Suami Palsu - 40 Days Husband

Suami Palsu - 40 Days Husband
Bab 61


Dimitri memasang muka masam saat menantunya malah mengatakan hal konyol itu. Padahal dia berharap Xena sudah hamil, mengandung cucunya sang penerus kerajaan Dimitri.


“Papa sudah tua Xen, jadi Papa harap kalian bisa memberikan cucu sebelum Papa meninggal.”


Ucapan sang mertua membuat Xena merasa tak enak hati, dia lirik Evan yang hanya diam saja sejak tadi.


“Ya sudah Papa nikmati saja waktu bersama Evan, aku mau ke atas,” ucap Xena sambil berlalu pergi, berniat baik memberikan ruang untuk sang mertua dan suaminya berbincang.


“Apa tidak ada perkembangan?” bisik Dimitri meski punggung menantunya sudah tak terlihat.


“Entah Pa, susah sekali meluluhkan hatinya.” Terlihat sangat putus asa, Dimitri tiba-tiba saja mengulurkan sebuah kartu nama ke sang putra.


“Apa ini?” kening Evan mengernyit, membaca sebuah nama yang tertera di sana membuatnya heran. “Makcomblang?”


“Iya, dia terkenal dan spesialis menjodohkan orang-orang, siapa tahu dia bisa mencomblangkanmu dengan Xena, ya meski terdengarnya sangat kurang masuk akal, mana ada mencomblangkan suami dan istri tapi tak masalah, kamu harus mencobanya. Demi Ev, demi Papa agar segera memiliki cucu. Kamu harus menunjukkan bahwa dirimu layak.”


“Layak apa?” Evan semakin heran dengan omongan Dimitri.


“Layak disebut pria.” Dimitri menundukkan kepala, matanya menatap sesuatu yang berada di antara dua paha putranya.


“Heh … Papa pikir aku tidak mampu? Itu hanya karena Xena memang tidak mau disentuh, Ah …. “ Evan seketika menjadi kesal, dia remas kartu nama yang Dimitri berikan dan meninggalkan pria itu masuk ke dalam.


“Kalian benar-benar, apa tidak bisa mempersilahkan Papa untuk duduk dulu?” gerutu Dimitri.


_


_


_


Masuk ke dalam kamar, Evan tidak melihat Xena berada di sana. Berpikir bahwa istrinya itu pasti sedang berada di kamar tamu yang sudah disulap menjadi mini studio untuk melukis, dia buru-buru melepas baju. Apa lagi yang ada di otak Evan selain meminta Xena untuk melanjutkan melukis dirinya.


Mengikatkan tali jubah mandi sambil terburu-buru menuju tempat yang diyakini Xena tengah berada, Dimitri yang ingin berpamitan pulang karena merasa tidak ada gunanya berada di sana, tanpa sengaja memergoki tingkah putranya. Ia geleng-geleng kepala, tapi dalam hati berdoa semoga Evan segera bisa menaklukkan hati Xena.


Benar dugaan Evan bahwa Xena berada di ruangan itu. Wanita cantik itu menoleh sambil mengikatkan celemek untuk menghalau cipratan cat air yang mungkin bisa mengenai bajunya. Xena terkejut dan tak percaya melihat penampilan Evan.


“Karena hari ini aku meliburkan diri, aku ingin kamu melanjutkan melukis diriku.” Tanpa menunggu Xena menyetujui hal itu, Evan melepas jubah mandinya, menampilkan tubuh seksi yang membuat silau mata Xena.


“Ev, kamu benar-benar! Aku sedang tidak mood melukismu,” tolak Xena, tapi dia lirik juga Evan yang nampak- sempurna.


“Agar aku tidak mengganggumu terus menerus maka kerjakan saja, selesaikan! Lebih cepat lebih baik.” Evan duduk di kursi lalu berpose sama persis seperti dulu, membuat Xena mau tak mau mengambil kanvas yang sudah terlukis gambar Evan sebelumnya.


Tanpa banyak bicara dia mulai menyapukan kuas, tak ada lagi rasa canggung yang mendera dadanya. Ia hanya ingin permintaan Evan itu cepat selesai agar pria itu tidak mengganggunya lagi dengan pesonanya. Namun, saat sedang sibuk melukis terdengar pintu ruangan itu diketuk. Mereka pun saling pandang dan Xena memilih bergegas membukakan pintu, sedangkan Evan berdiri, menyambar lalu mengenakan kembali jubah mandi.


“Permisi Non, apa tuan Evan di sini? ada yang mencari di luar.”


Xena menoleh Evan, dia yakin suaminya itu pasti mendengar apa yang pembantunya ucapkan.


“Siapa yang mencariku?” tanya Evan sambil melebarkan daun pintu.


“Pak Prawira.”


“Apa?” Xena terkejut sampai suaranya seperti orang yang berteriak. “Ke-ke-kenapa dia ke sini?” menoleh sang suami penuh kecurigaan, Xena menganggap Evan pasti dengan sengaja berniat membongkar hubungan mereka.


“Mana aku tahu? dia juga tidak memberitahuku, lagi pula dari mana dia tahu kalau aku berada di rumah? Padahal aku kemarin berkata masih akan menginap di hotel itu.”


“Maaf,” sela Yayuk si pembantu. “Dia sepertinya sedang bersepeda dan mampir, dia tidak sendiri. Dia datang bersama wanita, mungkin istrinya.”


“Tamat riwayatku Ev.” Xena menyandarkan punggungnya ke tembok, wajahnya pun berubah pucat.


_


_


_


Like


Komen