
Hari ini Xena melakukan apa yang seharusnya dia lakukan. Dia menemui beberapa pelamar di sebuah restoran dan menyeleksi sendiri calon pegawainya. Dari sekian banyak pelamar, Xena akhirnya memilih dua karyawan yang dianggap memenuhi standar dan kriteria menurutnya. Ridwan dan Tika nama panggilan dua orang staff yang akan menemani Xena bekerja.
"Selamat bergabung. Aku harap kita bisa bekerja sama dengan baik," ucap Xena sambil menjabat tangan Ridwan dan Tika secara bergantian. Ucapan Xena yang disambut dua orang itu dengan senyum lega dan ucapan terima kasih. Mereka bersyukur, dari sekian banyak pelamar mereka lah yang akhirnya terpilih.
"Bisa bekerja mulai hari ini, 'kan?" tanya Xena lagi. Terdengar kejam memang, tapi dia merasa tidak punya waktu untuk berleha-leha.
"Bisa, Bu. Bisa," jawab Ridwan dan Tika serentak. Sudah mirip kembar siam. Tak ayal, tingkah kompak itu memancing senyum di bibir Xena.
"Ya sudah, ikut saya. Kita akan melihat gedung yang rencananya akan kita pakai sebagai kantor."
Ridwan dan Tika lagi-lagi kompak mengangguk. Mereka pun keluar dari restoran dan mengikuti ke mana Xena pergi.
***
Beberapa menit kemudian mereka tiba di tempat tujuan. Ketiganya berdiri di depan sebuah bangunan yang Xena sewa untuk kantor tempatnya bekerja sementara. Bangunan itu jauh dari kata besar dan tinggi. Keterkejutan Tika dan Ridwan pun berlanjut saat memasuki gedung tersebut. Ruang di sana tak besar sama sekali. Hanya ada satu meja besar yang disekat menjadi beberapa bagian. Mirip meja kerja pak polisi di drama Korea.
Namun, meski begitu Xena merasa ini awal yang baik untuk memulai apa yang diinginkannya.
"Ini ruang kerja kita. Tidak apa-apa kan jika seperti ini dulu?" tutur Xena sembari menatap dua karyawannya.
"Iya, Bu tidak apa-apa. Kami tidak keberatan," sahut Ridwan. Tika pun mengiakan dengan anggukan kepala.
Senyum Xena kembali hadir. Dia berjalan mengelilingi ruang itu sembari melihat keadaan ruang yang masih polos. Tak ada perabot apa pun selain meja dan kursi di sana.
Saat sedang asyik berkeliling tiba-tiba ponsel milik Xena yang berada di dalam tas bergetar. Xena bergegas merogohnya dan senyuman kembali hadir, saat dia tahu siapa yang melakukan panggilan itu.
"Evan?" gumamnya pelan.
Bak bunga yang baru mekar, bibir Xena yang ranum merekah indah. Belum lagi pipinya yang memerah bak diberi blush-on. Penampakan itu membuat Ridwan dan Tika terheran-heran.
"Ya, Ev," ucap Xena sesaat telepon baru saja menyentuh telinga. Dia menjauh dari dua karyawan barunya.
"Kamu di mana? Aku jemput, ya? Aku ingin mengajakmu makan siang," ucap Evan yang ada di seberang telepon. Pria itu terdengar bersemangat. Namun, justru itu yang membuat senyum Xena sirna. Bukan tak senang, tidak juga marah. Hanya saja Xena tak tega menolak jika Evan sudah bersemangat seperti itu. Namun, demi tujuannya dia pun terpaksa mengutarakan apa rencananya hari ini.
"Kami?" sela Evan.
"Iya, aku sekarang sedang bersama dua staff baruku. Hari itu aku sudah mengatakannya bukan? Dan mereka sedang ada bersamaku. Rencananya kami akan membeli perabot sebentar lagi," jelas Xena dengan sedikit tak enak hati.
''Tapi, Xen—"
Belum juga selesai perkataan Evan, Xena sudah lebih dulu menutup telepon. Dia merasa bersalah telah melakukan itu, hanya saja tidak bisa berbuat apa-apa selain menolak. Tidak ada waktu untuk bersantai sekarang, terlebih lagi jika dia bertemu Evan, dia takut gosip miring akan kembali menyebar dan menyudutkan sang suami. Jelas, Xena tak ingin itu terjadi.
"Maafkan aku, Ev. Aku akan menebusnya nanti," gumam Xena di dalam hati.
Merekahkan senyumannya, Xena pun kembali bersikap biasa saja di hadapan Ridwan dan Tika. Dia lantas mengajak dua karyawannya ke sebuah toko perabot rumah tangga, dan perlengkapan elektronik yang tak jauh dari kantor. Rencananya dia akan memilih perabot yang dibutuhkan untuk kantornya.
***
Sesuai keinginannya, Xena pun memilih beberapa perabot di sana, mulai dari printer, laptop, dispenser kulkas dan lain-lain. Tentulah dengan memilih harga yang agak miring. Meski menawar bertentangan dengan hati nurani, tapi Xena tetap melakukannya. Dia menelan itu semua mentah-mentah. Tabungannya hampir menipis karena ini.
Tanpa Xena duga, ternyata ada sepasang mata yang memperhatikan sedari tadi. Evan nampak berdiri di pojok toko sembari bersedekap, melihat istrinya yang begitu semangat melakukan tawar menawar. Melihat itu pria itu tak bisa diam saja, dia dekati Xena dan langsung menyambar pinggangnya. Xena pun terperanjat. Dia hampir melayangkan tamparan karena kaget.
_
_
_
_
Crazy UP hari ini
Jangan lompati Like ya. Makasih