Suami Palsu - 40 Days Husband

Suami Palsu - 40 Days Husband
Bab 57


“Ev, bisa tidak aku pergi dari sini tanpa menyelesaikan pelatihan itu.”


Merayu-ternyata ada niat terselubung di otak Xena, meski sejujurnya dia juga nyaman bisa memeluk Evan seperti ini.


“Bukankah kamu bilang kita pacaran, seharusnya kamu memberikan apa yang aku mau, lagi pula permintaanku ini tidak sulit,” lanjut Xena yang sebenarnya malas jika harus mendengar dirinya digunjing lagi.


Hening, Evan sengaja tidak menjawab pertanyaan Xena agar gadis itu terus memeluknya seperti saat ini. Mari saling memanfaatkan jika itu memang maumu, mungkin begitu yang ada di pikiran putra Dimitri itu sekarang.


“Hanya sampai besok siang, lagi pula seharusnya kamu mengambil orang untuk mengikuti pelatihan itu jika memang merasa tidak mampu.”


Xena menjauhkan badan hampir melapas pelukan itu tapi Evan malah melingkarkan dan mengaitkan tangannya di belakang pinggang gadis itu erat.


“Lepaskan!” pinta Xena dengan muka masam.


Evan menahan senyum, kali ini dia ingin mencoba mengambil kesempatan yang entah kapan akan dia dapatkan lagi, bisa sedekat ini dengan Xena.


“Aku akan membiarkanmu tidak melanjutkan pelatihan, tapi lakukan sesuatu dulu.”


“Melakukan apa?” tanya Xena merasa ada bau-bau mencurigakan yang akan Evan minta kepadanya.


Benar saja, Evan memintanya memasang foto mereka dengan tujuan apa lagi, kalau bukan agar Devgan melihatnya.


Namun, ternyata bukan hanya Devgan. Dimitri dan Hari juga melihat apa yang Xena tampilkan di profil pada aplikasi berbalas pesan miliknya. Dimitri jelas merasa senang, bahkan pikirannya sudah mengkhayal bahwa sebentar lagi dia akan mendapat cucu yang lucu nan menggemaskan, tapi tidak dengan Hari. Bagaimanapun dia masih tidak bisa memaafkan Evan. Ia yang saat itu sedang berada di rumah saudara laki-lakinya pun dibuat geram.


“Kenapa mukamu seperti itu?” tanya Hantoro melihat Hari meremas ponsel. “Apa yang membuatmu garam?”


Hari melempar ponsel lantas bersedekap dada, “Aku benci karena Xena sepertinya mulai terjerat rayuan Evan.”


“Kenapa kamu banci? Yang genting putrimu itu bahagia,” ucap Hantoro santai.


“Hiss … “ Hari kesal dengan ucapan Hantoro yang blepotan, tangannya terkepal ingin menjitak kepala saudaranya itu.


_


_


_


_


“Meski tidak ikut pelatihan kamu harus makan.” Evan bangkit dari atas ranjang, dia sudah berjalan beberapa langkah tapi Xena masih saja tak beranjak. “Orang-orang pasti sudah selesai makan, ayo keluar!”


Xena berniat menolak keinginan Evan, tapi tiba-tiba saja perutnya berdendang. Ia bahkan sampai malu karena suara keroncongan terdengar sangat nyaring bahkan membuat pria yang berada satu kamar dengannya itu tertawa. Akhirnya Xena pun bergerak, ia berjalan cepat keluar kamar mendahului Evan karena terlalu malu.


***


Benar apa yang dikatakan Evan, resto hotel terlihat lengang, Xena pun mulai mengambil piring dan mencoba melihat menu hidangan yang disajikan. Evan juga melakukan hal yang sama, dia berdiri tepat di belakang Xena yang sepertinya tengah kelaparan. Gadis itu terlihat mengambil makanan dengan porsi besar seolah tak peduli dengan berat badan.


Xena duduk di meja makan yang tersedia, bergegas meraih sendok dan garpu di meja saat Evan meletakkan piring dan menggeser kursi tepat di depannya.


“Ev, masih banyak kursi kosong.” Xena memutar kepala, mencoba melihat situasi.


“Tidak ada orang,” jawab Evan yang tak ingin berlama-lama berbincang karena dia juga lapar.


Pada akhirnya mereka menikmati hidangan, hingga suara yang begitu Xena kenal menyapa. Gadis itu mendelik dan bahkan tersedak potongan daging rendang.


“Xena … Evan kalian berdua kenapa bisa berdua di sini?” tanya Prawira. Tak lama terlihat Hana mendekat dan Xena semakin mendelik.


“Mungkinkah Bu Hana melihat foto yang aku pasang?”


_


_


_


_


like


komen