
Xena menoleh, alis matanya sudah naik ke atas menandakan bahwa dia sedang kesal. Ini namanya pencurian berencana, bisa-bisanya menempelkan bibir ke pipi seolah tidak sengaja.
“Ev, kamu sengaja ‘kan?” kesal Xena setelah pantatnya mendarat di kursi kembali. Ia mengusap pipinya di mana ada bekas ciuman Evan di sana.
“Astaga kamu pikir ciumanku itu najis? Seharusnya kamu senang karena itu termasuk bentuk ibadah, kamu mau surga nggak?”
Sudut bibir Xena terangkat ke atas karena anak demit di sebelahnya membicarakan surga, dia tak habis pikir setan juga bisa mengucapkan itu.
“Ev, sepertinya kita perlu pergi ke dokter saraf, aku takut kepalamu terbentur dan otakmu mungkin tercecer dan dipatuk ayam.” Xena melempar pandangan ke arah spion mobil, melihat pembantunya yang sudah membukakan pagar.
“Apa kamu sebelum pulang tadi mengunyah cabai? Pedas sekali mulutmu,” sindir Evan yang bertingkah seolah tidak senang dengan ucapan Xena barusan. “Lagi pula mencium pipi istri sendiri itu tidak dosa,” kelakarnya. Evan menekuk kedua tangan ke depan dada, pandangannya ke arah depan dan dia memilih untuk tidak bersuara lagi.
“Begini kalau berbuat baik ke orang yang terlalu percaya diri, kamu pasti mengira aku melakukannya karena masih memiliki rasa, iya ‘kan? hah … kamu keliru Evan Dimitri, perasanku sudah mati sejak satu tahu yang lalu,” cerocos Xena menumpahkan semua gejolak di dadanya.
“Bunuh saja aku! bunuh saja aku! kalau itu bisa membuatmu bahagia.”
Xena seketika menginjak rem mobil saat Evan tiba-tiba saja mengguncang lengannya. Dari luar, pembantu mereka keheranan dan berusaha mengamati apa yang sebenarnya terjadi kepada majikannya.
“Evan! Kita bisa celaka, kamu ya! baru saja aku berbuat baik seperti ini kamu sudah mulai nglunjak.” Xena melepas sabuk pengaman yang melekat pada tubuhnya, tangannya sudah menarik kunci pintu mobil tapi dia urung melakukannya karena ucapan Evan.
“Hari ini pengumuman tentang dana CSR itu keluar.”
“Kamu pikir untuk apa aku babak belur tapi tetap ingin pergi ke kantor,” ucap Evan. “ini demi siapa?”
Pria itu sengaja membuat nada suaranya sedikit turun agar Xena merasa tak enak hati.
Benar saja, gadis yang selalu memikirkan kepentingan orang lain di atas kepentingan dirinya sendiri itu pun luluh. Perlahan tangan kanannya dia letakkan di atas kemudi. Tanpa bicara, Xena membawa mobil Evan menuju kantor pria itu.
Sepanjang perjalanan tidak ada suara yang terdengar, Evan terus menatap keluar jendela seolah ingin menunjukkan bahwa dia sedang merajuk. Sementara Xena terus saja berdoa di dalam hati agar pria di sebelahnya itu tidak berubah pikiran.
Untuk sedikit mencairkan suasana, Xena memberanikan diri mengajak Evan berbincang. Dana CSR yang sudah di depan mata itu tidak mungkin dia biarkan terbang begitu saja, hanya tinggal sejengkal, sedikit lagi.
“Ev, jika lutut dan sikumu masih sakit lebih baik kita ke dokter.” Xena melirik Evan, hatinya sedikit lega mendapati pria itu mau menoleh ke arahnya meski tanpa merespon ucapannya.
“Kalau masih sakit, pulang kerja nanti aku akan menjemputmu lagi.”
Evan tersenyum dalam hati, kesempatan yang datang kepadanya tidak mungkin disia-siakan karena tidak ada yang tahu mungkinkah dia akan datang dua kali.
“Kamu tidak ada kerjaan ‘kan? temani aku bekerja hari ini.” Permintaan Evan terdengar begitu mengerikan.
🌷 see you next chapter 🌷