Suami Palsu - 40 Days Husband

Suami Palsu - 40 Days Husband
Bab 28


Belum juga mata Evan membuka sempurna pagi itu, tapi Xena sudah menyodorkan tablet kepadanya. Dengan muka bantal dan nyawa yang belum terkumpul, Evan menatap layar benda elektronik berbentuk persegi itu. Alis Evan menjadi bergelombang melihat sebuah dokumen terpampang di sana.


"Apa ini?" tanya Evan heran.


"Persyaratan untukmu, aku tidak ingin kamu menyentuhku, apa lagi mengurusi privasiku, kita hanya suami istri di rumah dan orang asing setelah keluar dari pintu," ulas Xena.


"Hah.... " Evan membuang muka, bukannya mendapat perlakuan menyenangkan di hari pertama mereka menjadi sepasang suami istri kembali, dia malah mendapat beberapa persyaratan aneh dari Xena.


"Aku tidak mau!"


Evan melempar tablet itu ke ranjang lantas turun, entah apa yang ada di dalam pikiran Xena, dia menarik bagian belakang pinggang celana Evan hingga tubuh pria yang masih dalam mode belum melek sempurna itu terhuyung, dan bukannya menahan tubuh Evan, Xena malah menghindar dan membuat pria itu jatuh terjengkang.


"Xena!" pekik Evan merasakan sakit di bagian pantatnya yang berciuman dengan lantai kamar.


"Minta maaf!" ucap Xena dengan raut muka bersalah.


***


Evan memasang muka masam saat sarapan, tapi ada satu hal yang aneh menurut Xena. Pria di hadapannya ini tidak mengenakan setelan kerja dan malah memakai kaus dan celana pendek.


"Apa kamu tidak bekerja?" Xena mencoba membuka obrolan, dia merasa berdosa membuat Evan terjengkang tadi.


Evan baru saja akan membuka mulut untuk menjawab tapi Xena lebih dulu berbicara lagi. "Aku akan pergi ke luar hari ini, mungkin aku akan pulang malam."


Xena sudah berjanji pada diri sendiri untuk menghindari Evan, dia ingin 40 hari berlalu dengan cepat tanpa menjalin kedekatan, bukankah jika Evan bekerja dan pulang malam mereka tidak akan bisa intens menjalin komunikasi. Xena memutuskan melindungi diri sendiri, tidak ingin kembali sakit hati dan terluka karena cinta butanya ke anak Dimitri.


"40 hari itu dihitung dari hari ini, iya 'kan?" Xena tersenyum dan menggigit roti isi miliknya, ia merasa sedikit aneh karena Evan memilih diam setelah dia mengungkapkan pikirannya.


"Kamu harus pulang sebelum jam 3 sore, jangan berharap kamu bisa dengan seenaknya mengorupsi waktu kebersamaan kita. Tidak semudah itu Sena." Karena kesal Evan bahkan sengaja memanggil istrinya dengan nama sapi milik sang mertua.


Xena membeku, dia memilih menganggukkan kepala karena masih bersalah dengan kelakuannya tadi pagi. Ia semakin merasa bersalah saat melihat Evan berdiri dari kursi dan berjalan pergi dengan memegangi pingangnya, pria itu bahkan berjalan bak baru saja selesai di sunat.


"Apa aku membuatnya cidera?" gumam Xena.


_


_


_


"Ev, apa pantatmu sakit? apa perlu ke dokter?" tanya Xena ragu. Dia sengaja menemui Evan di ruang kerja pria itu sebelum pergi.


"Tidak usah memerdulikan aku, pergi saja!" tolak Evan yang sibuk dengan buku di tangannya, memunggungi Xena dan tak berniat melihat wajah gadis itu.


Hal ini jelas membuat Xena tak enak hati, gadis itu pun mendekat dan mencoba bertanya lagi. "Apa memar? apa butuh diolesi salep nyeri otot?"


"Tidak perlu!" jawab Evan tegas. Namun, pria itu tiba-tiba membeliakkan matanya saat merasakan sesuatu yang aneh. Ia menoleh dan terkejut mendapati Xena sedang menarik kolornya dari belakang untuk melongok ke dalam.


"Apa yang kamu lakukan?" tanyanya bego.


"Memeriksa pinggangmu," jawab Xena dengan enteng dibarengi dengan muka polos tanpa dosa.


Tangan Xena yang mau tidak mau bersentuhan dengan kulitnya membuat jantung Evan berdetak tak karuan. Alisnya mengernyit dengan kening berkerut. Titanic miliknya seoalah sedang meniup peluit.


_


_


_


_


pritttt prittttttt


like


komen


kalau ga kutilang 🤣