hari melonjak dari kursi malasnya di teras rumah. Ia menghampiri Xena dan menyentuh kening putri semata wayangnya itu.


“Kamu nggak demam kan? untuk apa kamu kembali sama anak Demitri? Papa sama sekali tidak setuju,” tolak Hari mentah-mentah saat Xena meminta izin untuk kembali ke rumahnya dan Evan.


Xena memutar bola mata, dia bingung dengan pernyataan mencintai yang baru saja diucapkan, karena setengah dusta tapi setengahnya juga fakta.


“Dia-juga masih mencintaiku,” imbuhnya.


“Papa tidak setuju, kecuali dia datang dan meminta izin ke Papa sendiri, itu saja masih Papa pertimbangkan.”


“Tapi, Ev masih suamiku Pa, jadi sudah seharusnya aku pulang saat dia memintanya.” Xena masih berusaha agar mendapatkan izin Hari.


“Kamu dipelet ya sama Evan? Kenapa kamu tiba-tiba berubah pikiran seperti ini? tidak bisa dibiarkan! Papa harus panggil mbah Lambet untuk membuang pelet Evan.”


Xena menghela napas lelah. Ia memutuskan memberitahu Evan bahwa sang papa begitu sangat keras kepala. Xena mengirim pesan ke Evan untuk menjelaskan perihal Hari yang melarangnya kembali ke rumah mereka.


[ Aku sudah meminta izin Papa, tapi beliau tetap tidak mengizinkan. Apa kamu bisa membantu meyakinkan dengan mendatanginya? jika kamu meminta secara pribadi ke Papa, siapa tahu Papa akan percaya ]


Xena merebahkan tubuh setelah mengirim pesan itu. Hari itu sungguh melelahkan baginya, hingga tanpa sadar dia terlelap dengan ponsel yang masih berada di tangan.


_


_


_


Like


komen


scroll ke bawah