
Evan diam, dia mencoba berpikir dan kesempatan itu dipakai Xena untuk merayunya lebih lagi. Dia belai belai punggung tangan Evan.
“Tolong mngerti aku, Ev. Jangan marah lagi! Aku begini bukan berarti tidak menghargai kamu. Aku begini karena aku ingin. Tolong hargai keputusanku ini. Mengerti aku, ya. Lagi pun harusnya kamu bangga punya istri seperti aku. Aku cerdas, mandiri, dan yang terpenting itu aku cantik dan wanita sempurna ini hanya mencintai kamu seorang."
Mendengar itu wajah masam Evan berubah drastis. Terlihat samar, sudut ujung bibirnya tertarik. Tak pelak kesempatan itu pun digunakan Xena. Dia tarik tangan Evan.
"Kita turun, yuk! Kita makan, aku lapar. Apa kamu tega melihat istri kamu yang cantik jelita dan memesona ini kelaparan sepanjang malam?" rayu Xena lagi. Wajah dia buat sememelas mungkin.
Tak ayal, Evan pun pasrah. Dia tak bisa menolak pesona Xena jika sudah seperti itu. Lagi pun perutnya juga tidak bisa diajak bersabar.
Dengan anggukan pelan, Evan pun menyetujui. Dia mengikuti langkah Xena yang terus saja menggandeng tangannya. Keduanya saling gandeng hingga mereka tiba meja makan.
Di sana Xena begitu telaten menyiapkan segala kebutuhan dan melayani Evan, dari nasi, lauk, sayur hingga air putih. Melihat itu kemarahan Evan sedikit mereda. Xena tak mengabaikan kewajiban sebagai istri. Sekarang dia justru merasa bersalah karena secara tidak langsung menghalangi langkah Xena untuk mendapatkan kepuasan diri.
"Soal lukisan, apa lukisanku juga akan kamu jual?" tanya Evan. Dia yang baru selesai menyantap makanan menatap istrinya yang juga sudah selesai. Mereka pun saling pandang.
"Tentu saja tidak, itu mahakarya, Ev. Jadi tidak akan aku jual pada siapa pun, karena aku berniat akan memberikannya padamu sebagai hadiah."
"Sungguh?" Senyum Evan terlihat jelas.
"Iya, aku serius. Lagian apa kamu pikir aku rela berbagi pemandangan paling indah sedunia kepada orang lain?" balas Xena. Matanya mengedip genit dan membuat Evan tak bisa untuk tidak tersenyum, kemarahannya seharian ini sirna begitu saja.
Setelah makan malam keduanya pun kembali ke kamar. Mereka sudah berbaikan dan sekarang tidur dengan posisi berpelukan. Xena yang kelelahan seharian ini tertidur dengan pulas.
Namun, berbeda dengan Evan. Sekeras apa pun lelaki itu mencoba tidur dia tetap tak bisa. Di saat begitu Evan jadi teringat permintaan Xena yang memintanya membeli satu lukisan.
"Apa aku beli saja satu lukisan?" gumam Evan.
Sialnya ternyata jauh dari keinginan, tadinya dia hanya ingin membeli satu sebagai bentuk penghargaan, tapi justru memborong semua lukisan yang tersisa di sana.
"Aku yakin dia pasti terharu," gumam Evan dengan senyum jemawa. Dia pikir Xena akan bahagia karena lukisannya telah habis terjual.
*
Pagi harinya. Xena seperti biasa akan melayani Evan yang akan berangkat kerja. Dari kemeja, jas hingga sepatu semua Xena lakukan.
"Kenapa? Apa ada kabar baik?" tanya Xena yang masih telaten melilitkan dasi di leher Evan. Dia heran saja sejak tadi Evan tak berhenti tersenyum. Seolah tengah bangga karena telah melakukan tugas negara yang paling mulia.
"Tidak ada. Aku hanya sedang bahagia saja," balas Evan. Setelahnya dia pun pergi meninggalkan Xena yang masih kebingungan.
Mengenai keanehan Evan, Xena pun memilih melupakan. Bahkan dia pikir itu bukan hal yang aneh, justru bagus jika Evan dalam suasana hati bahagia. Jika bisa, dia ingin Evan mengalami itu setiap hari agar berhenti marah-marah padanya.
Namun, setibanya di kantor, Xena mematung mendengarkan penjelasan Ridwan. Entah ketiban durian atau bukan, tapi Xena merasakan jantungnya akan copot. Karyawannya itu mengatakan kalau semua lukisan yang dia jual di website sudah ludes, habis tak bersisa.
"Kamu serius?" tanya Xena yang segera diangguki oleh Tika dan Ridwan.
Merasa tidak percaya Xena pun bergegas menatap layar laptop. Matanya membulat begitu saja ketika melihat semua sudah terjual. Senyumnya merekah, tapi itu semua tak bertahan lama. Ekspresi Xena berubah kala melihat dua baris nama yang tertera sebagai pembeli. Dua baris yang ternyata adalah orang yang dikenalnya, Evan dan Devgan.
"Gila, ternyata mereka yang memborong semuanya," gumam Xena. Tangannya mengepalkan erat. Rahangnya juga mengetat dia berdiri lalu memasang lagi tas yang sempat dia lepas.
"Ibu mau ke mana?" tanya Tika.
"Saya ada perlu. Kalian di sini saja, jangan lakukan apa-apa," balas Xena tanpa menoleh. Kini langkahnya justru begitu lebar meninggalkan kantor. Dia berencana menemui dua manusia itu dan meminta penjelasan. Apa maksud dari semua ini?