
“Benarkah?” tanya Hana.
Xena sedikit tersentak, dia tidak bisa membaca perasaan dan pandangan Hana ke dirinya. Sebenarnya Hana kaget, tapi hal ini ternyata bukan menjadi masalah untuk wanita itu.
“Tapi kami sebentar lagi akan bercerai.” Xena menekuk bibir setelah mengucapkan kalimat itu, seolah hal itu seharusnya tidak meluncur dari mulutnya.
“Kenapa? kenapa bercerai? Apa ada masalah?” Hana meraih tangan Xena yang berada di atas meja, membuat gadis itu tersentak karena wanita itu ternyata masih bersikap seperti biasa.
Sebuah anggukan kepala Xena berikan sebagai jawaban, dia tersenyum tanpa ingin memperjelas ucapannya tadi.
“Ah … sepertinya ide suamiku tadi malam cukup bagus, dia bercerita bahwa Evan juga hampir bercerai dengan istrinya."
“Apa?”
Xena kaget setengah mati, ketika kata cerai lolos dari bibirnya, dia bersikap biasa saja. Namun, entah kenapa saat Evan yang mengatakan dia akan bercerai, perasaan Xena menjadi tidak enak.
“Maksud Bu Hana?”
“Jadi suamiku memiliki ide ingin menjodohkan kalian berdua," jawab Hana lugas.
Xena cengo, dia bahkan tertawa bego. “Menjodohkan? kami?”
“Hem …. “ Hana nampak berdiri dan menepuk bagian belakang roknya, dia meregangkan punggung dan lantas menatap semringah Xena. “Apa kamu ada acara tiga hari ke depan?”
Xena masih sama, hanya menggeleng dan bersikap aneh sejak tadi. Ia pun seketika kaget saat Hana meraih tangannya dan memintanya bangun dari kursi.
“Ayo kita pergi berbalanja! Sore nanti kita terbang ke pulau Kilikili.”
“Hah … apa?” Xena kelabakan, dia bahkan tidak bisa melawan saat Hana menyeretnya menuju pintu keluar. Wanita itu memanggil sopir dan meminta sang pembantu mengambilkan tas di dalam.
“Kita berbelanja, setelah itu kita tamasya.” Hana tersenyum lebar dan Xena semakin terlihat kebingungan.
***
BRAK
Xena masuk ke dalam kamar dengan dada yang bergemuruh, dia mendapati mobil Evan di luar dan kini tepat di depan matanya pria itu sedang sibuk memasukkan pakaian ke dalam koper.
“Xen!”
“Evan!”
“Xena!”
Xena mendengkus kesal, dia tutup koper Evan dan menumpukan tangan di atasnya. Gadis itu semakin kesal saat Evan malah menyodorkan boxer ke depan mukanya.
“Aku ingin memasukkan ini, ayo buka!” perintah Evan.
“Ev, kamu tidak sedang berkemas untuk pergi ke pulau Kilikili bersama pak Prawira dan Bu Hana ‘kan?”
“Tet … tot, coba lagi.” Evan malah menggoda, mukanya benar-benar sangat menjengkelkan bagi Xena.
“Ev, aku sudah jujur ke bu Hana dan dia berkata bahwa pak Prawira ingin menjodohkan kita,” sewot Xena.
“Itu salahmu sendiri ‘kan? kenapa kamu tidak jujur bahwa suamimu bernama Evan Dimitri?” Evan mendekatkan mukanya ke Xena, dan gadis itu langsung meraup dan memalingkannya ke kanan.
“Kamu benar-benar licik,” sinis Xena.
Namun, meski kesal Xena tetap masuk ke dalam kamar ganti dan mengambil koper miliknya. Evan diam-diam menggeser badan lalu menjulurkan kepala, pria itu tertawa melihat gadis itu mulai berkemas juga.
“Aku akan menghubungi temanku yang seorang penulis novel ternama, sepertinya cerita kita sangat menarik untuk dibukukan, bagaimana jika judulnya ‘Dijodohkan dengan Suamiku’ bukankah itu menarik Xen?”
“Menarik kepalamu!” gerutu Xena.
Dia tidak bisa membayangkan bagaimana Evan akan menindasnya di depan Prawira dan Hana nanti, liburan yang seharusnya masih beberapa hari lagi kenapa harus jadi hari ini?
-
-
Jangan lupa ritualnya geng like, komen, hadiah
🤗🤗🤗